BELAJAR INDRAMAYU

Beberapa bulan lalu, saya menerima kabar bahagia. Sahabat saya sejak kuliah, teman satu kos selama 4 tahun, akan menikah. Waah, pastinya ikut bahagia dong. Sebagai teman yang baik, saya bantu dia survey kartu undangan dan souvenir. Haha, lumayan buat referensi pribadi. Dan puncaknya, sebisa mungkin saya harus bisa hadir di pernikahannya. Masalahnya, dia orang Indramayu, jadi nikahnya ya di sana. Agak jauh juga…

Selama ini kalau ada teman yang nikahnya jauh, kadang suka males datang. Mikirin transportasinya, capeknya, ribetnya, pokoknya ada ajalah alasannya. Tapi buat yang satu ini, entah kenapa sejak awal saya excited. Mungkin karena status si pengundang sebagai sahabat sejak kuliah, teman satu kos selama 4 tahun, hehe… Tapi di luar itu, saya penasaran karena akan berkunjung ke tempat yang baru. Saya yang asli Ciamis sudah terbiasa menempuh perjalanan di jalur Selatan Jawa Barat. Kalau jalur Utara mah jarang. Pernah juga ke Cirebon. Jadi ke Indramayu ini adalah pengalaman pertama…:-)

Maka mulailah saya mengumpulkan massa untuk bersama-sama ke Indramayu. Sampai detik terakhir, terkumpul 5 orang (termasuk saya). Kami pesan travel ke Indramayu, berangkat pagi tanggal 3 Maret, backpacker-an semua. Jadi kalau tim liburan kami ini masuk acara Koper dan Ransel di Trans TV, mungkin judul acaranya harus diubah jadi Ransel dan Ransel Lagi.

Perjalanan ke Indramayu memakan waktu sekitar 5 jam. Jalur yang dilewati cukup berliku. Jalanannya agak kurang bagus, berasa sempit-sempit juga. Tapi si supir mobil travel ini luar biasa. Jalanan butut, tetep ngebut. Wuih… Tapi kalau boleh jujur, pemandangan sepanjang jalan di jalur selatan rasanya lebih indah dibanding jalur utara. Kondisi jalannya juga lebih bagus. Kenapa ya?

Setelah mampir makan tahu lezat di Sumedang, perjalanan ke Indramayu terasa lebih indah (karena kenyang). Mendekati Indramayu, deretan rumah-rumah di sepanjang jalan yang saya lewati mulai terlihat seperti perumahan di Jawa Tengah. Saya jadi ingat kampung halaman ayah saya di Kebumen. Mungkin karena Indramayu ini letaknya di perbatasan Jabar dan Jateng, jadi biarpun berlokasi di ranah Sunda, nuansa Jawanya juga kelihatan.

Tepat jam 12 siang, kami tiba di kota Indramayu. Kesan pertama, Indramayu itu panaaas. Tepat seperti kata teman saya, lebih panas dari Jakarta.

Fakta 1:
Letak Kabupaten Indramayu yang membentang sepanjang posisi pantai utara pulau Jawa membuat suhu udara di Kabupaten Indramayu cukup tinggi berkisar antara 22,9 – 30C (ref: http://www.indramayukab.go.id). Hoo, pantesan, hareudang…

Kami lalu langsung menuju penginapan. And this is it our guest house:

DNisa Guest House

DNisa Guest House

Penginapannya memang sederhana, nggak terlalu mahal, tapi bersih dan cukup nyaman. Kami booking 2 kamar. Kamar-kamar lainnya konon dibooking keluarga calon suami teman saya. Ya, kami memang punya maksud terselubung menginap di situ. Kami ingin mengintip persiapan keluarga pengantin pria, selain mencari celah adakah dari keluarga pengantin pria yang masih jomblo.

Kami cuma istirahat 1 jam, lalu langsung angkat kaki lagi. Kami mau makan, kami lapaaar… Dan hanya dengan berjalan kaki, kami menemukan food court yang lumayan…

Setelah Perut Kenyang

Setelah Perut Kenyang

Sehabis makan, kami menuju Yogya Dept. Store. Yap, betul sekali. Kami ke Indramayu dan sempat-sempatnya main ke Yogya Dept. Store yang di Bandung pun balatak. Kami harus ke sana, karena salah satu dari kami ada yang ketinggalan sepatu pesta dan harus beli dulu di situ. Ironis..

Ada yang lucu ketika kami keluar dari supermarket dan hendak menuju rumah teman saya di Jl. Soeprapto. Kami yang buta sama sekali tentang jalanan di Indramayu bertanya pada tukang parkir supermarket, “Pak, kalau mau ke Jl. Soeprapto ke arah mana ya? Masih jauh gak dari sini?”. Tukang parkirnya cuma jawab, “Ooh…” lalu malah nanya temennya, “Htyxgryjoll***dre###uygbt***…?”. Temannya bales, “Byjrllojkshyuk*****vgtrf###”””hbgsafn…”.
Saya mencoba memahami apa yang mereka bicarakan. Hasilnya nihil, nggak ngerti. Saya menengok teman saya yang orang Jawa, “Qori, mereka ngomong apa?”
Qori menggeleng, “Nggak ngerti…”
Saya bingung. Ini Bukan bahasa Sunda, Jawa juga bukan. Padahal Indramayu itu ada di Jabar.

Akhirnya, kami menemukan jawaban dari bapak-bapak lain yang juga sedang mangkal di situ. Jawaban dalam bahasa Indonesia…

Fakta 2:
Penduduk di Kabupaten Indramayu, sebagian besar menggunakan bahasa Cirebon-Indramayu. Pengguna bahasa Sunda terbilang minoritas, yakni sekitar hanya belasan desa saja. Bahasa Sunda yang dipakai pun tidak sama dengan bahasa Sunda yang umum digunakan di tanah Pasundan. Bahasa Sunda-nya khas, seperti berpadu dengan bahasa daerah lain. Namanya bahasa Sunda Lea dan Sunda Eretan.

Kami lalu memutuskan naik becak saja untuk menuju ke rumah teman kami di Jl. Soeprapto. Wuih, seru… Entah kapan terakhir kali saya naik becak. Yang jelas sudah cukup lama, dan jadinya pengalaman kali ini mengasyikan. Pas banget naik becak sambil keliling kota Indramayu yang panas. Rasanya semriwing…

Jejeran Becak di Indramayu

Jejeran Becak di Indramayu

Fakta 3:
Konon dari dulu, di indramayu memang sudah banyak berseliweran becak-becak. Becak seolah sudah menjadi identitas transportasi di kota ini, ya mirip-mirip di Yogyalah. Namun sekarang pengguna jasanya semakin berkurang lantaran sudah banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi. Sayang sekali ya…Jadi beruntunglah kami sebagai turis, bisa berbagi rezeki dengan banyak penarik becak selama di Indramayu kemarin…:-)

Kami jadi ketagihan naik becak. Sehabis mengunjungi rumah teman saya yang mau nikah itu, kami kembali keliling kota Indramayu dengan becak. Awalnya, kami mau ke pantai, tapi batal karena hari sudah menjelang sore dan langit mendung. Kami memutuskan mengunjungi tempat yang direkomendasikan teman saya: Paoman Art, pusat pembuatan batik Indramayu. Ya, Indramayu memang cukup terkenal dengan batiknya. Buktinya di tengah kotanya saja ada tugu ibu-ibu sedang membatik.

Untuk mendatangi tempat yang bagus memang butuh perjuangan. Di tengah-tengah perjalanan dengan becak, hujan turun. Meski terpal becak sudah diturunkan, tetap saja basaaah. Syukurlah, akhirnya sampai juga. Tapi karena sudah sore dan hujan, kami tidak bisa lagi melihat proses pembuatan batik. Kami Cuma bisa berkunjung ke tokonya.

Tugu Batik Nih...

Tugu Batik Nih...

Etalase Batik

Etalase Batik

Bu Ismi Bersama Mas-Mas Batik

Bu Ismi Bersama Mas-Mas Batik

Fakta 4:
Yang punya Batik Paoman Art itu namanya Ibu Hajah Sudijono yang konsisten dengan motif batik Indramayu-nya. Batik Indramayu termasuk dalam jenis Batik Pesisir. Jika dilihat dari jenis pola-pola yang ada, mayoritas motif batik yang digunakan di Indramayu hadir dalam kegiatan penangkapan ikan di laut. Motif batik di Indramayu banyak mendapat pengaruh besar dari gambar atau motif kaligrafi dari Arab, Cina atau daerah Jawa Tengah/Jawa Timur. Karakteristik menonjol dari Batik Indramayu adalah ranggam yang dinyatakan dengan flora dan fauna.(http://wiralodra.com)

Waktu maghrib, kami pulang ke penginapan dengan membawa oleh-oleh batik dan dengan kembali menggunakan jasa angkutan umum favorit kami: becak…:-p

Dan malam minggu itu menjadi malam minggu pertama kami di Indramayu. Sepi, jadi kami meramaikan diri dengan main kartu.

Yah Adegannya Mirip Beginilah

Yah Adegannya Mirip Beginilah

Fakta 5 (tidak ada hubungannya dengan Indramayu):
Teman-teman saya semuanya ternyata maniak kartu remi. Malam itu saya di-bully karena satu-satunya yang paling tidak mahir main kartu. Kejam…

Keesokan harinya, kami repot menyiapkan diri ke pesta pernikahan sekaligus packing karena jam 1 siang sudah harus siap dijemput travel lagi untuk balik ke Bandung. Kami menuju ke tempat pernikahan lagi dan lagi menggunakan alat transportasi idola kami: becak. Meski bermake up dan bergaun, kami tetap percaya diri. Kami sampai di tempat pesta dan turun dari becak dengan elegan, bak Cinderella yang turun dari kereta kencana. Meski di sana bertemu dengan teman-teman kuliah yang bermobil, nyali kami nggak ciut. Bagi kami, becak is the best… ;-p
Dan ini beberapa foto pernikahannya:

Bersama Mempelai (1)

Bersama Mempelai (1)


Bersama Mempelai (2)

Bersama Mempelai (2)

The Girls In The Party

The Girls In The Party

REUNI

REUNI

Setelah happy-happy bersama pengantin dan teman-teman semasa kuliah, kami harus berpisah dengan mereka T-T… Di pelaminan, kami sempat-sempatnya nanya ke pengantin pusat oleh-oleh di Indramayu, haha… (gak tau diri). Dan kami pun langsung cabut ke tempat yang dituju: Pasar Indramayu. Naik apa? 100 % benar: becak lagi…

Naik Becak Lagi Ke Pasar

Naik Becak Lagi Ke Pasar

Di Pasar Indramayu ini, ada banyak toko oleh-oleh. Kami masuk ke toko Arto Jaya. Sempat bingung pilih apa. Akhirnya masing-masing dari kami membawa pulang manisan mangga, dodol mangga, rengginang udang/terasi, kerupuk kulit ikan, dan keripik melinjo.

Fakta 6
Ada banyak penganan khas Indramayu. Salah satunya mangga dan olahannya (sampai-sampai di kota ini ada Tugu Mangga). Selain itu, karena Indramayu dekat dengan pantai, olahan lautnya juga melimpah, yang bersumber dari ikan, udang, dan cumi.

Tugu Mangga

Tugu Mangga

Banyak Pilihan Uy

Banyak Pilihan Uy

Dan jam 2 siang, berakhirlah perjalanan kami di Indramayu. Kembali ke Bandung dengan menggunakan jasa travel yang sama dengan saat kami berangkat dari Bandung. Travel dengan tabiat supir yang semuanya sama: tetap ngebut di jalanan yang butut.

Indramayu, nice little city. Episode belajar Indonesia kali ini adalah belajar Indramayu…;-)

Buat Ineu Utami Dewi, Citra Dewi Salasanti, Qori Yasinta, dan Ismi Mu’minati, terima kasih untuk perjalanan yang singkat dan menyenangkan ini.

Saksikan Penampilan Kami, Coming Soon...

Saksikan Penampilan Kami, Coming Soon...

Buat Ayu Lazuardi dan Firdaus Sitepu, selamat menempuh hidup baru. Live happily ever after…

Langgeng Ya...

Langgeng Ya...