MINIMARKET : SWALAYAN MINI, EFEK MAXI

Beberapa hari lalu, saya yang kelaparan membeli nasi goreng di sebuah warung makan di Cisitu bawah. Sambil nunggu si emangnya masak, saya iseng-iseng baca tabloid yang tergeletak di atas meja makan. Ho, ternyata tabloid bisnis. Saya awalnya sempat gak berminat tapi headlinenya menarik mata saya: Menjamurnya Minimarket.

Intinya, tabloid itu mengupas minimarket (terutama minimarket jaringan/franchise) yang konon makin marak berdiri di mana-mana, bahkan hingga ke pelosok. Usaha minimarket jaringan memang selintas menggiurkan. Kalau pemilihan lokasinya tepat, modal awal sebesar 400-500 jutaan bisa kembali (BEP) dalam 3 tahun (tapi ini relatiflah). Lumayan cepat kan… Namun pertumbuhan minimarket yang luar biasa ini dikabarkan sudah menggerus “peluang hidup” warung-warung kecil. Masyarakat jadi lebih banyak yang memilih belanja di minimarket ketimbang di warung. Yang mencengangkan, keberadaan minimarket yang ada di mana-mana juga dicurigai bisa mengubah kecenderungan masyarakat yang biasa belanja di swalayan besar atau supermarket.

Minimarket Jaringan Ni

Minimarket Jaringan Yang Lain

Beberapa responden di tabloid itu menyebutkan bahwa mereka lebih memilih belanja di minimarket ketimbang di warung karena lebih nyaman, harga sudah jelas (gak perlu tawar menawar), bisa pilih-pilih, ketersediaan produknya cukup lengkap, dan bahkan kadang ada beberapa produk yang harganya lebih murah. Beberapa juga mengaku kini lebih memilih belanja di minimarket ketimbang di supermarket. Alasannya beragam, ada yang karena jaraknya dari rumah relatif lebih dekat (jadi hemat ongkos, cuma tinggal jalan kaki doank), tingkat kenyamanan yang cukup setara dengan supermarket, hingga ketidakharusan memakai baju bagus kalau ke minimarket (haha, setuju setuju… Pakai piyama dan sandal jepit juga pede ke minimarket mah :-p)

Isi Minimarket, rapiiih...

Seketika saya jadi teringat 5 tahun lalu, waktu saya masih jadi pendatang baru di Bandung. Waktu itu minimarket jaringan sudah mulai muncul di mana-mana tapi masih jarang-jarang. Paling minimarket seperti itu berdiri di tepi jalan yang ramai atau di tengah pemukiman padat penduduk, misal perumahan-perumahan. Fakta ini yang membuat saya heran melihat Cisitu yang konon salah satu basis kos-kosan mahasiswa ITB terbesar waktu itu belum ada minimarketnya. Yang ada paling toko atau warung-warung. Baru sekitar tahun 2007-2008 berdiri minimarket jaringan “I” di lokasi yang sangat strategis. Sasarannya pun tepat, mahasiswa atau anak muda yang cenderung lebih senang segala sesuatu yang nyaman dan simpel.

Menurut tabloid bisnis tadi, berdirinya 1 buah minimarket bisa menyisihkan 5-7 toko kecil sekaligus. Wow… Berdirinya minimarket “I” di Cisitu sudah membuktikannya. Dalam waktu 2-3 tahun ini minimarket “I” lebih ramai, lebih laris, dan lebih populer dibandingkan toko atau warung di sekitarnya yang sudah lebih dulu ada, termasuk toko “K” yang berdiri tepat di seberangnya. Adik kos saya yang anak teknik industri dulu sempat menganalisis hal ini. Dia pernah meminta saya mengisi kuesioner yang bertema: “Kenapa Warga Cisitu Lebih Memilih Belanja di Minimarket “I” daripada Toko “K”?” Hal ini dirasanya menarik karena sebelum minimarket “I” muncul, toko “K” termasuk yang paling laris di Cisitu.

Warung Kecil Yang Tersisih

Saya juga jadi ingat kampung halaman saya, Ciamis. Lima tahun lalu, yang namanya minimarket itu masih jarang sekali. Dalam setahun terakhir, beberapa minimarket sudah muncul di sekitar rumah saya. Kurang lebih 300 m dari rumah, ada minimarket “I”, < 50 m kemudian ada minimarket “M” (ini mah minimarket lokal), dan < 50 m kemudian ada minimarket “A”. Sekitar 2 km kemudian, berdiri juga 3 minimarket yang jarak satu dengan yang lainnya juga < 50 m. Malah di daerah Ciawi saya pernah melihat 3 minimarket berjejer bagai kembar dempet (haha, bikin bingung pengunjung aja). Ini adalah bukti bahwa minimarket sudah betul-betul merambah kota kecil. Tapi bukan berarti minimarket bebas berdiri di mana saja atau selalu disambut hangat oleh warga setempat. Teman saya yang orang Garut pernah bercerita beberapa waktu lalu di desanya sempat hendak didirikan minimarket. Tapi semua batal lantaran warga desa berdemo menolak berdirinya minimarket. Mereka lebih memilih belanja di pasar atau warung yang penjualnya sesama warga sendiri. Wow, keren juga ya… Bagi mereka, ekonomi mereka adalah dari, oleh, dan untuk mereka sendiri. Hehe…

Wajar memang, keberadaan minimarket mengundang pro dan kontra. Sekilas hal ini tampak seperti indikator pertumbuhan ekonomi yang baik, tapi ternyata banyak pihak yang merasa dirugikan, terutama para pemilik toko kecil/warung dan organisasi yang menukangi mereka. Mereka merasa pertumbuhan usaha mereka dimatikan lalu mengkritik pemerintah yang kurang concern terhadap hal ini. Harusnya pertumbuhan minimarket dibatasi dan waktu operasinya juga jangan 24 jam, begitu tuntut mereka. Yah, tapi gimana ya. Kalau bergantung terus sama pemerintah, entah kapan masalahnya selesai. Ada baiknya perubahan datang dari diri sendiri dulu. Misalnya toko “K”. Meskipun sekilas tampak tersisih oleh minimarket “I”, tapi masih tetap eksis dan masih tetap jadi pilihan sejumlah mahasiswa. Hal ini karena toko “K” berusaha untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Penataan barang sudah seperti minimarket, meski tanpa keterangan harga. Mekanisme pembayaran juga sudah seperti minimarket, ada kasir dengan pemindai harga elektronik. Ruangannya juga tak kalah nyaman. Harga sangat bersaing. Dan satu yang jadi nilai plus toko “K” dibandingkan minimarket “I”: bisa menjual eceran, hehe… Mana ada pengunjung beli 2 batang rokok, setablet obat, atau 1 sachet susu di minimarket? Rata-rata barang di minimarket sudah dipaket-paket. Jadi toko “K” adalah tujuan yang tepat bagi para mahasiswa yang sedang cekak dan ingin berhemat dengan membeli produk secuil-secuil ^_^

Intinya, kalau kata orang bijak rizki itu sudah dibagi-bagi termasuk antara minimarket dengan toko kecil atau minimarket dengan supermarket. Yakinlah sudah ada pelanggannya masing-masing. Saya juga kalau lagi butuh segera gak akan bela-belain jalan ke bawah buat beli sesuatu di minimarket “I”. Di belakang kos ada warung yang lumayan lengkap. Yah ke situ aja. Cukup banyak item yang ternyata lebih murah di sini kok dibandingkan dengan di minimarket. Tapi kalau mau lebih berkompetisi, tentunya harus ada inovasi tertentu dari segi harga atau pelayanan misalnya. Atau mungkin menyediakan item-item tertentu yang tidak mungkin dijual di minimarket. Kalau warung di belakang kos sih jual nasi kuning dan gorengan tiap pagi. Lumayan laku loh… Mana ada nasi kuning dan gorengan di minimarket, betul? Hehehe…

Sure we can do…^_^