Golden Goodbye Atau…?

21 Desember 2010…

Hm, tanggal apa itu?
Oh, bukan itu bukan tanggal lahir kucing saya. Apa? Bukan, itu juga bukan tanggal saya pertama kali bisa naik sepeda. Maaf? Oh, apalagi itu masa itu tanggal pernikahan saya. Jangan bercanda, sampai detik ini saya belum jadi istri orang kok. Ciyus…^_^

Ehm, 21-12-10 itu memang bukan angka cantik. Tapi buat saya, tanggal itu punya nilai historis. Pada tanggal itu saya pertama kali menjelma jadi manusia pekerja setelah 5 tahun jadi manusia pembelajar (yaelah bahasanyo). Dan tempat saya pertama kali berpijak sebagai pekerja adalah ini:

image

R&D Centre PT. Leuwigajah šŸ˜€

Jujur, nggak pernah terpikir sebelumnya bakal berkarir di sini. Tapi takdir menempatkan saya di sini. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari kode dari Tuhan. Saya memang harus singgah di sini dulu, untuk belajar sesuatu. Masih banyak yang belum saya tahu, belum saya kuasai. Di sini, saya mulai mengikis semua itu.

Sewaktu kuliah dulu, saya nggak suka formulasi. Saya lebih suka farmakologi. Tapi… di sini saya ditempatkan di bagian formulasi. Awalnya sempat nggak pede, nggak suka. Tapi setelah dijalani jadi enjoy juga. Banyak ilmu baru, pengalaman baru.

Sewaktu kuliah dulu, saya nggak mudeng soal farmasi industri. Saya juga nggak pilih penempatan kerja praktek di industri. Makanya pas cari kerja dulu, saya awalnya nggak minat ke industri. Tapi…akhirnya saya terdampar juga di sini. Walaupun berposisi di bagian R&D-nya, saya punya kesempatan terjun langsung ke produksi. Saya terlibat sistem pengembangan produk secara utuh. Ngefek, saya mulai mengerti industri. Belajar di lapangan memang lebih recommended dibandingkan teori saja.

image

Cubicle saya

Dan…sewaktu kuliah dulu, saya ngekos di tempat yang nyaman, yang menawarkan segala bentuk kemudahan, termasuk soal makanan. Ibu kosnya buka kantin uy. Jadi aja sarapan, makan siang, makan malam, bahkan sahur di bulan puasa pun terjamin. Imbasnya…saya jadi nggak pinter masak, sesuatu yg menurut saya menghambat kesejatian saya sebagai seorang wanita (eaaa…). Paling cuma bisa masak mie, telor, tahu-tempe goreng, ah yang simpel-simpel pokoknya. Tapi…di sini saya tinggal di mess. Biarpun messnya dilengkapi fasilitas ini itu yang lumayan komplit (semua gratis termasuk air, gas, listrik, dll.) tapi ya gak dikasih makanan. Warung makanan di dekat sini juga cenderung itu-itu saja. Jadi sebagai pekerja yang ingin irit dan coba untuk kreatif, mulailah saya belajar memasak. Dan beruntung di awal masa pembelajaran itu, saya memasak ditemani 2 koki handal (Re: Qori dan Nuri ^_^). Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dan bersolo karir karena merasa masing-masing punya selera masak yang berbeda dan pede sudah bisa berdiri sendiri, hehe… Yah lumayanlah biarpun masih harus terus belajar, seenggaknya variasi masakan saya sudah cukup banyak dari mulai yang cincai macam perkedel jagung atau tahu-tempe bacem sampai yang agak rumit macam tongseng sapi atau udang lada hitam… (sombong).

image

Buku Resep Kenangan

Pokoknya selama tinggal di sini berasa dididik jadi ibu rumah tanggalah. Masak, nyuci baju-piring, nyapu-ngepel kamar, setrika baju, bersihin kulkas, sampai pergi ke pasar dan nawar-nawar sayuran, semuanya kita lakukan di sini sendiri. Mulai bisa meraba capeknya kombinasi jadi wanita karir dan ibu rumah tangga, apalagi kalau sudah punya suami dan anak.

image

Dapur bersama

image

Ruang TV bersamo

image

Kamar pribadi

Maka…ketika saya memutuskan untuk mengakhiri petualangan saya di sini yang sudah hampir mencapai 2 tahun, hm sulit untuk dilukiskan. Ya, saya akan berlabuh di dermaga kerja yang baru. Kepindahan saya ke tempat yang baru ini ibarat Luis Figo yang pindah dari Barcelona ke Real Madrid, jadi kadang dianggap pembelot, haha…Hm, tapi mungkin lebih mirip Cesc Fabregas yang pindah dari Arsenal ke Barcelona ya, karena untuk bisa pindah harus bayar dulu, hahaha… Ah, sudahlah…

Mungkin semua orang menilai saya happy 100 % karena kepindahan ini. Saya terlihat tidak sedih sewaktu perpisahan kemarin. Tapi sesungguhnya…tidak seperti itu. Perasaan saya berkecamuk karena di satu sisi saya merasa keputusan ini adalah sebuah golden goodbye dan di sisi yang lain saya merasa ini adalah sebuah sacrifice atau pengorbanan. Kata Mario Teguh, jika kita meninggalkan sesuatu yang kurang baik untuk mencapai sesuatu yang baik, itu adalah golden goodbye. Sebaliknya, ketika kita meninggalkan sesuatu yang baik untuk meraih sesuatu yang lebih atau sama baiknya, itu adalah pengorbanan.

Selama bekerja di sini, banyak hal yang sudah saya lalui. Ada yang baik, ada yang buruk. Meninggalkan hal yang buruk di sini untuk beralih ke tempat lain di mana ada hal baru yang (mungkin, semoga) lebih baik bagi saya adalah sebuah golden goodbye. If I stay here for longer time, I will be stucked, I think. Di sisi lain, saya akan meninggalkan orang-orang baik yang saya kenal di sini: rekan kerja, anak buah, teman mess, satpam, cleaning service. Saya juga harus melepas tempat kerja yang nyaman dan mess yang serba ada, hingga berpisah dengan kota Bandung (dan Cimahi) yang sudah jadi rumah kedua saya selama hampir 7 tahun. Itu…pengorbanan.

image

Meeting terakhir di ruang kerja

image

Bersama Para Asisten Apoteker

image

Bersama sesama staf R&D

image

Saya, pengganti saya, dan para asisten jadi banner tepi jalan šŸ˜€

Yah, bagaimanapun seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, semua akan (p)indah pada waktunya. Dan setelah beberapa rekan saya yang kemarin sudah pergi duluan, kini giliran saya yang bermigrasi. Ibaratnya komputer, saya sedang restart. Semuanya dimulai dari awal lagi. Iā€™m gonna live in new place with new people around and new challenge behind. Wish me luck, wish me stronger, wish me grow up, in better way. Bismillah…

Baca lebih lanjut