ROKOK, SEBUAH IRONI

Beberapa waktu lalu, saya menonton acara Apa Kabar Indonesia di TVOne dan kebetulan pada saat itu sedang membahas masalah rencana kebijakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta tentang larangan merokok bagi pemegang kartu Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK-Gakin). Hm, seketika saya jadi ingat pengalaman praktek di RSHS. Gara-gara praktek di rumah sakit, jadi tau kalau ada beberapa status pembayaran pasien. Ada Gakin, Jamkesmas, Askes, kontraktor, dan umum. Jadi biaya pengobatan tidak selalu dibebankan pada pasien, tapi bisa juga ditanggung pemerintah atau perusahaan tempat pasien bekerja.

Nah, berita terakhir, Dinkes Jakarta siap menggulirkan kebijakan tentang larangan merokok untuk pemegang kartu JPK-gakin. Alasannya, gak fair kalau pemerintah susah-susah bayar biaya kesehatan si pasien tapi pasiennya sendiri gak mau jaga kesehatan. Alasan lain, perokok dari kalangan gakin hanya menyusahkan perekonomian keluarganya. Diperkirakan 22 % pendapatan keluarga habis buat beli rokok. Hohoho…

Yah, kalau bicara soal rokok yang ada cuma ironi-ironi menyedihkan. Ketika jumlah perokok di negara maju sudah berkurang, jumlah perokok di negara berkembang seperti Indonesia malah meningkat. Yang paling serem, Reportase Trans Tv pernah melaporkan ada balita tiga tahun yang sudah terbiasa merokok! Katanya itu akibat balita itu terlalu banyak bergaul dengan orang dewasa di daerahnya. Hadoh, mau jadi apa tuh anak kalau sudah gede nanti? Menyedihkan…

Si Anak Perokok, Itu Ortunya Kemana...

Semakin banyak perokok di Indonesia, para pengusaha rokok juga makin numpuk kekayaannya. Buktinya berdasarkan sumber terpercaya, 2 pengusaha rokok di Indonesia masuk daftar 10 besar orang terkaya Indonesia tahun 2009. Perusahaan rokok menjelma jadi brand raksasa sampai-sampai konser musik hingga acara olahraga yang mengusung tema kesehatan ramai disponsori perusahaan rokok yang justru membawa penyakit. Tapi ironisnya, perusahaan rokok juga tercatat sebagai salah satu industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Hohoho… Jadi jadi jadi?

Event olahraga yang disponsori rokok, hohoho

Emang susah ya. Tapi dari bukti yang saya lihat sewaktu KP di RSHS, prevalensi pasien penderita penyakit paru-paru memang cukup tinggi. Beberapa di antara mereka ada yang saya kaji rekam mediknya dan rata-rata mereka memang perokok. Dan kebetulan lagi, pasien yang saya pantau itu rata-rata memang dari kalangan Gakin. Jadi jadi jadi?

Yah, intinya saya setuju kalau peraturan itu diberlakukan. Kalau perlu jangan cuma di Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya juga. Memang sudah muncul pro kontra di mana-mana. Dari yang saya lihat di TV, sebagian perokok dari kalangan Gakin ada yang merasa terancam dengan peraturan tersebut dan berjanji untuk berhenti, tapi ada juga yang hare-hare. Ada yang alasannya karena merokok sudah mendarah daging, ada juga yang merasa tidak perlu kartu JPK-Gakin. Katanya ngurusnya ribet (lha lantas bapak kalau sakit gimana toooo…?!).

Tapi begitulah, merokok itu sudah jadi kebiasaan. Mungkin sudah banyak orang yang tau bahaya rokok, termasuk para perokok itu sendiri. Mungkin karena itu mereka sulit berhenti meski sudah hafal kalau asap rokok itu mengandung komponen gas dan partikel berbahaya seperti karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium. Mereka tetap hare-hare dalam kenikmatan sesaat meski tau rokok tidak hanya menimbulkan penyakit paru-paru, tapi juga penyakit jantung koroner.

Ckck, menyedihkan… 😦

Jadi jadi jadi?

Yah sebelum biaya kesehatan perokok pemillik JPK Gakin dicabut, pemerintah memang sebaiknya melakukan pendekatan persuasif dulu. Mudah-mudahan perokok Gakin yang membandel itu bisa segera insyaf, amien… 😀

Terakhir, ada oleh-oleh nih tentang rokok (dan kaitannya dengan ponsel). Semoga bermanfaat!!! ^_^

Vodpod videos no longer available.

Iklan