LOYALITAS TIADA BATAS

Ada beberapa berita belakangan ini yang saya soroti lantaran membuat kening saya berkerut-kerut. Rumit betul permasalahan orang-orang. Dimulai dari KD yang terus menuai opini publik pasca mengakui hubungan spesialnya dengan pria yang selama ini diduga jadi orang ketiga penyebab keretakan rumah tangganya dengan Anang, Komjen. Susno Duadji yang semakin hot menggoyang pihak-pihak yang diklaimnya sebagai “markus”, massa Tanjung Priok yang berdarah-darah membela kompleks pemakaman leluhurnya melawan Satpol PP, hingga berita unik dan langka macam yang terjadi di Bondowoso, di mana sepasang sejoli nekad bunuh diri bersama lantaran kisah cintanya tidak direstui kedua belah keluarga. Ow ow ow… [buka ]

Aktor Tragedi Priok

KD

Susno Duadji

Itu semua adalah realita yang mencengangkan, yang membuat pikiran saya bermuara pada satu titik fokus: loyalitas alias kesetiaan. KD yang hampir terbukti tidak setia pada suaminya dulu, Susno yang katanya demi menunjukkan loyalitasnya pada negara berani menanggalkan loyalitasnya pada Kepolisian tempatnya bernaung, massa Priok yang begitu loyal pada leluhurnya, hingga pasangan sejoli nekad yang menurut saya terlalu setia satu sama lain. Hm, loyalitas rupanya tidak selalu ditempatkan dengan baik ya. Tindakan konyol hingga radikal mungkin saja dilakukan dengan berlindung pada bendera loyalitas.

Loyalitas atau kesetiaan sesungguhnya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kalau saya tanya teman-teman wanita saya, seperti apa pria idaman mereka, maka salah satu kriteria yang hampir selalu ada adalah “setia”. Kalau saya masuk ke ruang kuliah, saya melihat sekumpulan kawan saya menunjukkan kesetiaannya pada kawan segengnya dengan menempati tempat duduk yang masih kosong di dekat mereka untuk ditempati kawan segeng mereka yang belum datang. Tapi begitulah, kadang loyalitas tidak selalu pada tempatnya. Perilaku “ngegeng” yang ditunjukkan kawan-kawan saya di ruang kuliah sekilas tampak hebat, menggambarkan betapa setia kawannya mereka. Di sisi lain, ada juga yang melihat itu sebagai bentuk eksklusivisme yang mestinya dihindari. Sewaktu saya berbincang-bincang dengan seorang teman dari jurusan lain, komentarnya seperti ini:

Nempatin bangku? Masih zaman ya Ci? Yah, mungkin karena kalian kebanyakan perempuan, jadi begitu. Wajar sih, biasanya seseorang yang sudah kadung merasa nyaman dalam satu kelompok akan terus ingin bersama kelompoknya, bahkan ketika sedang kuliah. Kalau kasusnya di ruang kuliah itu memang terdiri dari beragam blok atau geng, ketika orang itu tersesat di geng lain, dia akan merasa terasing, tidak nyaman, tidak bisa berdiskusi, dsb. Makanya dia sebisa mungkin akan terus bersama kelompoknya. Jika dia datang terlambat, dia akan nitip tempat duduk pada teman segengnya. Sekilas seperti persahabatan yang indah kan Ci? Toleran, setia kawan… Sah-sah saja sebenarnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa kesetiakawanan yang mereka agung-agungkan itu sebenarnya bentuk lain dari keegoisan mereka. Jika orang pertama dari satu geng itu datang paling dulu, lalu dia duduk di depan, dia akan menempati satu baris yang di depan itu untuk kawan segengnya. Akibatnya orang lain yang ingin duduk di depan jadi terhalang dan akhirnya terpaksa duduk di belakang. Lebih parah jika teman segengnya itu datang terlambat. Itu artinya mereka sudah merebut hak teman mereka sendiri yang datang lebih dulu untuk duduk di depan. Bentuk kasarnya: “dzalim”. Padahal, apa bedanya mereka? Sama-sama mahasiswa dan sama-sama bayar SPP kan? Tidak ada yang membayar lebih untuk tempat duduk. Yang beda cuma satu: yang satu teman segeng, yang lain bukan. Cuma satu kata untuk orang seperti itu Ci: EKSKLUSIF. Dan eksklusif membuat mereka jadi tidak bisa berbaur. Itu sebetulnya penyakit Ci. Lebih parah kalau mereka malah ngeles ketika diingatkan, misalnya bilang “Lo sih ga punya geng makanya sirik.” Gila, childish banget itu! Orang yang masa mudanya seperti itu, kalau udah gedenya jadi orang partai, bisa terlalu pro sama partainya sampai-sampai merendahkan partai lain. Itu yang bikin iklim politik kita gak pernah sehat.

Mendengar komentar teman saya itu, saya tersenyum malu. Jujur, saya juga kerap seperti itu, meski tidak sering dan paling menempati bangku untuk 1 orang saja. Saya akui itu bisa jadi contoh sederhana sekaligus nyata dari kesetiaan yang berlebihan. Seperti pasangan sejoli yang bunuh diri bersama itu. Saya pikir hal seperti itu cuma ada di film. Kesetiaan atau loyalitas memang selalu terdengar sebagai kata yang bernada positif. Tapi segala sesuatu yang positif pun bisa jadi negatif jika ditempatkan dengan tidak baik atau digunakan dengan melanggar hak orang lain.

Loyalitas yang indah, mungkin bisa digambarkan oleh Hachiko, anjing Akita yang fenomenal itu. Baru-baru ini saya menonton film versi Hollywood-nya, Hachiko: A Dog’s Story. Dramatis, mengharukan, loyalitas tiada batas, tapi tetap tidak berlebihan, karena ini tentang seekor anjing (dan lagi ini berdasar kisah nyata). Anjing yang tidak punya akal, tapi punya naluri loyalitas pada tuannya yang tiada batas, sehingga ketika tuannya telah meninggal sekalipun, dia tetap setia menunggu tuannya pulang di stasiun, seperti yang biasa ia lakukan ketika tuannya masih hidup. Ia lakukan itu bertahun-tahun, hingga ia renta dan akhirnya mati. Recommended movie bagi siapa pun yang ingin lebih mengenal loyalitas yang sempurna, bukan sekedar loyalitas parsial yang rapuh…

Poster Film Hachiko

Real Hachiko

Enjoy the trailer…

Vodpod videos no longer available.

more about "Hachiko A Dog Story Movie Trailer ", posted with vodpod