Que Sera Sera

Selamat Tahun Baru!!
(tiup terompet, nyalain petasan, lempar ke jalanan)

Gak terasa udah Januari 2013 lagi. Gak kerasa juga udah “nganggur” sebulan. Baru kerja lagi Februari 2013. Dan resmi selama 2 bulan ini saya ngendon di kampung halaman. Gak apa dong, hitung-hitung istirahat. Bosan? Iya sih. Gak produktif? Gak juga. Organizing rencana masa depan yang satu (karir) dan yang satunya lagi (itu lho, itu) lumayan menyita waktu, sampai bolak-balik Cms-Bdg-Jkt (gaya)…

Kalau lagi di rumah, sehari-hari ya udah kayak ibu RT aja: bantu nyuci pakaian-jemur-nyetrika, bersih-bersih, masak (statusnya tetap bantu karena leadernya tetep si mamah ^_^). Tapi ada satu aktivitas yang maha menyenangkan: mengasuh kucing. Yes, I’m truly a cat lover. And here I proudly present:

image

Sera, our new cat

Itu kucing betina baru peliharaan keluarga. Katanya kucing Persia. Dan dia saya beri nama…Sera. Nama lengkapnya Que Sera Sera. Versi Englishnya, Whatever Will Be Will Be. Versi Arabnya, Kun Fayakuun. Versi Indonesianya, Apa Yang Terjadi Terjadilah (yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya #ehh). Tapi tetep, Sera jadi pilihan karena panggilan Will Be terlalu gak lazim, Kun terlalu macho (mengingatkan pada Sergio Kun Aguero), dan nama versi Indonesia bisa membuatnya disangka sebagai kupu-kupu malam (bahaya kalau ada kucing jantan). No, Sera is the prettiest one…

Sera mulai hadir di rumah kami pada pertengahan November 2012 lalu. Konon usianya waktu itu baru menjelang 3 bulan. Jadi sekarang paling usianya 4-5 bulan. Kalau dari kalkulasi kesetaraan umur kucing dan manusia yang katanya setahun pertama kucing = 20 tahun umur manusia, maka si Sera ini setara dengan anak umur 6-8 tahun. Hoo, pantesan dia masih suka main, suka penasaran. Dan itu juga yang jadi alasan kami mengusir kucing jantan yang ngintip dia waktu itu. Sera…masih di bawah umur. Dia masih di bawah Komnas Perlindungan Anak. Kalau sampai dia disakiti, Kak Seto harus turun tangan!

image

Asia's next top model

image

Hobi: nyemplung di ember

Bicara soal kucing, Sera bukan kucing perdana keluarga kami. Dari dulu silih berganti kucing-kucing berseliweran di sini. Tapi riwayat kucing bule mampir ke sini baru dimulai tahun 2000. Waktu itu ada kucing lucu berbulu lebat warna putih-cokelat hadir di sini. Saya kasih dia nama Mimi (padahal dia jantan). Alasannya, dia cuma nengok kalau dipanggil “mimi-mimi” dan gak nengok kalau dipanggil “pus” atau “emeng”. Cuma waktu itu ada dualisme kepemimpinan. Dari saya, ingin menamainya Mimi. Tapi dari pihak kakek keukeuh menamainya Dion (diambil dari tokoh sinetron Tersayang yang waktu itu lagi booming -_-“). Sayang, nasib kucing lucu ini berakhir tragis. Dia ditemukan tewas tenggelam di sumur tetangga…T_T

Kucing bule kedua yang kami asuh konon keturunan Belgia. Warna kucing jantan ini belang hitam putih. Ada coret hitam di dagunya, seolah-olah dia punya janggut. Saya menamainya Kimi, karena waktu itu saya yang masih anak SMP ababil ngefans sama rookie Formula 1, Kimi Raikonen. Tapi pada prakteknya, saya memanggilnya Kimimaki (tokoh antagonis di Ninja Hattori). Dan lagi-lagi ada dualisme kepemimpinan. Kakek saya keukeuh memanggilnya Belgi mengingat si kucing punya darah Belgia. Nasib kucing ini juga berakhir tragis. Dia hilang entah kemana. Mungkin tersesat, atau diculik…T_T

Kucing bule ketiga yang datang menjadi yang terlama kami pelihara. Meski gak jelas darah bulenya darimana, tapi dia paling setia. Kali ini kakak saya yang memberi nama: Botsky. Panggilannya Oski. Dia pemakan segala, dari ikan, tempe, sampai rengginang. Dia tumbuh bersama kami dari kucing kecil yang lucu hingga menjadi kucing dewasa yang dingin. Dia menjelma jadi pangeran kucing di kampung kami. Entah sudah berapa ekor kucing betina yang dia hamili. Mungkin sekarang keturunannya ada di mana-mana. Si Oski mati karena sakit, sewaktu saya kuliah…T_T

image

Ini bukan foto kucing saya tapi Kimi dan Oski mirip sama ini

Dan kucing bule keempat yang singgah di rumah kami adalah kucing jantan belang kuning keturunan Somalia. Kakak kedua saya yang kreatif+aneh memberinya nama kucing terpanjang dalam sejarah kami: Wahyu Suparno Putro. Yap, diambil dari nama bule muslim yang suka nongol di tv. Kami sekeluarga sepakat dengan nama itu karena tiap kali dipanggil Wahyu, kucing ini selalu merespon dengan eongan keras (asumsi kami, dia suka. Atau bete ya?). Si Wahyu menjadi kucing tersingkat yang kami pelihara. Ceritanya pada suatu malam yang gelap dan dingin, uak saya yang lagi mondar-mandir tiba-tiba digigit betisnya sama si Wahyu sampai berdarah-darah. Karena kucing ini disinyalir jadi tambah galak dan berbahaya, akhirnya kami memutuskan untuk menyerahkannya ke penampungan hewan. Sampai kini, semua masih misteri. Kenapa si Wahyu yang tampak baik-baik saja mendadak jadi beringas? Dugaan saya, dia sebetulnya benci dipanggil Wahyu lalu memendam rasa benci itu sampai menggunung dan…duaarrr malam itu dia luapkan semuanya.

Nah, lama gak pelihara kucing, akhirnya muncullah si Sera, kucing betina belang 3 yang super lucu. Ngomong-ngomong soal kucing belang 3 (atau istilah kerennya Calico Cat), ternyata ada banyak hal unik dari kucing jenis ini. Konon, seekor kucing bisa disebut tricolor kalau dia punya salah satu warna yang berasal dari gen merah (orange) atau orange beige. Selain itu, ternyata 99 % dari populasi Calico cat adalah betina dan sisanya jantan. Nah, dari 10.000 Tricolor jantan itu ternyata cuma 1 yang subur alias gak mandul. Woo…Kok bisa begitu? Mainnya sama kromosom. Gen warna merah/orange hanya bisa dibawa oleh kromosom X. Pejantan yang membawa kromosom Y hampir gak bisa tricolor. Tapi kesalahan genetik mungkin terjadi dan menghasilkan kombinasi kromosom XXY. Kombinasi kromosom inilah yang akhirnya bisa membuat pejantan memiliki 3 warna, tapi sekaligus mempengaruhi fertilitasnya. So dengan beragam alasan itu, Calico cat jantan bisa dibilang langka dan harganya mahal cuy. Apalagi yang fertil, bah jagoan sejati itu…

image

Sera tampak belakang. Tricolor-nya cantik kan ^^

So, Calico is special, either Sera is, hehe… Emang sih, pelihara kucing begini lumayan berat di ongkos, terutama buat beli makanan model sarden/kerupuk ikan itu. Untung ini kucing lentik gak manja dan kesepian. Kami menyediakan kucing kampung betina dengan umur sebaya buat jadi teman mainnya. Namanya Blewi. Mereka akur biar beda strata sosial. Makan, main, gegelutan, semua sama-sama. Pokoknya mereka kayak ngelihat Sissy sama Minah di Jungkir Balik Dunia Sissy, haha…

image

Ini dia si Blewi. Hobi: nongkrong di motor.

image

Adegan gegelutan

image

Persahabatan bagai yin dan yang ^^

Intinya, happy punya hewan peliharaan lagi. Menurut penelitian juga, pelihara pet bisa menaikkan level oksitosin dan serotonin, jadi bikin nyaman dan jauh dari stres, termasuk stres menatap masa depan 🙂 Ada banyak target di 2013. Yang penting usaha dan doa. Que sera sera; whatever will be will be…

Iklan

Golden Goodbye Atau…?

21 Desember 2010…

Hm, tanggal apa itu?
Oh, bukan itu bukan tanggal lahir kucing saya. Apa? Bukan, itu juga bukan tanggal saya pertama kali bisa naik sepeda. Maaf? Oh, apalagi itu masa itu tanggal pernikahan saya. Jangan bercanda, sampai detik ini saya belum jadi istri orang kok. Ciyus…^_^

Ehm, 21-12-10 itu memang bukan angka cantik. Tapi buat saya, tanggal itu punya nilai historis. Pada tanggal itu saya pertama kali menjelma jadi manusia pekerja setelah 5 tahun jadi manusia pembelajar (yaelah bahasanyo). Dan tempat saya pertama kali berpijak sebagai pekerja adalah ini:

image

R&D Centre PT. Leuwigajah 😀

Jujur, nggak pernah terpikir sebelumnya bakal berkarir di sini. Tapi takdir menempatkan saya di sini. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari kode dari Tuhan. Saya memang harus singgah di sini dulu, untuk belajar sesuatu. Masih banyak yang belum saya tahu, belum saya kuasai. Di sini, saya mulai mengikis semua itu.

Sewaktu kuliah dulu, saya nggak suka formulasi. Saya lebih suka farmakologi. Tapi… di sini saya ditempatkan di bagian formulasi. Awalnya sempat nggak pede, nggak suka. Tapi setelah dijalani jadi enjoy juga. Banyak ilmu baru, pengalaman baru.

Sewaktu kuliah dulu, saya nggak mudeng soal farmasi industri. Saya juga nggak pilih penempatan kerja praktek di industri. Makanya pas cari kerja dulu, saya awalnya nggak minat ke industri. Tapi…akhirnya saya terdampar juga di sini. Walaupun berposisi di bagian R&D-nya, saya punya kesempatan terjun langsung ke produksi. Saya terlibat sistem pengembangan produk secara utuh. Ngefek, saya mulai mengerti industri. Belajar di lapangan memang lebih recommended dibandingkan teori saja.

image

Cubicle saya

Dan…sewaktu kuliah dulu, saya ngekos di tempat yang nyaman, yang menawarkan segala bentuk kemudahan, termasuk soal makanan. Ibu kosnya buka kantin uy. Jadi aja sarapan, makan siang, makan malam, bahkan sahur di bulan puasa pun terjamin. Imbasnya…saya jadi nggak pinter masak, sesuatu yg menurut saya menghambat kesejatian saya sebagai seorang wanita (eaaa…). Paling cuma bisa masak mie, telor, tahu-tempe goreng, ah yang simpel-simpel pokoknya. Tapi…di sini saya tinggal di mess. Biarpun messnya dilengkapi fasilitas ini itu yang lumayan komplit (semua gratis termasuk air, gas, listrik, dll.) tapi ya gak dikasih makanan. Warung makanan di dekat sini juga cenderung itu-itu saja. Jadi sebagai pekerja yang ingin irit dan coba untuk kreatif, mulailah saya belajar memasak. Dan beruntung di awal masa pembelajaran itu, saya memasak ditemani 2 koki handal (Re: Qori dan Nuri ^_^). Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dan bersolo karir karena merasa masing-masing punya selera masak yang berbeda dan pede sudah bisa berdiri sendiri, hehe… Yah lumayanlah biarpun masih harus terus belajar, seenggaknya variasi masakan saya sudah cukup banyak dari mulai yang cincai macam perkedel jagung atau tahu-tempe bacem sampai yang agak rumit macam tongseng sapi atau udang lada hitam… (sombong).

image

Buku Resep Kenangan

Pokoknya selama tinggal di sini berasa dididik jadi ibu rumah tanggalah. Masak, nyuci baju-piring, nyapu-ngepel kamar, setrika baju, bersihin kulkas, sampai pergi ke pasar dan nawar-nawar sayuran, semuanya kita lakukan di sini sendiri. Mulai bisa meraba capeknya kombinasi jadi wanita karir dan ibu rumah tangga, apalagi kalau sudah punya suami dan anak.

image

Dapur bersama

image

Ruang TV bersamo

image

Kamar pribadi

Maka…ketika saya memutuskan untuk mengakhiri petualangan saya di sini yang sudah hampir mencapai 2 tahun, hm sulit untuk dilukiskan. Ya, saya akan berlabuh di dermaga kerja yang baru. Kepindahan saya ke tempat yang baru ini ibarat Luis Figo yang pindah dari Barcelona ke Real Madrid, jadi kadang dianggap pembelot, haha…Hm, tapi mungkin lebih mirip Cesc Fabregas yang pindah dari Arsenal ke Barcelona ya, karena untuk bisa pindah harus bayar dulu, hahaha… Ah, sudahlah…

Mungkin semua orang menilai saya happy 100 % karena kepindahan ini. Saya terlihat tidak sedih sewaktu perpisahan kemarin. Tapi sesungguhnya…tidak seperti itu. Perasaan saya berkecamuk karena di satu sisi saya merasa keputusan ini adalah sebuah golden goodbye dan di sisi yang lain saya merasa ini adalah sebuah sacrifice atau pengorbanan. Kata Mario Teguh, jika kita meninggalkan sesuatu yang kurang baik untuk mencapai sesuatu yang baik, itu adalah golden goodbye. Sebaliknya, ketika kita meninggalkan sesuatu yang baik untuk meraih sesuatu yang lebih atau sama baiknya, itu adalah pengorbanan.

Selama bekerja di sini, banyak hal yang sudah saya lalui. Ada yang baik, ada yang buruk. Meninggalkan hal yang buruk di sini untuk beralih ke tempat lain di mana ada hal baru yang (mungkin, semoga) lebih baik bagi saya adalah sebuah golden goodbye. If I stay here for longer time, I will be stucked, I think. Di sisi lain, saya akan meninggalkan orang-orang baik yang saya kenal di sini: rekan kerja, anak buah, teman mess, satpam, cleaning service. Saya juga harus melepas tempat kerja yang nyaman dan mess yang serba ada, hingga berpisah dengan kota Bandung (dan Cimahi) yang sudah jadi rumah kedua saya selama hampir 7 tahun. Itu…pengorbanan.

image

Meeting terakhir di ruang kerja

image

Bersama Para Asisten Apoteker

image

Bersama sesama staf R&D

image

Saya, pengganti saya, dan para asisten jadi banner tepi jalan 😀

Yah, bagaimanapun seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, semua akan (p)indah pada waktunya. Dan setelah beberapa rekan saya yang kemarin sudah pergi duluan, kini giliran saya yang bermigrasi. Ibaratnya komputer, saya sedang restart. Semuanya dimulai dari awal lagi. I’m gonna live in new place with new people around and new challenge behind. Wish me luck, wish me stronger, wish me grow up, in better way. Bismillah…

Baca lebih lanjut

MIGRASI

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup di antaranya.
Raditya Dika-Manusia Setengah Salmon

Saya takjub…

Tempat saya bekerja sekarang sangat rawan perpindahan manusia. Saya bertanya-tanya apa di tempat lain seperti ini atau tidak? Sejak saya menginjakkan kaki di sini, entah sudah berapa banyak orang keluar masuk. Perasaan baru kemarin jabatan tangan untuk kenalan, eh tiba-tiba sudah salaman lagi buat pamitan. Tapi nggak semuanya begitu sih. Ada juga yang bertahan lama dan sudah menjadi partner kerja yang menyenangkan 🙂

Tapi bagaimanapun, seperti kata orang bijak, meski hidup penuh dengan ketidakpastian, perpindahan adalah satu hal yang pasti. Tidak akan ada manusia yang seumur hidup statis. Dia pasti akan bergerak, mencari sesuatu yang baik, yang baru. Mungkin itu juga yang dirasakan sejumlah partner kerja saya. Mereka yang sudah >3 tahun berjibaku, akhirnya memutuskan akan segera berpetualang di tempat lain.

Situasi Begini Nih Yang Bikin Pengen Pindah

Situasi Begini Nih Yang Bikin Pengen Pindah

Perpindahan memang identik dengan kehilangan. Ketika kita beranjak ke fase hidup yang baru, kita meninggalkan kenangan di fase hidup yang lama yang nantinya kerap kita rindukan. Saya pun begitu. Seperti halnya partner kerja saya yang pindah, saya juga akan pindah ke suasana kerja baru tanpa sejumlah orang yang terbiasa saya jumpai setiap hari. Rasa kehilangan itu pasti akan ada.

Sejenak melongok ke atas, pernyataan pembuka itu saya kutip dari bukunya Raditya Dika: Manusia Setengah Salmon. Sama seperti saya saat menulis blog ini, kayaknya Raditya Dika juga sedang galau saat menulis itu buku. Beberapa bab tulisannya cenderung melankolis, hehe…(but still, it’s the best book of him, I think). Buku itu banyak menceritakan tentang perpindahan karena judul bukunya sendiri memang mendefinisikan hal itu. Konon ikan salmon merupakan satwa yang punya ritual bermigrasi setiap tahunnya sepanjang ribuan kilometer, melawan arus sungai, hanya untuk bertelur. Meski perjalanan tidak mudah, ikan salmon tetap berpindah. Makanya, Raditya Dika menganalogikan orang yang berani pindah itu seperti Manusia Setengah Salmon.

Ikan Salmon, si trending topic

Ikan Salmon, si trending topic

Di salah satu bagian, Raditya menulis bahwa untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tidak perlu jadi manusia super, cukup jadi manusia setengah salmon: berani pindah. Ya, memang pernyataan itu ada benarnya. Seperti disebutkan di sejumlah buku psikologi populer, jangan terus bertahan di zona nyaman, karena itu hanya akan membuatmu tidak berkembang. Mencoba melangkah ke zona baru untuk merasakan tantangan baru akan memberi pengalaman yang hebat. Mungkin karena hal itu juga, Sir Alex Ferguson yang sudah > 25 tahun menangani Manchester United dan memenangi banyak gelar, dinilai tidak lebih hebat dari Jose Mourinho, pelatih muda yang doyan berpindah-pindah, tapi selalu memberi gelar untuk tiap klub yang ditanganinya (Porto –> Chelsea –> Inter Milan –> Real Madrid).

Sir Alex vs Mourinho

Sir Alex vs Mourinho

Tapi di mata saya, selalu menjadi manusia setengah salmon juga tidak 100 % dibenarkan. Dalam urusan hati misalnya. Kalau sudah punya pasangan, masa mau berpindah-pindah hati terus. Bayangkan kalau sudah berumah tangga. Manusia setengah salmon bisa berarti manusia tukang selingkuh atau manusia tukang cerai. Jadi untuk soal ini, mending kita ikuti saja kata pujangga cinta: Mencari pasangan itu bukan berarti mencari yang lebih baik. Jika seperti itu, sampai kapan pun kita akan selalu merasa kurang dan akan selalu mencari yang baru lagi, yang dirasa lebih baik. Pencarian yang tanpa ujung.

Selingkuh, ciiih

Selingkuh, ciiih

Untuk siapa pun yang akan pindah, mau itu pindah rumah, pindah kosan, pindah status (dari lajang jadi married), atau pindah rekening bank sekalipun, selamat menikmati fase hidupmu yang baru. Untuk yang mau pindah kerja, good luck. Selamat sudah menjadi manusia setengah salmon yang berani pindah untuk menjadi lebih hebat…:-)

Mengutip (lagi) dari bukunya Raditya, di tengah semua perpindahan yang terjadi, kita hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Bagaimanapun, semua akan (p)indah pada waktunya…:-p

BELAJAR INDRAMAYU

Beberapa bulan lalu, saya menerima kabar bahagia. Sahabat saya sejak kuliah, teman satu kos selama 4 tahun, akan menikah. Waah, pastinya ikut bahagia dong. Sebagai teman yang baik, saya bantu dia survey kartu undangan dan souvenir. Haha, lumayan buat referensi pribadi. Dan puncaknya, sebisa mungkin saya harus bisa hadir di pernikahannya. Masalahnya, dia orang Indramayu, jadi nikahnya ya di sana. Agak jauh juga…

Selama ini kalau ada teman yang nikahnya jauh, kadang suka males datang. Mikirin transportasinya, capeknya, ribetnya, pokoknya ada ajalah alasannya. Tapi buat yang satu ini, entah kenapa sejak awal saya excited. Mungkin karena status si pengundang sebagai sahabat sejak kuliah, teman satu kos selama 4 tahun, hehe… Tapi di luar itu, saya penasaran karena akan berkunjung ke tempat yang baru. Saya yang asli Ciamis sudah terbiasa menempuh perjalanan di jalur Selatan Jawa Barat. Kalau jalur Utara mah jarang. Pernah juga ke Cirebon. Jadi ke Indramayu ini adalah pengalaman pertama…:-)

Maka mulailah saya mengumpulkan massa untuk bersama-sama ke Indramayu. Sampai detik terakhir, terkumpul 5 orang (termasuk saya). Kami pesan travel ke Indramayu, berangkat pagi tanggal 3 Maret, backpacker-an semua. Jadi kalau tim liburan kami ini masuk acara Koper dan Ransel di Trans TV, mungkin judul acaranya harus diubah jadi Ransel dan Ransel Lagi.

Perjalanan ke Indramayu memakan waktu sekitar 5 jam. Jalur yang dilewati cukup berliku. Jalanannya agak kurang bagus, berasa sempit-sempit juga. Tapi si supir mobil travel ini luar biasa. Jalanan butut, tetep ngebut. Wuih… Tapi kalau boleh jujur, pemandangan sepanjang jalan di jalur selatan rasanya lebih indah dibanding jalur utara. Kondisi jalannya juga lebih bagus. Kenapa ya?

Setelah mampir makan tahu lezat di Sumedang, perjalanan ke Indramayu terasa lebih indah (karena kenyang). Mendekati Indramayu, deretan rumah-rumah di sepanjang jalan yang saya lewati mulai terlihat seperti perumahan di Jawa Tengah. Saya jadi ingat kampung halaman ayah saya di Kebumen. Mungkin karena Indramayu ini letaknya di perbatasan Jabar dan Jateng, jadi biarpun berlokasi di ranah Sunda, nuansa Jawanya juga kelihatan.

Tepat jam 12 siang, kami tiba di kota Indramayu. Kesan pertama, Indramayu itu panaaas. Tepat seperti kata teman saya, lebih panas dari Jakarta.

Fakta 1:
Letak Kabupaten Indramayu yang membentang sepanjang posisi pantai utara pulau Jawa membuat suhu udara di Kabupaten Indramayu cukup tinggi berkisar antara 22,9 – 30C (ref: http://www.indramayukab.go.id). Hoo, pantesan, hareudang…

Kami lalu langsung menuju penginapan. And this is it our guest house:

DNisa Guest House

DNisa Guest House

Penginapannya memang sederhana, nggak terlalu mahal, tapi bersih dan cukup nyaman. Kami booking 2 kamar. Kamar-kamar lainnya konon dibooking keluarga calon suami teman saya. Ya, kami memang punya maksud terselubung menginap di situ. Kami ingin mengintip persiapan keluarga pengantin pria, selain mencari celah adakah dari keluarga pengantin pria yang masih jomblo.

Kami cuma istirahat 1 jam, lalu langsung angkat kaki lagi. Kami mau makan, kami lapaaar… Dan hanya dengan berjalan kaki, kami menemukan food court yang lumayan…

Setelah Perut Kenyang

Setelah Perut Kenyang

Sehabis makan, kami menuju Yogya Dept. Store. Yap, betul sekali. Kami ke Indramayu dan sempat-sempatnya main ke Yogya Dept. Store yang di Bandung pun balatak. Kami harus ke sana, karena salah satu dari kami ada yang ketinggalan sepatu pesta dan harus beli dulu di situ. Ironis..

Ada yang lucu ketika kami keluar dari supermarket dan hendak menuju rumah teman saya di Jl. Soeprapto. Kami yang buta sama sekali tentang jalanan di Indramayu bertanya pada tukang parkir supermarket, “Pak, kalau mau ke Jl. Soeprapto ke arah mana ya? Masih jauh gak dari sini?”. Tukang parkirnya cuma jawab, “Ooh…” lalu malah nanya temennya, “Htyxgryjoll***dre###uygbt***…?”. Temannya bales, “Byjrllojkshyuk*****vgtrf###”””hbgsafn…”.
Saya mencoba memahami apa yang mereka bicarakan. Hasilnya nihil, nggak ngerti. Saya menengok teman saya yang orang Jawa, “Qori, mereka ngomong apa?”
Qori menggeleng, “Nggak ngerti…”
Saya bingung. Ini Bukan bahasa Sunda, Jawa juga bukan. Padahal Indramayu itu ada di Jabar.

Akhirnya, kami menemukan jawaban dari bapak-bapak lain yang juga sedang mangkal di situ. Jawaban dalam bahasa Indonesia…

Fakta 2:
Penduduk di Kabupaten Indramayu, sebagian besar menggunakan bahasa Cirebon-Indramayu. Pengguna bahasa Sunda terbilang minoritas, yakni sekitar hanya belasan desa saja. Bahasa Sunda yang dipakai pun tidak sama dengan bahasa Sunda yang umum digunakan di tanah Pasundan. Bahasa Sunda-nya khas, seperti berpadu dengan bahasa daerah lain. Namanya bahasa Sunda Lea dan Sunda Eretan.

Kami lalu memutuskan naik becak saja untuk menuju ke rumah teman kami di Jl. Soeprapto. Wuih, seru… Entah kapan terakhir kali saya naik becak. Yang jelas sudah cukup lama, dan jadinya pengalaman kali ini mengasyikan. Pas banget naik becak sambil keliling kota Indramayu yang panas. Rasanya semriwing…

Jejeran Becak di Indramayu

Jejeran Becak di Indramayu

Fakta 3:
Konon dari dulu, di indramayu memang sudah banyak berseliweran becak-becak. Becak seolah sudah menjadi identitas transportasi di kota ini, ya mirip-mirip di Yogyalah. Namun sekarang pengguna jasanya semakin berkurang lantaran sudah banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi. Sayang sekali ya…Jadi beruntunglah kami sebagai turis, bisa berbagi rezeki dengan banyak penarik becak selama di Indramayu kemarin…:-)

Kami jadi ketagihan naik becak. Sehabis mengunjungi rumah teman saya yang mau nikah itu, kami kembali keliling kota Indramayu dengan becak. Awalnya, kami mau ke pantai, tapi batal karena hari sudah menjelang sore dan langit mendung. Kami memutuskan mengunjungi tempat yang direkomendasikan teman saya: Paoman Art, pusat pembuatan batik Indramayu. Ya, Indramayu memang cukup terkenal dengan batiknya. Buktinya di tengah kotanya saja ada tugu ibu-ibu sedang membatik.

Untuk mendatangi tempat yang bagus memang butuh perjuangan. Di tengah-tengah perjalanan dengan becak, hujan turun. Meski terpal becak sudah diturunkan, tetap saja basaaah. Syukurlah, akhirnya sampai juga. Tapi karena sudah sore dan hujan, kami tidak bisa lagi melihat proses pembuatan batik. Kami Cuma bisa berkunjung ke tokonya.

Tugu Batik Nih...

Tugu Batik Nih...

Etalase Batik

Etalase Batik

Bu Ismi Bersama Mas-Mas Batik

Bu Ismi Bersama Mas-Mas Batik

Fakta 4:
Yang punya Batik Paoman Art itu namanya Ibu Hajah Sudijono yang konsisten dengan motif batik Indramayu-nya. Batik Indramayu termasuk dalam jenis Batik Pesisir. Jika dilihat dari jenis pola-pola yang ada, mayoritas motif batik yang digunakan di Indramayu hadir dalam kegiatan penangkapan ikan di laut. Motif batik di Indramayu banyak mendapat pengaruh besar dari gambar atau motif kaligrafi dari Arab, Cina atau daerah Jawa Tengah/Jawa Timur. Karakteristik menonjol dari Batik Indramayu adalah ranggam yang dinyatakan dengan flora dan fauna.(http://wiralodra.com)

Waktu maghrib, kami pulang ke penginapan dengan membawa oleh-oleh batik dan dengan kembali menggunakan jasa angkutan umum favorit kami: becak…:-p

Dan malam minggu itu menjadi malam minggu pertama kami di Indramayu. Sepi, jadi kami meramaikan diri dengan main kartu.

Yah Adegannya Mirip Beginilah

Yah Adegannya Mirip Beginilah

Fakta 5 (tidak ada hubungannya dengan Indramayu):
Teman-teman saya semuanya ternyata maniak kartu remi. Malam itu saya di-bully karena satu-satunya yang paling tidak mahir main kartu. Kejam…

Keesokan harinya, kami repot menyiapkan diri ke pesta pernikahan sekaligus packing karena jam 1 siang sudah harus siap dijemput travel lagi untuk balik ke Bandung. Kami menuju ke tempat pernikahan lagi dan lagi menggunakan alat transportasi idola kami: becak. Meski bermake up dan bergaun, kami tetap percaya diri. Kami sampai di tempat pesta dan turun dari becak dengan elegan, bak Cinderella yang turun dari kereta kencana. Meski di sana bertemu dengan teman-teman kuliah yang bermobil, nyali kami nggak ciut. Bagi kami, becak is the best… ;-p
Dan ini beberapa foto pernikahannya:

Bersama Mempelai (1)

Bersama Mempelai (1)


Bersama Mempelai (2)

Bersama Mempelai (2)

The Girls In The Party

The Girls In The Party

REUNI

REUNI

Setelah happy-happy bersama pengantin dan teman-teman semasa kuliah, kami harus berpisah dengan mereka T-T… Di pelaminan, kami sempat-sempatnya nanya ke pengantin pusat oleh-oleh di Indramayu, haha… (gak tau diri). Dan kami pun langsung cabut ke tempat yang dituju: Pasar Indramayu. Naik apa? 100 % benar: becak lagi…

Naik Becak Lagi Ke Pasar

Naik Becak Lagi Ke Pasar

Di Pasar Indramayu ini, ada banyak toko oleh-oleh. Kami masuk ke toko Arto Jaya. Sempat bingung pilih apa. Akhirnya masing-masing dari kami membawa pulang manisan mangga, dodol mangga, rengginang udang/terasi, kerupuk kulit ikan, dan keripik melinjo.

Fakta 6
Ada banyak penganan khas Indramayu. Salah satunya mangga dan olahannya (sampai-sampai di kota ini ada Tugu Mangga). Selain itu, karena Indramayu dekat dengan pantai, olahan lautnya juga melimpah, yang bersumber dari ikan, udang, dan cumi.

Tugu Mangga

Tugu Mangga

Banyak Pilihan Uy

Banyak Pilihan Uy

Dan jam 2 siang, berakhirlah perjalanan kami di Indramayu. Kembali ke Bandung dengan menggunakan jasa travel yang sama dengan saat kami berangkat dari Bandung. Travel dengan tabiat supir yang semuanya sama: tetap ngebut di jalanan yang butut.

Indramayu, nice little city. Episode belajar Indonesia kali ini adalah belajar Indramayu…;-)

Buat Ineu Utami Dewi, Citra Dewi Salasanti, Qori Yasinta, dan Ismi Mu’minati, terima kasih untuk perjalanan yang singkat dan menyenangkan ini.

Saksikan Penampilan Kami, Coming Soon...

Saksikan Penampilan Kami, Coming Soon...

Buat Ayu Lazuardi dan Firdaus Sitepu, selamat menempuh hidup baru. Live happily ever after…

Langgeng Ya...

Langgeng Ya...

PERKENALKAN: PEMERHATI JALANAN

Jumat 10 Februari yang lalu, saya mudik ke Ciamis. Seperti biasa, sore-sore pulang kerja, naik bus Budiman dari Cimahi menuju Tasik. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan saya selamat sampai tujuan. Keesokan paginya, saya melihat berita di tv. Di malam yang sama ketika saya mudik, bus Karunia Bakti jurusan Garut-Jakarta mengalami kecelakaan parah di Cisarua. Korban tewas mencapai 14 orang.

Dalam waktu 1-2 minggu setelahnya, kecelakaan lain terjadi dan kembali melibatkan bus. Ada bus Mira di Ngawi, bus Maju Jaya di Sumedang, dan terakhir saya dengar bus Primajasa juga mengalami kecelakaan di Purwakarta. Ada apa ini?

Bus Yang Kecelakaan Nii

Bus Yang Kecelakaan Nii

Terus terang, sebagai pengguna bus, saya miris. Konon katanya, hampir semua kecelakaan bus belakangan ini karena human error. Sopir dan kondektur lalai memperhatikan kondisi busnya, bahkan akhirnya ada yang ketahuan pake narkoba sebelum nyetir. Pemerintah sih katanya sudah mengambil tindakan tegas dengan mencabut izin beberapa PO yang bandel.

Menyaksikan maraknya kecelakaan yang melibatkan bus, semakin mengindikasikan sarana transportasi umum di Indonesia yang belum sepenuhnya mampu menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang. Kita para penumpang kan bayar ongkos supaya dilayani dengan baik dan diantarkan ke tempat tujuan dengan selamat. Kalau pengelola dan pengemudi angkutan umum tidak serius menjalankan tanggung jawabnya, mau bagaimana nasib kita?

Ingat angkutan umum, ingat macet. Bukan, bukan berarti angkutan umum itu penyebab macet. Konon, di Jakarta yang pusat kemacetan itu, porsi angkutan umum Cuma sekitar 2 %, sisanya kendaraan pribadi. Tahun 2011, jumlah kendaraan di Jakarta ada sekitar 7,34 juta unit. Dan setiap hari, ada 1.068 motor dan 216 mobil bertambah di Ibukota. (Ref: Jurnal Nasional)

Macet cet cet...

Nah… sekarang bisa ditebak kan kenapa coba bisa ada begitu banyak kendaraan pribadi? Karena eh karena angkutan umum di Indonesia dinilai kurang ok, kurang nyaman, kurang aman, dan serba kurang-kurang lainnya.

Memang, kadang saya juga kerap berpikir ideal. Coba Indonesia seperti negeri Singapura atau Korea, yang membatasi jumlah kendaraan pribadi sehingga bisa mengurangi kemacetan. Coba masyarakat Indonesia bisa sadar diri untuk tidak menjadikan kendaraan pribadi sebagai gaya hidup. Coba orang-orang Indonesia memilih sepeda atau otoped saja sebagai kendaraan pribadi (lucunya membayangkan jalanan penuh orang berotoped :-p).

Tetapi ya mau bagaimana, jadi ideal itu susah. Jumlah kendaraan pribadi bakalan susah ditekan selama bea masuk kendaraan bermotor import gak seketat di Singapura, misalnya. Mempunyai mobil atau motor pribadi kayaknya sekarang sudah jadi tradisi, obsesi, life style. Impian setiap keluarga baru rata-rata setelah punya rumah adalah punya mobil/motor. Hadiah utama beragam undian juga rata-rata mobil. Belum lagi kredit mobil/motor yang marak di mana-mana, semakin mempermudah orang mendapatkan kendaraan impiannya. Pokoknya punya kendaraan pribadi itu gaya, keren, di samping memang butuh tentunya.

Kadang saya sirik, melihat Kyoto di Jepang yang berhasil jadi kota sepeda. Hampir semua penduduk di sana memakai sepeda ke mana pun mereka pergi: ke sekolah, ke kantor, ke pasar. Jalanan di sana jadi jauuh dari yang namanya macet dan yang penting, bebas polusi ^_^. Ckck, orang Jepang itu sudah terkenal pinter, ulet, dan ternyata sehat lagi ya. Tappii… meski sekarang di Jakarta sedang digalakan Bike to Work, dan di beberapa kota besar di Indonesia sudah banyak disediakan area untuk bersepeda di jalan raya, teteeep kayaknya bakalan susah mewujudkan mimpi Jakarta/Bandung jadi Kyoto-nya Indonesia. Iklim Indonesia tuh tropis, panaaass… Gak semua orang mau mengayuh sepeda sepanjang berkilo-kilo meter di bawah sengatan matahari. Udah keringetan, gosong, dehidrasi, waa… Kecuali sepedanya dimodifikasi, jadi ada tudungnya (kayak tukang cilok atau es krim Walls), hehe…

Sepedaan di Kyoto

Lantas apa ada cara lain yang dinilai ampuh? Nah, berita terbaru, konon katanya pemerintah mau tuturut munding Singapura, yaitu menerapkan sistem ERP alias Electronic Road Pricing alias sistem jalan berbayar. Mirip-mirip tol tapi hanya diberlakukan di jalan-jalan yang rawan macet dan di jam-jam sibuk. Uniknya, cara bayarnya pake kartu prabayar (kayak pulsa hape aja) dan konon katanya mahal. Pokoke teknologinya keren, ada cctv yang bisa merekam plat no kendaraan, jadi bisa mendeteksi kendaraan mana saja yang taat aturan (sudah bayar maksudnya) atau yang main nyelonong saja. Sanksi bagi yang melanggar aturan ERP konon katanya juga berat di ongkos.

ERP di Singapura

Meski ide pemerintah itu sekilas terlihat “wow keren!”, banyak pengamat yang menilai cara itu nggak akan cukup efektif menekan angka kemacetan. ERP Cuma memberatkan masyarakat dan menguntungkan pemerintah. Banyak juga yang membandingkan kesiapan pemerintah Singapura dan Indonesia. Ya iyalah Singapura berani memasang sistem ERP, orang pengelolaan jalan raya mereka oke. Kalau kita? Ada juga jalan bolong-bolong atau proses betonisasi (istilah macam apa itu?!)-nya nggak rampung…:-/

Jadi, pendapat banyak kalangan lagi-lagi kembali ke sesuatu yang ideal. Kemacetan hanya bisa ditanggulangi dengan mengurangi jumlah kendaraan. Cara terbaik adalah dengan mengalihkan keinginan masyarakat untuk menggunakan/memiliki kendaraan pribadi melalui pelayanan yang memuaskan pada berbagai jenis media transportasi umum. Namun sayangnya, menilik berbagai kasus kecelakaan dan juga kejahatan yang melibatkan alat transportasi umum di Indonesia, hal itu masih jauh dari kenyataan. Wajar saja kalau akhirnya masyarakat kita akhirnya tetap lebih memilih memiliki kendaraan pribadi dibandingkan harus menumpang kendaraan umum yang tidak nyaman dan tidak aman. So, semuanya kembali ke pemerintah dan instansi terkait yang berwenang.

Kalau diibaratkan hukum kausatif jalanan itu begini:

Transportasi umum (fasilitas nggak ok, supir ugal-ugalan, pemerkosaan/pencopetan) –> kendaraan pribadi (ok, ber-ac) –> jumlah numpuk –> macet –> tua di jalan

Transportasi umum (fasilitas memuaskan, supir dan kondektur menerapkan 3 S: senyum, salam, sapa) –> kendaraan pribadi (nggak gitu perlu, yang sudah ada di rumah simpen di garasi saja dulu :-p) –> jumlah berkurang –> jalan lowong, lancar –> awet muda

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau pelayanan yang ok dari sarana transportasi umum itu diyakini sekali mampu menurunkan angka kemacetan. Bisa ditengok di negara lain yang bus, kereta, atau subway-nya oke, masyarakatnya banyak yang lebih nyaman naik kendaraan umum sekalipun misalnya mereka punya kendaraan pribadi. Dan sepertinya pemerintah kota Bandung sedang mencoba untuk me-renew sistem transportasi mereka menjadi lebih ok. Sejak 2011 lalu, sudah rame diberitakan rencana Bandung membangun stasiun kereta gantung dari Pasteur-PVJ-Sabuga. Konon teknologinya didatangkan dari Eropa. Diharapkan kereta gantung ini bisa sedikitnya menurunkan angka kemacetan di Pasteur yang memang lumayan tinggi, terutama di hari libur. Yah, mudah-mudahan terwujud ya. Kan lucu membayangkan ada kereta bergelantungan di langit Pasteur. Cara turunnya bebas, mau cara aman berhenti di stasiun kereta gantung berikutnya atau cara ekstrim dengan loncat pake parasut?
Silakan dipilih…^_^

Kereta gantung di Bandung, asyiiik

ATAS NAMA SEBUAH NAMA

Bismillah…

Sudah lama tidak menyentuh blog, rasanya gimanaaa gitu :-p

Dan kemunculan perdana di tahun yang baru ini, dibuka dengan tema yang unyu. The babies… And Their Name…

Saya jadi kebelet menulis ini gara-gara keponakan saya yang baru lahir 2 minggu yang lalu. Perempuan, ndut, lucu. Berhari-hari kemudian semenjak dia lahir, hampir setiap hari saya mengupdate kabar si kecil, terutama soal nama. Saya heran, kakak saya repot amat menyiapkan nama buat putrinya. Lamaaa… Butuh kontemplasi tingkat tinggi rupanya… Saya ingat pernah mengusulkan nama untuk anaknya yang pertama. Saya usul untuk memasukkan FABREGAS ke dalam nama putranya, soalnya kakak saya penggemar berat Arsenal dan Cesc Fabregas. Dan usul saya… ditolak,hix…T-T

Gambar

Kali ini untuk nama putrinya, saya tidak memberi masukan. Saya mau menghormati selera tiap orang saja. Kalau saya punya anak perempuan, saya cenderung menghindari nama yang terlalu cantik. Saya maunya nama yang anggun, elegan (kayak nama saya gitu, hoex…). Kalau kakak saya justru suka nama-nama yang manis. Jadi saya biarkan saja beliau berkreasi sendiri.

Saat tiba waktunya saya menjenguk keponakan saya, saya menemukan kakak saya rupanya banyak membaca buku yang berisi nama-nama bayi dan artinya untuk dijadikannya sumber inspirasi. Hoo, pantas lama… Saya sempat meminjam dan membaca buku tersebut. Dan… mata saya seperti baru terbuka… Apa karena saya belum punya anak, jadi selama ini menganggap enteng urusan memberi nama anak? Yang di pikiran saya selama ini, yang penting namanya keren. Arti nama itu nomor dua.

Saya kini sadar, bagi orang tua manapun, memberi nama anak itu seperti PR. Setiap orang pasti ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang baik. Maka memberi nama yang baik dan indah adalah PR yang menyenangkan sekaligus memusingkan. Orang tua yang bijak tahu bagaimana memberi nama yang baik tanpa membebani anaknya kelak. Bagaimanapun, nama adalah identitas yang akan dibawa seseorang di sepanjang hidupnya.

Gambar

Setiap orang tua punya gaya tersendiri dalam menamai anaknya. Ada yang mengunduh dari nama tokoh atau mencomot dari bahasa-bahasa di dunia. Saya punya rekan kerja bernama Megawati. Mungkin orang tuanya mendoakannya untuk menjadi orang besar seperti Megawati Soekarno Putri. Ada juga politikus Rieke Dyah Pitaloka yang menamai anaknya Sagara Kawani, yang berasal dari bahasa Sunda dan berarti lautan keberanian. Menurut penuturannya, nama anaknya diambil dari bahasa Sunda karena ia orang Sunda asli dan ingin anaknya selalu ingat tanah kelahirannya. Ckck, keren dan kreatiflah, mampu menghapus stigma penamaan Sunda yang selama ini dikenal mengulang-ulang penggalan nama pertama di akhir, ex. (punten) Adjat Sudradjat, Wawan Darmawan…:-p

Kalau ayah saya punya cara sendiri menamai anak-anaknya. Entah kenapa saya dan kedua kakak saya diberi nama dengan rumus yang sama: 19 huruf dan 9 suku kata. Tiap saya tanya alasannya kenapa, ayah saya tidak pernah memberi penjelasan yang komplit. Terawangan saya, ayah saya suka angka 9. Angka 9 adalah angka tertinggi dalam kelompok angka berdigit 1. Angka 9 dan 19 adalah angka ganjil. Angka 19 adalah bilangan prima…(loh)

Yang jelas, setelah membaca buku nama-nama bayi itu, saya merasa menemukan nama terbaik untuk keturunan kita kelak sangat mengasyikan. Dan akan sangat mendebarkan melihatnya tumbuh seiring namanya, memastikan nama yang kita berikan sesuai dengan karakternya saat itu. Saya punya teman bernama Luthfi, yang artinya lembut dalam bahasa Arab. Orang tuanya mungkin bisa berbangga hati, karena anaknya itu memang tumbuh menjadi gadis yang lembut dan baik hati. Raditya Dika, blogger/penulis terkenal itu, ternyata namanya berasal dari bahasa Jawa/Sansekerta yang artinya matahari. Orang tuanya juga mungkin sedang tersenyum bangga sekarang melihat putranya jadi sosok yang bersinar di bidangnya.

Hm, bagaimana dengan saya?

Nama tengah dan belakang saya mudah ditebak artinya. Nama depan saya ada kemungkinan diambil dari bahasa Spanyol (seriusan? Gaya pisan si papah…). Kalau digabung, dalam nama saya ada sepenggal doa yang mengharapkan saya jadi si bungsu yang bersinar dan bermanfaat. Have I been already yet? Hope so, at least for them (my parents)…;-)

Gambar

Kata pepatah, apalah arti sebuah nama. Tapi bagi setiap orang tua, memberi nama anak itu ibarat berdoa. Ketika dia dilahirkan, mungkin angan-angan setiap orang tua mulai berkecamuk. Mau jadi apa anak ini kelak? Akankah anak ini menjadi anak yang pintar, cantik, dan sukses? Begitu banyak yang diharapkan orang tua dari anaknya. Agar sang keturunan tumbuh sebagaimana yang diimpikannya, sepanjang hayatnya orang tua akan berdoa untuk anaknya. Dan sebaris nama adalah bentuk doa yang tidak terputus dari orang tua untuk anaknya.

Untuk my little niece Fauzia Alisha Anindita, kemenangan yang mulia dan sempurna, welcome to the world…:-*

Gambar

 

Your children are not your children

They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.

(Kahlil Gibran)

MENCARI ALASAN

Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima…

Yak, lima bulan sudah meninggalkan blog. Sibuk pasca mencicipi pahit manisnya dunia kerja (jiah, alasan). Tapi sekarang mencoba kembali. Menulis sedikit saja. Tangan udah kaku ni sebetulnya, harus dibiasakan lagi, he… (alasan lagi)

Ngomong-ngomong soal alasan, kadang terlintas di kepala saya, kenapa manusia senang sekali mencari alasan (kayak lagu jadulnya band Malaysia “Exist”: mencari sebab… serta mencari alasan…). Alasan sepertinya membuat manusia aman, lega, atau apapunlah itu namanya, apalagi kalau alasan itu jadi sebuah penyelamat, sebuah pengecualian. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah beralasan, tapi mungkin hanya segelintir yang bisa dijuluki “Master of Alasan” (niru kata Mario Teguh). Alasan yang logis, baik, mungkin itu biasa dan bisa diterima. Tapi alasan yang dekat dengan “bohong”, ini yang jadi masalah (kata orang, bohong itu beranak). Dalam keadaan panik atau stres, orang bahkan bisa menciptakan alasan yang mengada-ada.

Saya mengalaminya sendiri beberapa waktu lalu, saat hendak mudik ke Ciamis. Awalnya, saya berniat naik bus yang berangkat pukul 9 dari Cimahi. Saya sudah stay beberapa menit sebelumnya bersama sejumlah calon penumpang lain. Ternyata bis tidak juga datang sampai pukul 11an. Saya lalu mendapat kabar bahwa bus terjebak macet di daerah Gentong gara-gara ada truk tronton terguling. Alhasil bus baru datang jam 13.30. Total, saya terlunta-lunta menunggu > 4 jam, sendirian pula. Pas naik bus, penuh banget lagi. Dan sempat macet juga di jalan. Saya udah menduga pasti nyampenya malam. Saya jengkel, orang tua saya pasti menginterogasi saya, kenapa saya pulang telat. Dan akhirnya untuk menenangkan suasana hati, mulailah kepala saya yang mumet ini bekerja mencari alasan kenapa saya harus telat berangkat.

Alasan I
Bus ini telat gara-gara truk tronton itu terguling. Ngapain coba tuh truk harus keguling? Muatannya pasti over!

Alasan II
Truk tronton itu bikin macet karena dia terguling di daerah Gentong, daerah padat kendaraan yang lalu lalang dari dan ke arah Bandung. Coba kalau itu truk tronton ga usah lewat jalan Gentong, ga akan kayak gini kejadiannya!

Alasan III
Bus yang berangkat sebelumnya (jadwal jam 7) katanya gak telat berangkat meski tetep kejebak macet di jalan. Tapi setidaknya nyampenya gak akan kemalamanlah. Awalnya saya juga berniat berangkat pake bis jam 7, tapi ada teman yang mau ketemu di atas jam 7 jadi saya undur. Tuh kan, coba dia bisa ketemu saya sebelum jam 7, saya bisa berangkat lebih pagi dan gak harus nunggu luntang-lantung kayak gini, sampe berangkatnya kesianganlah, nyampe kamalamanlah.

Alasan IV
Sebetulnya teman saya minta ketemu di atas jam 7 karena dia abis lembur, jadi gak bisa disalahin juga. Yang rese tuh teman-teman semess saya yang nebeng nonton tv di kamar saya sampe saya gak bisa packing dan keburu ngantuk. Akhirnya baru bisa packing paginya. Tetep aja gak akan bisa ngejar bus yang jam7!

Another sample:

Find Out The Reason

Dan… begitulah. Kasus di atas mungkin sekedar contoh betapa senangnya orang mencari alasan, apalagi dalam keadaan terjepit. Alasan yang salah selalu identik dengan menyalahkan orang dan mengamankan posisi diri sendiri. Hoho…Kenapa ya…

Kayaknya obat buat nambal penyakit lagu Exist ini harus dateng dari lagu lagi. Lagu Beatles “Let It Be” mungkin… Atau jingle-nya Holcim, “Que Sera Sera, Whatever Will Be, Will Be…” Yang terjadi, biarlah terjadi. Nyari alasan cuma bikin capek sebenernya… Otak kanan dan kiri sama-sama diperas (karena memadukan bayangan pengalaman yang sudah dilewati plus reka-rekaan atau dramatisasi kreatif dari pengalaman itu). Efek positifnya ya mungkin orang yang pinter nyari alasan akan jadi manusia yang sangat kreatif :-p

Intinya sih, sebetulnya ga ada yang salah dengan yang namanya alasan kalau bisa diposisikan pada tempatnya yang benar dan wajar. Itu tergantung pilihan masing-masinglah. Tergantung situasi juga dan tergantung seberapa besar kita mau bertanggung jawab.ti
Baiklah, selamat mencari alasan!*)

*) Untuk pembaca, alasan untuk tidak membaca blog saya lagi
Untuk saya, alasan untuk menunda-nunda nulis blog lagi, haha…