THE BUTTERFLY EFFECT

Teringat sesuatu sewaktu membaca judul postingan kali ini?

Hehe, betul sekali. Sama persis dengan judul film fiksi ilmiah yang dibintangi Ashton Kutcher. Mengisahkan tentang seseorang yang ingin kembali ke masa lalu untuk membuat sedikit perubahan dalam dirinya karena ia percaya sedikit saja perubahan di awal hidupnya bisa mengubah perjalanan hidup selanjutnya. Yap, judul film ini memang diadaptasi dari teori “Butterfly Effect” yang menggambarkan sedikit perubahan pada kondisi awal dapat menimbulkan efek yang tidak sedikit pada sistem jangka panjang. Jika di satu momen suatu sistem diawali dengan angka 5 sementara di momen lainnya sistem itu dimulai dengan angka 5,0000000005 (yang sekilas sepertinya bisa diabaikan), akhir dari kedua sistem itu akan sangat mungkin berbeda.

The Butterfly Effect

Tapi…

Eitts, tunggu dulu. Saya sebenarnya gak bermaksud secara khusus membahas filmnya Ashton Kutcher atau teori “Butterfly Effect” itu sendiri. Itu semua mendadak terlintas di kepala sewaktu mengunjungi Taman Wisata Kupu-Kupu di daerah Cihanjuang, Cimahi. Wah, pokoknya itu pengalaman yang menyenangkan. Pertama datang, lahan parkir yang sangat luas terhampar di depan mata. Sama sekali gak imbang dengan jumlah kendaraan yang terparkir waktu itu. Mungkin karena tempat wisata ini masih terhitung baru dan pada saat itu juga bukan hari libur.

Saya sebetulnya sudah cukup lama ngacay pengen ke tempat itu. Tepatnya sejak menonton liputan tentang taman wisata ini di Trans TV. Hanya dengan tiket masuk seharga Rp. 10.000, saya sudah bisa masuk ke taman dengan minuman dingin gratis dan topi warna-warni (yang ini mah minjem deng). Kata petugas di sana, topi warna-warni sengaja disediakan untuk pengunjung agar ketika di taman, kupu-kupu akan tertarik untuk hinggap ke topi warna-warni itu.

Taman wisata ini cukup luas, antara lain terdiri dari taman kupu-kupu, food court, dan toko yang menjual beragam souvenir bertema kupu-kupu. Taman wisata ini ditata dengan cukup baik yang membuatnya enak dipandang. Hanya saja sewaktu mengunjungi taman kupu-kupu, rasanya sedikit lain dengan yang terlihat di TV. Kok di TV kayaknya luas banget ya, hehe… (mungkin ini akibat efek kamera. Yang gak gitu luas bisa jadi luas. Yang gemuk bisa jadi kurus).

Taman Kupu-Kupu, bagus kaaan...

Di taman kupu-kupu, ada beragam jenis kupu-kupu cantik. Waktu saya tanya ke petugas di sana, sudah ada sekitar 25 spesies kupu-kupu yang dipelihara di taman ini. Wuih, seru pokoknya memburu kupu-kupu yang beterbangan dan hinggap di bunga-bunga buat dipotret. Tapi yang paling seru waktu mampir ke rumah kepompong. Di situ terdapat banyak kepompong dari beragam spesies kupu-kupu. Beberapa di antaranya ada yang sudah menjelma menjadi kupu-kupu, tetapi masih melekat di cangkangnya karena sayapnya belum cukup kuat untuk terbang. Menurut petugas di sana, seekor kupu-kupu membutuhkan waktu beberapa jam pasca terbebas dari bentuk kepompongnya untuk mengokohkan sayapnya dan siap untuk terbang. Di sini juga saya berkesempatan melihat langsung kupu-kupu Sirama-rama yang bentuknya lebih besar dari kupu-kupu biasa. Wow…

Ni Kupu-Kupu Sirama-rama asli gede loh!

Melihat beragam corak sayap kupu-kupu membuat saya kembali teringat istilah “Butterfly Effect”. Hm, sayap kupu-kupu yang cantik itu, benarkah kepakannya mengandung makna yang dalam? Menurut literatur, teori “Butterfly Effect” mengacu pada suatu pemikiran bahwa sayap kupu-kupu dapat menghasilkan perubahan kecil di atmosfer yang pada akhirnya dapat meningkatkan, menunda, atau bahkan mencegah kemungkinan terjadinya badai tornado di suatu tempat. Kepakan sayap merepresentasikan perubahan kecil di kondisi awal sistem yang menyebabkan rangkaian kejadian besar. Contoh yang paling sering disebutkan yaitu kepakan sayap di Brazil dapat menimbulkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Nah, mungkinkah kepakan sayap kupu-kupu yang saya lihat di taman wisata juga bisa memberi efek yang serupa pada lokasi lain? Ckck, saya juga ndak tau…

Menatap kepakan sayap kupu-kupu. Can it be the butterfly effect?

Yang pasti, meskipun sekilas teori “Butterfly Effect” ini terdengar WOW dan agak mengerikan, bagi saya kupu-kupu tetaplah makhluk yang cantik. Melihat beraneka ragam corak dan warna di sayapnya menyadarkan saya siapa sesungguhnya seniman paling agung. Yang jelas bukan Anang Hermansyah, hehe… Tuhan memang luar biasa. Karya seni-Nya itu sukses menginspirasi banyak seniman. Coba pikir sejenak, hewan apa yang paling banyak dijadikan tema lagu? Anjing di “Who Lets The Dogs Out?” bolehlah. Atau Singa di “The Lion Sleeps Tonight”. Tapi coba tengok di Indonesia saja Melly sudah membuat 2 lagu tentang kupu-kupu (“Butterfly” dan “Kupu-Kupu”). Belum lagi lagu “Kepompong” yang ngehits itu. Wajar, karena apa yang pertama terlintas di benak orang tentang kupu-kupu adalah semua hal yang serba baik dan indah. Kupu-kupu bersahabat dengan bunga yang juga menjual keindahan. Kupu-kupu hanya beterbangan kesana kemari tanpa mengganggu manusia. Kupu-kupu adalah hewan kecil yang tidak bisa buang air sembarangan atau mencuri makanan seperti tikus, kucing, dan anjing. Kalau kepala kita ini discan, ada bagian dari otak kita yang berbentuk seperti kupu-kupu. Dan satu lagi yang paling menarik tentang kupu-kupu: dia berasal dari ulat yang mungkin dinilai menjijikan oleh manusia. Sebuah pelajaran berharga apabila kita melihat satu sosok yang mungkin seperti tidak berharga. Berhati-hatilah karena mungkin ia seperti seekor ulat yang sedang menunggu waktu untuk menjelma menjadi kupu-kupu yang indah.

Intinya, gak akan menyesallah berkunjung ke Taman Wisata Kupu-Kupu. Hanya mungkin tempat ini masih perlu promosi lebih gencar lagi biar pengunjungnya tambah rame. Buat warga Bandung, hayu atuh kapan lagi ikut melestarikan hewan mungil nan cantik itu. Para kupu-kupu sudah membuat permintaan via shoutout di salah satu papan di taman kupu-kupu yang berbunyi: Sayangi dan Jagalah Kami !!!

Enjoy the beauty!!! ^_^



Iklan

3 thoughts on “THE BUTTERFLY EFFECT

Komentar ditutup.