EMPATI

Pekan ini saya kuliah ilmu komunikasi tentang “Mendengar dengan Empati”. Cukup menarik karena seperti salah seorang teman saya katakan di kelas, sejak kecil jarang sekali kita diajari untuk mau mendengar dengan empati. Yang melulu diajarkan pada kita adalah “speak up!”. Akibatnya orang-orang cenderung lebih senang berdebat, senang mendahului untuk bicara, menganggap opininya paling benar dan opini yang lain salah. Sebuah budaya yang seolah menyalahgunakan hak untuk berbicara…

Namun, yang ingin saya cermati di sini bukan perspektif “mendengar”-nya, tapi lebih kepada “empati”-nya. Entah kenapa kata satu ini memiliki bunyi yang terdengar enak di telinga saya, hihi… Menurut kamus besar bahasa Indonesia, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Sekilas memang terdengar melankolis, tapi empati ini rupanya jadi salah satu unsur penting dalam komunikasi. Dan konon katanya, orang Indonesia sudah cukup mahir menerapkan empati dalam kehidupannya, makanya bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah dan menyenangkan.

Tapi…iya gitu???

Saya jadi ingat cerita seorang teman. Beberapa waktu lalu, ia dibonceng salah seorang temannya mengendarai motor menyusuri jalanan di kota Bandung. Mereka berniat pergi ke sebuah mal. Di tengah jalan, motor mereka nyaris berpapasan dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan. Karena berusaha menghindar, motor terpelanting dan mereka terjatuh di tengah jalan. Untunglah pada saat itu di belakang mereka tidak ada motor maupun mobil yang tengah melaju kencang, meski lokasi kejadian ada di jalanan yang padat. Kedua teman saya itu tidak mengalami luka serius dan bisa segera bangkit. Tapi coba tebak siapa yang menolong mereka? Di antara sekian banyak pengemudi yang lewat hingga penduduk yang tinggal di sekitar sana, hanya sepasang bapak-bapak baik hati yang mau meluangkan waktunya untuk turun dari motor dan membantu kedua teman saya itu menuntun motornya yang jatuh ke pinggir jalan. Bapak-bapak itu juga menyempatkan diri untuk sejenak mengajak berbincang-bincang kedua teman saya itu, apa ada bagian tubuh yang luka, bagaimana kronologis ceritanya, hingga menasehati supaya jangan ngebut. Setelah memastikan kedua teman saya itu baik-baik saja, baru kedua bapak itu pamit pergi.

Ketika teman saya mengisahkan hal ini, saya masih ingat betul raut mukanya yang kesal. Bukan apa-apa, ia betul-betul tidak habis pikir kenapa saat kejadian itu berlangsung, orang-orang sekitar TKP begitu acuh hingga ketika ia bersama temannya tergeletak di tengah jalan, hanya ada dua orang pria paruh baya yang peduli. Ya, mungkin kejadiannya “hanya” jatuh dari motor. Mungkin juga lukanya memang tidak seberapa. Tapi ia mengaku, nyeri-nyeri di lengannya terasa semakin ngilu ketika ia menyadari pengendara lain lewat begitu saja dan orang-orang yang tinggal di sekitar situ juga hanya memandangi mereka dari tempat masing-masing. Ia merasa begitu tidak berarti dan mungkin orang-orang itu hanya akan datang apabila ia mati tergilas.

Hm, mungkin sekilas teman saya itu terlihat berlebihan. Tapi mengacu pada teori Maslow, kebutuhan manusia memang beragam dan diantaranya adalah “esteem needs” dan “social needs” di mana manusia selalu membutuhkan pengakuan terhadap keberadaannya. Bentuk pengakuan itu dapat berupa penghargaan terhadap pencapaian diri, rasa cinta terhadap kepribadian diri, hingga empati terhadap kesulitan yang dihadapi. Yang terakhir ini yang sepertinya tidak didapat teman saya dalam kecelakaan kemarin. Hh, sejenak saya sadar. Rumah saya di Ciamis terletak tepat di pinggir jalan raya dan kecelakaan lalu lintas kerap terjadi, termasuk kecelakaan ringan macam jatuh dari motor. Tapi reaksi orang-orang di sana tidak berbeda pada jenis kecelakaan apapun. Mereka segera bergerak setiap kali ada yang membutuhkan bantuan seperti itu. Bagi yang mengalami kecelakaan ringan macam jatuh dari motor, biasanya warga sana membantu menuntun motor dan membawa korban ke tepi jalan atau ke salah satu rumah warga. Korban ditenangkan dengan diberi air minum, diobati bagian tubuh yang lecet-lecet, lalu diajak ngobrol tentang kronologis kecelakaan. Setelah diajak ngobrol ngaler ngidul dan memastikan bahwa korban beserta motornya baik-baik saja, korban dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan.

Jadi begitulah, berbeda sekali ya situasi di Ciamis dan Bandung (khusus untuk TKP teman saya tadi ^_^). Sebuah kasus sederhana tapi cukup menggambarkan betapa empati sudah mulai sirna di beberapa kalangan tertentu. Mana katanya orang Indonesia yang ramah itu, yang selalu peduli pada sesamanya? Yang ada sekarang maunya sibuk sendiri. Coba seandainya empati itu diterapkan. Meski “hanya” jatuh dari motor, tentu orang-orang itu akan tergerak untuk membantu karena seolah ikut merasakan sakitnya si korban yang mungkin bukan cuma fisik, tapi juga psikis, terutama bagi teman saya yang memang baru pertama kali mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia pasti shock dan bisa saja kecelakaan kecil itu membuatnya jadi trauma.

Teringat narasi di film “Horton Hears A Who”: “A person is a person, no matter how small”. Everytime he needs help, no matter how small the trouble, give your hand…^_^

Iklan