PERKENALKAN: PEMERHATI JALANAN

Jumat 10 Februari yang lalu, saya mudik ke Ciamis. Seperti biasa, sore-sore pulang kerja, naik bus Budiman dari Cimahi menuju Tasik. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan saya selamat sampai tujuan. Keesokan paginya, saya melihat berita di tv. Di malam yang sama ketika saya mudik, bus Karunia Bakti jurusan Garut-Jakarta mengalami kecelakaan parah di Cisarua. Korban tewas mencapai 14 orang.

Dalam waktu 1-2 minggu setelahnya, kecelakaan lain terjadi dan kembali melibatkan bus. Ada bus Mira di Ngawi, bus Maju Jaya di Sumedang, dan terakhir saya dengar bus Primajasa juga mengalami kecelakaan di Purwakarta. Ada apa ini?

Bus Yang Kecelakaan Nii

Bus Yang Kecelakaan Nii

Terus terang, sebagai pengguna bus, saya miris. Konon katanya, hampir semua kecelakaan bus belakangan ini karena human error. Sopir dan kondektur lalai memperhatikan kondisi busnya, bahkan akhirnya ada yang ketahuan pake narkoba sebelum nyetir. Pemerintah sih katanya sudah mengambil tindakan tegas dengan mencabut izin beberapa PO yang bandel.

Menyaksikan maraknya kecelakaan yang melibatkan bus, semakin mengindikasikan sarana transportasi umum di Indonesia yang belum sepenuhnya mampu menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang. Kita para penumpang kan bayar ongkos supaya dilayani dengan baik dan diantarkan ke tempat tujuan dengan selamat. Kalau pengelola dan pengemudi angkutan umum tidak serius menjalankan tanggung jawabnya, mau bagaimana nasib kita?

Ingat angkutan umum, ingat macet. Bukan, bukan berarti angkutan umum itu penyebab macet. Konon, di Jakarta yang pusat kemacetan itu, porsi angkutan umum Cuma sekitar 2 %, sisanya kendaraan pribadi. Tahun 2011, jumlah kendaraan di Jakarta ada sekitar 7,34 juta unit. Dan setiap hari, ada 1.068 motor dan 216 mobil bertambah di Ibukota. (Ref: Jurnal Nasional)

Macet cet cet...

Nah… sekarang bisa ditebak kan kenapa coba bisa ada begitu banyak kendaraan pribadi? Karena eh karena angkutan umum di Indonesia dinilai kurang ok, kurang nyaman, kurang aman, dan serba kurang-kurang lainnya.

Memang, kadang saya juga kerap berpikir ideal. Coba Indonesia seperti negeri Singapura atau Korea, yang membatasi jumlah kendaraan pribadi sehingga bisa mengurangi kemacetan. Coba masyarakat Indonesia bisa sadar diri untuk tidak menjadikan kendaraan pribadi sebagai gaya hidup. Coba orang-orang Indonesia memilih sepeda atau otoped saja sebagai kendaraan pribadi (lucunya membayangkan jalanan penuh orang berotoped :-p).

Tetapi ya mau bagaimana, jadi ideal itu susah. Jumlah kendaraan pribadi bakalan susah ditekan selama bea masuk kendaraan bermotor import gak seketat di Singapura, misalnya. Mempunyai mobil atau motor pribadi kayaknya sekarang sudah jadi tradisi, obsesi, life style. Impian setiap keluarga baru rata-rata setelah punya rumah adalah punya mobil/motor. Hadiah utama beragam undian juga rata-rata mobil. Belum lagi kredit mobil/motor yang marak di mana-mana, semakin mempermudah orang mendapatkan kendaraan impiannya. Pokoknya punya kendaraan pribadi itu gaya, keren, di samping memang butuh tentunya.

Kadang saya sirik, melihat Kyoto di Jepang yang berhasil jadi kota sepeda. Hampir semua penduduk di sana memakai sepeda ke mana pun mereka pergi: ke sekolah, ke kantor, ke pasar. Jalanan di sana jadi jauuh dari yang namanya macet dan yang penting, bebas polusi ^_^. Ckck, orang Jepang itu sudah terkenal pinter, ulet, dan ternyata sehat lagi ya. Tappii… meski sekarang di Jakarta sedang digalakan Bike to Work, dan di beberapa kota besar di Indonesia sudah banyak disediakan area untuk bersepeda di jalan raya, teteeep kayaknya bakalan susah mewujudkan mimpi Jakarta/Bandung jadi Kyoto-nya Indonesia. Iklim Indonesia tuh tropis, panaaass… Gak semua orang mau mengayuh sepeda sepanjang berkilo-kilo meter di bawah sengatan matahari. Udah keringetan, gosong, dehidrasi, waa… Kecuali sepedanya dimodifikasi, jadi ada tudungnya (kayak tukang cilok atau es krim Walls), hehe…

Sepedaan di Kyoto

Lantas apa ada cara lain yang dinilai ampuh? Nah, berita terbaru, konon katanya pemerintah mau tuturut munding Singapura, yaitu menerapkan sistem ERP alias Electronic Road Pricing alias sistem jalan berbayar. Mirip-mirip tol tapi hanya diberlakukan di jalan-jalan yang rawan macet dan di jam-jam sibuk. Uniknya, cara bayarnya pake kartu prabayar (kayak pulsa hape aja) dan konon katanya mahal. Pokoke teknologinya keren, ada cctv yang bisa merekam plat no kendaraan, jadi bisa mendeteksi kendaraan mana saja yang taat aturan (sudah bayar maksudnya) atau yang main nyelonong saja. Sanksi bagi yang melanggar aturan ERP konon katanya juga berat di ongkos.

ERP di Singapura

Meski ide pemerintah itu sekilas terlihat “wow keren!”, banyak pengamat yang menilai cara itu nggak akan cukup efektif menekan angka kemacetan. ERP Cuma memberatkan masyarakat dan menguntungkan pemerintah. Banyak juga yang membandingkan kesiapan pemerintah Singapura dan Indonesia. Ya iyalah Singapura berani memasang sistem ERP, orang pengelolaan jalan raya mereka oke. Kalau kita? Ada juga jalan bolong-bolong atau proses betonisasi (istilah macam apa itu?!)-nya nggak rampung…:-/

Jadi, pendapat banyak kalangan lagi-lagi kembali ke sesuatu yang ideal. Kemacetan hanya bisa ditanggulangi dengan mengurangi jumlah kendaraan. Cara terbaik adalah dengan mengalihkan keinginan masyarakat untuk menggunakan/memiliki kendaraan pribadi melalui pelayanan yang memuaskan pada berbagai jenis media transportasi umum. Namun sayangnya, menilik berbagai kasus kecelakaan dan juga kejahatan yang melibatkan alat transportasi umum di Indonesia, hal itu masih jauh dari kenyataan. Wajar saja kalau akhirnya masyarakat kita akhirnya tetap lebih memilih memiliki kendaraan pribadi dibandingkan harus menumpang kendaraan umum yang tidak nyaman dan tidak aman. So, semuanya kembali ke pemerintah dan instansi terkait yang berwenang.

Kalau diibaratkan hukum kausatif jalanan itu begini:

Transportasi umum (fasilitas nggak ok, supir ugal-ugalan, pemerkosaan/pencopetan) –> kendaraan pribadi (ok, ber-ac) –> jumlah numpuk –> macet –> tua di jalan

Transportasi umum (fasilitas memuaskan, supir dan kondektur menerapkan 3 S: senyum, salam, sapa) –> kendaraan pribadi (nggak gitu perlu, yang sudah ada di rumah simpen di garasi saja dulu :-p) –> jumlah berkurang –> jalan lowong, lancar –> awet muda

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau pelayanan yang ok dari sarana transportasi umum itu diyakini sekali mampu menurunkan angka kemacetan. Bisa ditengok di negara lain yang bus, kereta, atau subway-nya oke, masyarakatnya banyak yang lebih nyaman naik kendaraan umum sekalipun misalnya mereka punya kendaraan pribadi. Dan sepertinya pemerintah kota Bandung sedang mencoba untuk me-renew sistem transportasi mereka menjadi lebih ok. Sejak 2011 lalu, sudah rame diberitakan rencana Bandung membangun stasiun kereta gantung dari Pasteur-PVJ-Sabuga. Konon teknologinya didatangkan dari Eropa. Diharapkan kereta gantung ini bisa sedikitnya menurunkan angka kemacetan di Pasteur yang memang lumayan tinggi, terutama di hari libur. Yah, mudah-mudahan terwujud ya. Kan lucu membayangkan ada kereta bergelantungan di langit Pasteur. Cara turunnya bebas, mau cara aman berhenti di stasiun kereta gantung berikutnya atau cara ekstrim dengan loncat pake parasut?
Silakan dipilih…^_^

Kereta gantung di Bandung, asyiiik