MENCARI ALASAN

Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima…

Yak, lima bulan sudah meninggalkan blog. Sibuk pasca mencicipi pahit manisnya dunia kerja (jiah, alasan). Tapi sekarang mencoba kembali. Menulis sedikit saja. Tangan udah kaku ni sebetulnya, harus dibiasakan lagi, he… (alasan lagi)

Ngomong-ngomong soal alasan, kadang terlintas di kepala saya, kenapa manusia senang sekali mencari alasan (kayak lagu jadulnya band Malaysia “Exist”: mencari sebab… serta mencari alasan…). Alasan sepertinya membuat manusia aman, lega, atau apapunlah itu namanya, apalagi kalau alasan itu jadi sebuah penyelamat, sebuah pengecualian. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah beralasan, tapi mungkin hanya segelintir yang bisa dijuluki “Master of Alasan” (niru kata Mario Teguh). Alasan yang logis, baik, mungkin itu biasa dan bisa diterima. Tapi alasan yang dekat dengan “bohong”, ini yang jadi masalah (kata orang, bohong itu beranak). Dalam keadaan panik atau stres, orang bahkan bisa menciptakan alasan yang mengada-ada.

Saya mengalaminya sendiri beberapa waktu lalu, saat hendak mudik ke Ciamis. Awalnya, saya berniat naik bus yang berangkat pukul 9 dari Cimahi. Saya sudah stay beberapa menit sebelumnya bersama sejumlah calon penumpang lain. Ternyata bis tidak juga datang sampai pukul 11an. Saya lalu mendapat kabar bahwa bus terjebak macet di daerah Gentong gara-gara ada truk tronton terguling. Alhasil bus baru datang jam 13.30. Total, saya terlunta-lunta menunggu > 4 jam, sendirian pula. Pas naik bus, penuh banget lagi. Dan sempat macet juga di jalan. Saya udah menduga pasti nyampenya malam. Saya jengkel, orang tua saya pasti menginterogasi saya, kenapa saya pulang telat. Dan akhirnya untuk menenangkan suasana hati, mulailah kepala saya yang mumet ini bekerja mencari alasan kenapa saya harus telat berangkat.

Alasan I
Bus ini telat gara-gara truk tronton itu terguling. Ngapain coba tuh truk harus keguling? Muatannya pasti over!

Alasan II
Truk tronton itu bikin macet karena dia terguling di daerah Gentong, daerah padat kendaraan yang lalu lalang dari dan ke arah Bandung. Coba kalau itu truk tronton ga usah lewat jalan Gentong, ga akan kayak gini kejadiannya!

Alasan III
Bus yang berangkat sebelumnya (jadwal jam 7) katanya gak telat berangkat meski tetep kejebak macet di jalan. Tapi setidaknya nyampenya gak akan kemalamanlah. Awalnya saya juga berniat berangkat pake bis jam 7, tapi ada teman yang mau ketemu di atas jam 7 jadi saya undur. Tuh kan, coba dia bisa ketemu saya sebelum jam 7, saya bisa berangkat lebih pagi dan gak harus nunggu luntang-lantung kayak gini, sampe berangkatnya kesianganlah, nyampe kamalamanlah.

Alasan IV
Sebetulnya teman saya minta ketemu di atas jam 7 karena dia abis lembur, jadi gak bisa disalahin juga. Yang rese tuh teman-teman semess saya yang nebeng nonton tv di kamar saya sampe saya gak bisa packing dan keburu ngantuk. Akhirnya baru bisa packing paginya. Tetep aja gak akan bisa ngejar bus yang jam7!

Another sample:

Find Out The Reason

Dan… begitulah. Kasus di atas mungkin sekedar contoh betapa senangnya orang mencari alasan, apalagi dalam keadaan terjepit. Alasan yang salah selalu identik dengan menyalahkan orang dan mengamankan posisi diri sendiri. Hoho…Kenapa ya…

Kayaknya obat buat nambal penyakit lagu Exist ini harus dateng dari lagu lagi. Lagu Beatles “Let It Be” mungkin… Atau jingle-nya Holcim, “Que Sera Sera, Whatever Will Be, Will Be…” Yang terjadi, biarlah terjadi. Nyari alasan cuma bikin capek sebenernya… Otak kanan dan kiri sama-sama diperas (karena memadukan bayangan pengalaman yang sudah dilewati plus reka-rekaan atau dramatisasi kreatif dari pengalaman itu). Efek positifnya ya mungkin orang yang pinter nyari alasan akan jadi manusia yang sangat kreatif :-p

Intinya sih, sebetulnya ga ada yang salah dengan yang namanya alasan kalau bisa diposisikan pada tempatnya yang benar dan wajar. Itu tergantung pilihan masing-masinglah. Tergantung situasi juga dan tergantung seberapa besar kita mau bertanggung jawab.ti
Baiklah, selamat mencari alasan!*)

*) Untuk pembaca, alasan untuk tidak membaca blog saya lagi
Untuk saya, alasan untuk menunda-nunda nulis blog lagi, haha…

Iklan