GARA-GARA BOLA

Hari Minggu lalu, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke pasar pagi Gasibu. Niatnya cuma beli kerudung. Selain itu ya iseng saja, refreshing. Saya naik angkot Caheum-Ledeng. Di angkot ada banyak penumpang yang sama-sama mau ke Gasibu. Ketika tenda-tenda pedagang pasar Gasibu mulai kelihatan, salah seorang penumpang (ibu-ibu muda) berseru pada suaminya, “Pak, tuh ada kaos Timnas. Tapi no 9…” Sang suami yang duduk di sebelahnya sambil memangku putranya yang masih balita menjawab begini, “Ah, jangan Gonzales. Cari yang lain…”

Saya senyum-senyum sendiri melihatnya. Tidak heran sebetulnya karena pemandangan seperti itu sudah sering saya lihat di TV, di mana berita kaos Timnas sepakbola Indonesia laris manis dijual di berbagai daerah. Dan ketika saya menginjakkan kaki di pasar Gasibu, benar saja pedagang kaos Timnas di mana-mana dan tetap saja rame. Bukan itu saja, beberapa pengunjung juga terlihat dengan bangga berjalan-jalan di Gasibu memakai kaos atau jaket merah berlambang Garuda di dadaku itu. Saya ingat Minggu malam itu final piala AFF. Wah, pasti orang-orang sangat excited, makanya tambah rame saja yang mau beli kaos Timnas.

Penjual Kaos Timnas Di mana-mana (by: koranbola.info)

Fenomena seperti itu saya akui memang membanggakan. Sepakbola menjadi wabah. Bukan karena Piala Dunia, tapi Piala ASEAN. Bukan Timnas Brazil atau klub Barcelona, tapi Timnas Indonesia. Jadi tuan rumah di negeri sendiri memang indah. Saya sebagai penggemar bola sejak SD cuma suka MU. Saya bangga jadi fans MU… Tapi melihat Timnas sepakbola Indonesia dengan performa yang membaik seperti itu, kebanggaannya berlipat-lipat, hehe… Sebetulnya fenomena macam ini sudah sempat terjadi tahun 2007 waktu Indonesia jadi tuan rumah Piala Asia. Penampilan Timnas juga impresif waktu itu, dan sepakbola sempat mewabah di seantero Nusantara. Tapi waktu itu tidak seheboh sekarang lantaran Indonesia cepat tersingkir di babak penyisihan (maklum lawannya Korsel, Arab Saudi, getoo…).

Timnas Indonesia Nii...

Kalau sekarang, sudah 3 minggu penikmat bola dibuai penampilan Timnas yang ciamik dan terus-terusan menang. Akhirnya masyarakat dari segala lapisan mulai berduyun-duyun mencintai sepakbola, memuja Timnas. Sanjungan dari media menggila. Seperti muncul selebriti baru. Pagi-siang-sore-malam-pagi lagi-siang lagi di tv yang muncul yaa berita piala AFF, dari mulai suasana latihan, pemain Timnas yang diuber-uber fans, sampai kemenangan yang berkali-kali. Awalnya saya seneng-seneng saja, tapi lama-lama, jujur: bosan. Dan berlebihan. Dan mengkhawatirkan. Waktu saya tau Indonesia vs Malaysia di final, gak tau kenapa kok saya mendadak terlintas final PD 2010 antara Spanyol vs Belanda. Waktu itu, Spanyol kalah dulu di babak awal, tapi berhasil terus melaju sampai ke final. Sementara Belanda menang terus dari babak penyisihan, dan melenggang mulus hingga menantang Spanyol di final. Tapi ternyata konsistensi Belanda terhenti di final oleh Spanyol yang tidak sempurna. Saya sempat menerka-nerka, bisa saja Indonesia bernasib sama dengan Belanda. Antiklimaks…

Dan benar saja, malamnya semuanya terbukti…

Indonesia kalah 3-0 dari Malaysia. Saya saking gak tega nonton sampe matiin tv di tengah pertandingan lalu beralih dengar siaran pandangan mata di RRI (kata teman saya, saya kayak di masa penjajahan, haha… Tapi ini pengalaman pertama. Kalau nonton tv kan tegang, yang ini malah lucu. Penyiarnya semangat banget,“Yaa Ridwan menerima bola dengan kaki kanannya, menggocek bolanya dengan lincah, dan oohh…” Kita jadi sibuk membayangkan kejadian sebenarnya sekaligus geli mendengar penyiarnya yang seperti ngos-ngosan melaporkan jalannya pertandingan). Seusai pertandingan, ada sesi komentar dari penelepon. Saya asyik mendengarkan komentar yang beragam. Intinya banyak yang terus mendukung, banyak yang cari kambing hitam juga. Dari mulai laser, wasit yang berat sebelah, sampai politisasi Timnas yang berakibat persiapan Timnas terganggu. Terhitung sejak malam itu sampai hari berikutnya, saya mencatat “Hate Malaysia” dan “Love Indonesia” jadi salah dua dari 10 besar trending topic di twitter.

Setelah Malaysia Mencetak Gol (By: Vivanews)

Saya kemudian sempat chatting dengan teman saya yang bekerja di Malaysia yang kebetulan juga ikut nonton di Bukit Jalil. Katanya suporter Indonesia dan Malaysia sempat rusuh sebelum pertandingan gara-gara berebut tempat duduk. Saat itu terjadi adu mulut dan isi kebun binatang keluar semua katanya, haha… (saya sempat heran, memangnya orang Malay ngerti ya kalau kita bilang –maaf- anj***, mo****, dan sebagainya? Apa budaya menghujat dengan memakai nama hewan juga sudah diklaim mereka?Hehe, peace…). Teman saya juga bilang laser memang berasal dari pendukung Malaysia (walaupun kayaknya supporter kita ada juga yang pake di GBK, tapi kayak takut-takut makenya jadi ga mencolok dan frekuensinya ga separah waktu di Bukit Jalil). Teman saya lalu minta pendukung Indonesia bawa bom Molotov saja waktu nonton leg II di GBK, haha…

Yang membuat saya terharu, meski sudah kalah jauh di Leg I, masyarakat Indonesia masih optimis dan tetap mendukung penuh. Begitu juga ketika Timnas menang 2-1 di Leg II namun tetap gagal juara. Tidak ada yang rusuh, tidak ada yang menghujat Timnas. Yang ada meminta ketua PSSI mundur, mencaci politisi yang numpang tenar. Saya bersyukur, pecinta sepakbola tanah air sudah bisa bersikap dewasa dan cerdas. Bagi mereka, istilah “Juara tanpa mahkota” atau “Menang tapi tidak juara” masih membanggakan. Yang penting buat mereka tim kita sudah berjuang habis-habisan, bermain sebaik mungkin. Berbuat sesuatu dengan sungguh-sungguh tapi tidak sempurna lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali atau berbuat setengah-setengah. Teriakan para fans di muka stadion GBK saat bus Timnas lewat cukup menggambarkan hal itu, “Timnas! Menang kalah, kami tetap bangga!” Saya terharu melihatnya… 

Kesedihan Pasca Kekalahan. Ya Sudahlah... (by: republika)

Runner-up Pun Tak Mengapa (By: hariansumutpos)

Intinya, penghujung tahun ini diisi dengan fenomena “Gara-Gara Bola”. Gara-gara bola, perusahaan konveksi sibuk berat sampai pegawainya sering lembur untuk memenuhi pesanan kaos Timnas yang merajarela. Gara-gara bola, tukang kaos Timnas yang di emperan sampai di gerai resmi mereguk untung besar. Gara-gara bola, penjual stiker bendera Indonesia saja bisa dapat rezeki. Gara-gara bola, headline di siaran berita tv maupun media cetak diisi oleh berita Timnas, menggeser berita politik atau kriminal yang bikin puyeng. Gara-gara bola, infotainment jadi banyak membahas Irfan Bachdim atau Christian Gonzales ketimbang Julia Perez atau Pasha Ungu. Gara-gara bola, pemain sepakbola dunia sampai menyapa Indonesia dan mengucapkan selamat, dari mulai Ryan Babel, Rio Ferdinand, sampai Cesc Fabregas (meski setelah ditelaah, ketiga orang ini memang ada kaitannya dengan Indonesia. Babel temannya Irfan Bachdim waktu di Ajax, Rio bersama MU pernah hampir melawat ke Indonesia dan pernah jadi bintang iklan provider Indonesia pake baju batik, sedangkan Fabregas belakangan sering muncul di tv jadi bintang iklan biskuit dengan tagline “Semua Bisa Jadi Macan” yang menawarkan kesempatan bermain bersama Fabregas bagi anak-anak Indonesia ^_^. Tapi tentunya yang paling berpengaruh follower mereka yang banyak berasal dari Indonesia, hehe…). Yang terpenting, gara-gara bola, bangsa Indonesia bersatu. Presiden sampai tukang sapu, anak kecil sampai kakek-kakek renta, pendukung Persija sampai Persib. Gara-gara bola, carut marut bangsa ini sejenak dilupakan. Para korban letusan Merapi, gempa Mentawai, atau banjir Wasior mungkin sesaat bisa tersenyum. Semuanya karena satu hal: bangga.

Penonton Dari Berbagai Lapisan Menyatu. Indahnya...:-)

Kalau sepanjang gelaran piala AFF lagu “Garuda di Dadaku” dari Netral atau “Dari Mata Sang Garuda”-nya Peewee Gaskin rajin wara-wiri di layar kaca, setelah Indonesia gagal jadi juara lagu “Ya Sudahlah” dari Bondan feat. Fade 2 Black yang baru kadaluwarsa beberapa waktu lalu, mencuat lagi. Lagu itu seperti hendak menghibur Timnas yang sedang bersedih. Tapi memang benar, yang sudah lewat, ya sudahlah. Mungkin kita memang belum siap jadi juara. Mungkin Tuhan menilai kepala pemain Timnas bisa tambah berat dan besar kalau jadi juara. Makanya dibuat gagal dulu biar kepalanya menciut dan sadar ada banyak faktor X yang menentukan sebuah tim layak jadi pemenang. Mungkin ini juga hukuman bagi mereka “pihak-pihak nakal” yang doyan memanfaatkan sesuatu demi kepentingan pribadi.

Turnamen sepakbola itu ada banyak. Ada di Sea Games 2011, turnamen pra-olimpiade, lalu Piala AFF 2012, dan piala Asia 2013. Minimal Sea Games 2011 tahun depan di mana kita jadi tuan rumahnya, kita bisa juara. Bahkan kalau bisa, kita HARUS juara. Dan semoga euforia nasionalisme ini tidak hanya berhenti di Bulan Desember 2010 saja. Tahun depan dan seterusnya harus berlanjut.

Selamat datang dan semangat 2011 !!!!!