MELEPAS THOMAS DAN MENGUBER UBER

Badminton di mana-mana…
Di kota jeung di desa…

Begitu bunyi lagu yang kerap berkumandang tiap kali ada perhelatan bulutangkis yang melibatkan atlet negeri ini. Lagu yang menggambarkan penghargaan kepada cabang olahraga yang memang bisa dikatakan salah satu yang paling digemari di negeri ini. Orang kota suka, orang desa juga. Beda tipis sama sepakbolalah… Dan beda jauh sama golf atau balap mobil misalnya…

Nah, lagu itu terdengar lagi pekan lalu saat ajang Thomas dan Uber Cup digelar di Malaysia. Saya yang termasuk penggemar bulutangkis pastinya menyambut dengan hati berbunga-bunga (jiah…). Maklum, pertandingan bulutangkis kan jarang disiarkan di TV (kecuali untuk TV kabel, mungkin). Dan lagi ini perhelatan tertinggi bulutangkis beregu. Pasti seru…

Jadi ingat 2 tahun lalu, saat Thomas dan Uber Cup digelar di Jakarta. Tim Uber kita lolos ke final meski kalah oleh Cina, dan tim Thomas malah gagal di babak semifinal lantaran tersingkir oleh Korea. Saya sempat berharap ada perbaikan tahun ini. Meski kalah lagi, setidaknya jangan kalah telak, harus ada perlawanan. Ternyata… Hasilnya sama saja. Tim Uber Indonesia kalah di babak semifinal oleh CIna, dan Tim Thomas Indonesia yang di atas kertas kalah kelas sedikit dibanding Cina malah kalah telak 3-0 di babak final. Hh…:-(

Tim Thomas gagal maning gagal maning...

Greysia, ya sudahlah...

Kecewa? Iyalah… Tapi bagaimanapun perjuangan mereka harus tetap dihargai. Hanya saja ini artinya PR buat PBSI. Kok prestasinya begini-begini saja sih? Dan tadi pagi, masalah ini kembali dibahas di editorial Metro TV. Sebetulnya membahas olahraga secara umum, tapi semua berangkat dari hasil Thomas dan Uber Cup yang mengecewakan. Kinerja Menpora disinggung-singgung. Meski belum lama menjabat, tetap saja dikritik karena dinilai belum menghasilkan apa-apa. Beberapa pemirsa memberikan opininya sebagai berikut:

Atlet Indonesia kalah sih sudah biasa, kalau MENANG BARU LUAR BIASA…

Olahraga di Indonesia kurang pembinaan, terutama di daerah-daerah. Tapi regenerasi jangan cuma buat atlet, tapi juga buat pelatih. Pelatih lama yang sudah tidak berkompeten tidak perlu dipertahankan…

MENPORA yang sekarang gak fokus kerjanya, malah sibuk kampanye…

Kalau ada pertandingan negara terkorup, Indonesia baru juara!

Hehehe, lucu juga ya opini orang-orang. Opini pertama, relatiflah. Opini kedua, sepakat banget. Kemarin di Thomas Cup sempat rada aneh lihat Taufik Hidayat masih ada. Bukannya dia sudah keluar dari Pelatnas ya? Mungkin diminta masuk lagi demi membela Indonesia di Thomas Cup kali ya. Dan alasan yang paling benar, mungkin karena belum ada lagi atlet bulutangkis Indonesia yang sebaik dia. Dengan kata lain, regenerasi di bulutangkis memang tersendat. Masih ingat tahun 1999, waktu Taufik pertama kali muncul di final All England. Waktu itu seluruh dunia terhenyak. Ada seorang pebulutangkis 17 tahun yang mendadak muncul ke permukaan. Nyatanya, dia memang tumbuh jadi salah seorang atlet bulutangkis pria yang sangat hebat (sensasinya juga gak kalah hebat, hehe). Dan sekarang sudah 11 tahun berlalu, Taufik masih eksis namun tak bisa mengingkari usia. Stamina tidak sefit dulu, meski teknik masih sangat baik. Dan yang menyedihkan, penerusnya masih yang itu-itu saja.

Taufik Hidayat, takkan terganti??

Opini ketiga, waah ini mah gimana ya. Mungkin ada yang berpendapat demikian karena kegagalan di Thomas dan Uber Cup kemarin berdekatan dengan kongres partai Demokrat tak lama lagi di Bandung. Soal kampanye jor-joran, setujulah. Spanduk, baligo, hingga mobile dukungan buat Pak AM memang menguasai Bandung banget, dibandingkan Pak AU. Malah di tepi jalan yang melingkari kampus ITB, parah banget banyaknya. Wuih…

Bang AM hebring pisaaan!!!

Opini keempat, ini juga rada-rada setuju. Pas banget, semalam nonton di Metro 10, Indonesia jadi urutan pertama negara terkorup se-Asia. Di sini, Cina dan Korea yang kerap menyisihkan Indonesia di arena bulutangkis juga kalah, hehe… Bangga? Hh, yang ada juga malu…

Jadi begitulah, olahraga di Indonesia, dalam hal ini bulutangkis semakin dipertanyakan. Bisakah bertahan jadi salah satu olahraga yang mampu mengangkat nama bangsa? Seperti kata seorang pengamat, melalui olahraga, bendera Indonesia bisa berkibar di negara orang dan lagu Indonesia Raya bisa bergema di penjuru dunia. Hanya saja, kadang pemerintah kurang memberi perhatian. Ada asumsi para atlet malas berprestasi karena merasa kurang dihargai. Dulu memang sempat ada wacana, setiap atlet yang berprestasi akan diangkat menjadi PNS selepas dia pensiun. Tapi entah itu terealisasi atau tidak. Jadi ingat salah seorang pebulutangkis kita yang rela mengorbankan dirinya untuk hanya lulus SD karena ingin fokus di bulutangkis. Nyatanya dia memang jadi salah satu atlet bulutangkis yang sukses mengharumkan nama bangsa. Tapi apa yang akan ia lakukan selepas dia pensiun? Mungkin jadi pelatih. Selain itu, jika ia tak mampu lagi? Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan…

Bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, semoga ke depannya dunia olahraga di Indonesia juga bisa bangkit lagi, sehingga Piala Thomas tidak akan terlepas lagi dan Piala Uber tidak perlu kita uber-uber lagi…^_^

Bangkiiiiit...!!!

Iklan