DI BALIK PROPAGANDA LAGU ANAK-ANAK

Minggu lalu, setelah sekian lama tak bersua, akhirnya saya sambangi lagi kampus ganesha tercinta. Pangling lihat loket TU farmasi yang terdesentralisasi lebih banyak. Ruangannya aja udah kayak kantor redaksi koran Pikiran Rakyat, riweuh…

Sewaktu berjalan di selasar sepanjang labtek farmasi dan elektro, saya melewati papan yang memajang berbagai pengumuman atau kritikan yang biasa disematkan organisasi mahasiswa internal kampus. Ada satu yang mencolok mata saya. Kurang lebih isinya seperti ini:

Saya yang udah lama gak ke kampus, gak tau tim propaganda itu darimana. Tapi yang jelas, tulisan itu membawa pikiran saya langsung tertuju pada satu hal: “IDOLA CILIK”. Wuih, kenapa eh kenapa… Kebetulan sekali saat ini saya sedang cukup mengikuti acara ini. Maklum, ada anak kecil yang suaranya bikin jatuh hati. Videonya saya upload di postingan sebelum ini.

Hm, kalau boleh jujur, saya juga sebenarnya kerap terpikirkan hal itu. Dulu pas zaman saya masih kecil, lagu + acara musik anak-anak itu menjamur. Yang paling ngetop waktu itu Tralala Trilili sama Ci Luk Ba. Lagu anak-anak yang ngehits waktu itu ya sebagian sudah disebutkan di atas. Mungkin ditambah lagu-lagu Sherina kali ya. Nah sekarang lagu anak-anak meredup sama sekali. Entah karena apa, yang jelas dengan segala keterpaksaan anak-anak zaman sekarang kudu menikmati lagu-lagu orang dewasa yang justru kian marak. Jadi ingat waktu ikut acara farmasi pedesaan tahun 2008 silam di Garut. Beberapa rekan saya yang kreatif mengadakan lomba menyanyi untuk anak-anak SD. Ada di antara mereka yang menyanyikan lagu nasional tapi tebak siapa yang dimenangkan panitia? Seorang anak yang menyanyikan lagu Puspa-nya ST 12, yang memang saat itu sedang booming. Bukan karena suaranya lebih bagus, tapi karena dinilai lebih menghibur… atau lebih gaul barangkali?

Sherina nii...

Ci Luk Ba!! ^_^

Vidi Aldiano cilik, eh Joshua deng 😀

Sekilas memang miris membayangkan anak kecil seolah tidak mendapatkan haknya untuk terhibur oleh hal yang memang sewajarnya untuk anak seusia mereka. Tapi sepertinya zaman memang sudah berubah. Anak-anak zaman dulu mungkin masih awam dengan yang namanya pacaran. Sekarang, anak SD saja sudah mengenal kata putus. Yang paling parah, anak SD ada yang sudah mengenal seks! Hm, siapa yang harus disalahkan? Wuih, banyak. Orang tua, guru di sekolah, hingga publisitas media yang terlampau bebas. Salah satunya dalam bentuk karya musik itu. Lihat saja acara musik menjamur di mana-mana, dari pagi, siang, sore, hingga malam (kadang saya bingung melihat penonton di studio yang sudah hadir sejak pagi. Mereka gak sekolah? Kuliah? Atau kerja mungkin?). Belum lagi acara gosip yang muncul sepanjang hari. Jika anak-anak tidak didampingi, sudah barang tentu otaknya yang berkembang pesat akibat minum susu dengan kandungan AA, DHA, prebiotik, spingomyelin, deelel, deelel itu akan dengan cepat menyerap informasi yang ada. Lebih jauh lagi, dia bisa saja dewasa sebelum waktunya.

Nah, mungkin hal-hal seperti itu yang jadi sorotan tim propaganda lagu anak-anak. Mereka khawatir musik yang tidak layak dapat menjerumuskan anak-anak ke dalam lembah kesesatan. Dan bukti yang jelas mungkin mereka lihat lewat acara Idola Cilik itu. Saya pribadi, meski cukup menyukai acara ini, tidak memungkiri kalau kadang peserta tidak menyanyikan lagu yang semestinya. Pernah satu waktu, salah seorang peserta menyanyikan lagu Cari Pacar Lagi-nya ST12. Atau kalau misalnya sedang duet dengan bintang tamu, kadang lagunya kurang cocok. Untuk yang satu ini, memang pinter-pinternya bintang tamu juga. Jangan sampai mereka memilih lagu yang tidak sesuai dengan anak-anak yang jadi peserta dan penonton. Misalnya waktu Project Pop jadi bintang tamu, sudah semestinya mereka tidak menyanyikan lagu mereka yang “Batal Kawin”, meski sedang hits. Bayangkan jika anak-anak satu studio ikut bernyanyi, “Kawin! Kawin! Minggu depan aku kawin!”. Sama sekali gak lucu…

Pentas Idola Cilik

Meski demikian, orang-orang di balik Idola Cilik sebenarnya sudah berusaha untuk tetap menjaga acara ini tetap pada treknya sebagai acara anak-anak. Meski kontestan kerap menyanyikan lagu dewasa, tapi tetap diarahkan untuk menjadi lagu anak-anak. Misalnya lirik berbunyi “cinta” sering dihilangkan. Lagu “Terima Kasih Cinta” dari Afgan dinyanyikan menjadi “Terima Kasih Mama”. Lagu yang bertemakan cinta, meski tak ada lirik cintanya, dipersembahkan untuk mama, papa, atau sahabat. Atau pemilihan lagu dewasa yang universal, misalnya “Laskar Pelangi” dari Nidji dan “Meraih Mimpi” dari J-Rocks. Menurut saya itu semua sudah cukup baik tetapi memang kadang masih suka kecolongan juga. Selain itu, kadang kontestan seperti dipaksa untuk terlalu dalam memahami makna lagu bertemakan cinta. Tapi naluri mereka yang masih anak kecil belum bisa menerima itu semua secara utuh. Akibatnya ekspresi ketika di panggung jadi tidak maksimal.

Tapi secara keseluruhan, saya tetap menikmati acara ini. Bukan sebagai pendukung fanatik yang rela merogoh pulsa demi meng-sms idolanya, tapi hanya sekedar sebagai penikmat musik yang mengagumi kemahiran anak-anak kecil berolah vokal. Terlepas dari sistem sms yang terlalu mengedepankan komersialisme dan kadang tidak real, saya salut kepada acara yang membantu anak-anak menemukan bakatnya sejak dini. Bakat itu mahal dan kadang pemalu. Kalau tidak dikorek-korek, bisa jadi sampai dewasa tidak ketemu. Tapi kadang juga lingkungan membuat bakat itu jadi tidak berkembang. Lingkungan yang terlalu menuntut kesempurnaan di semua hal terkadang begitu jahat. Dan itulah yang dimanfaatkan oleh acara semacam Britain’s Got Talent dan America’s Got Talent, yang belakangan sedang booming (sampai-sampai konsepnya ditiru oleh 2 stasiun tv swasta Indonesia, beuh!). Coba lihat Susan Boyle yang mencuat di Britain’s Got Talent . Dia seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dan berwajah tidak cantik, tapi bersuara menggelegar dan merdu bak bintang opera. Selama ini orang-orang meremehkannya karena melihat ketidaksempurnaan fisiknya. Tapi lewat acara itu ia membuktikan kepada seluruh Britania bahwa apapun kondisi seorang manusia, sesungguhnya Tuhan sudah menganugerahinya suatu bakat dan di situlah letak pentingnya saling menghargai.

Susan Boyle @ Britain's Got Talent

Ehm, kembali ke masalah lagu anak-anak, sepertinya memang harus ada pioneer untuk mengembalikan kejayaan lagu anak-anak seperti dulu. Berkaca pada acara Inbox yang bisa disebut sebagai pioneer acara musik harian hingga menularkan kesuksesannya pada acara sejenis yang muncul kemudian, sepertinya jika dibuat acara musik anak baru dengan kemasan yang lebih baik dan sesuai untuk anak-anak masa kini, sangat mungkin lagu anak-anak kembali mencuat. Produksi lagu anak-anak memang masih minim, tapi semoga saja akan kembali bergairah seiring munculnya idola-idola cilik baru, termasuk dari beragam ajang pencarian bakat di televisi. Sebenarnya acara musik anak yang saya maksud baru-baru ini sudah muncul, namanya “Domikado”. Mudah-mudahan awet dan benar-benar mampu berperan dalam mengembangkan musik anak-anak.

Apapun itu, sebetulnya peran lingkungan terdekatlah yang paling ampuh dalam mendidik seorang anak agar tetap pada hakikatnya sebagai seorang anak. Bimbingan yang baik dari keluarga akan membuat si anak tidak rentan terhadap pengaruh buruk hal-hal di sekitarnya, baik itu musik, film, bahkan pergaulan dengan kawan-kawannya sendiri.

Edukasi Keluarga is the best!! (like this)

Hope the best for Indonesian Kids…
Viva!!!

MISSION’S ACCOMPLISHED

Huff…
Alhamdulillah…
Lega…
Pollll…

Akhirnya setelah 1,5 bulan berjibaku, selesai juga kerja praktek di RS Hasan Sadikin Bandung.
Cape? Iyalah…
Pusing? Lumayanlah…
Jenuh? Mendekati akhir, iya…
Tapi yang terpenting, apapun yang terjadi, kalau dijalani dengan enjoy mah, asyik-asyik wae. Banyak pengetahuan baru, kenalan baru, dan yang jelas pengalaman yang sulit tergantikan.

Kata orang bijak, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Termasuk dulu waktu memilih secara acak gulungan kertas yang menunjukkan tempat KP. Waktu yang keluar ternyata RSHS, sempet keder juga. Udah jatahnya cuma buat 2 orang, bayarnya paling mahal, ada juga desas-desus yang bilang kalau di RSHS KP-nya berat, pembimbingnya jutek dan pelit kasih nilai. Waaah… (nyatanya yang jutek rata-rata asisten apotekernya, hahaha). Tapi sekali lagi, gak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semuanya sudah direncanakan Tuhan dan Tuhan tidak akan memberi cobaan pada umatnya melebihi batas kemampuannya. Dan itu semua terbukti benar. Emang kita (saya dan teman KP –> Gusti) pernah dimarahin, disuruh ngerjain tugas banyak banget, tapi overall kita mampu bertahan (beuh…).

Sok-sokan baca neh

Belajar bareng anak Unpad

Banyak pengalaman baru yang didapat selama di sini, tapi yang terbaik mungkin pada saat kita kontak langsung dengan pasien. Di sini kita diberi kesempatan konseling langsung pada pasien rawat jalan dan rawat inap. Wuih, menyenangkan… Tapi tetep harus bertanggungjawab. Apalagi kemarin pasiennya polifarmasi. Sudah kena HIV, TB paru, kena candidiasis oral lagi. Ckck… Waktu masuk ke ruang rawat pasien, rasa-rasanya gimana gitu. Kayak ada rambu-rambu di mana-mana: WASPADALAH, TB BISA MENULAR LEWAT UDARA.

Di ruang rawat saat itu ada 2 orang pasien. Yang satu di bed yang dekat jendela, yang satu lagi di bed ujung dekat pintu. Mendadak jadi ingat cerita di sebuah buku yang judulnya Jendela Rumah Sakit.

Ceritanya, ada 2 orang pasien sakit keras yang dirawat di ruang yang sama. Yang satu bednya di dekat jendela, yang satu lagi di ujung yang lain. Pasien dekat jendela setiap sore harus duduk di atas bednya untuk mengosongkan cairan di paru-parunya. Sedangkan pasien satu lagi terus berbaring. Setiap hari, mereka berbincang tentang banyak hal termasuk keluarga dan pekerjaan. Setiap sore, pasien yang duduk dekat jendela menceritakan apa yang dilihatnya di luar jendela, “Di luar sana, ada taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik sedangkan anak-anak bermain dengan perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di antara bunga-bunga berwarnakan pelangi. Jauh di sana terlihat kaki langit yang mempesona. Benar-benar senja yang indah.” Maka setiap mendengar cerita pasien dekat jendela, pasien yang berbaring itu menjadi lebih tenang dan ceria karena membayangkan keindahan di luar sana. Semangat hidupnya bangkit lagi. Hingga suatu hari, pasien dekat jendela meninggal dunia. Pasien yang berbaring itu lalu minta dipindahkan ke bed dekat jendela. Perlahan ia bangun karena ingin melihat keindahan di luar jendela yang digambarkan pasien yang sudah meninggal tadi. Betapa kagetnya dia karena ternyata di luar sana hanya ada tembok kosong… Ketika ia bertanya pada perawat, ia mendapat jawaban yang mengejutkan,”Pasien yang baru meninggal tadi sebenarnya buta dan tidak bisa melihat tembok sekalipun. Apa yang ia sampaikan kepada anda mungkin karena ia ingin memberi anda semangat hidup.”

Hix… Coba bayangkan jika cerita di atas benar-benar terjadi. Miris, ironis… 😦

Ehm, kembali ke RSHS. Awalnya memang sempat dag dig dug waktu ditempatkan di rumah sakit rujukan tertinggi di Jawa Barat ini. Meski berstatus anak ITB, tetep we… Tapi nyatanya, lancar juga, he… Jadi inget masa lalu. Dulu saya lulus dari SD pinggiran kota Ciamis, terus lanjut ke SMP favorit di kota Ciamis. Awalnya sempet minder karena kudu bersaing sama anak-anak SD kota, eh nyatanya bisa-bisa aja. Terus, waktu lulus SMA di Ciamis dan lanjut ke ITB, mindernya lebih akut lagi gara-gara kudu bersaing sama anak-anak cerdas seantero Indonesia Raya. Tapi ternyata… alhamdulillah sejauh ini bisa-bisa aja (mudah-mudahan ke depannya juga, amien).

Manusia kadang memang masih sukar memilah mana yang terbaik buat dia, mana yang tidak. Ketika dihadapkan pada suatu posisi atau kejadian yang sulit, manusia kerap lebih memilih untuk mengeluh atau bersembunyi (suudzan mode on). Padahal semua itu sudah digariskan Tuhan dan sesungguhnya itulah yang terbaik untuk kita. Tapi namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa. Logika dan naluri kadang susah diajak kerja kelompok. Saya juga gitu, kadang merasa gak siap menghadapi berbagai hal yang terhampar di depan mata, terutama hal yang tampak gak nyaman untuk dilalui. (Hm, zona nyaman… Penyakit kronis manusia… Obatnya belum diformulasi khusus… Gimana ini…)

Pokoknya mah, buat RSHS (terutama IFRS), terima kasih banyaklah untuk berbagai kesempatan yang diberikan. Uang sejuta saja mungkin kurang jika dibandingkan dengan pesan hidup yang didapat.

Bersama Para IFRS

Sekarang mah yang penting relax dulu. Mari bersama-sama menonton Milan vs MU dan dukung terus anak kecil bersuara merdu di bawah ini. Enjoy it!!

Vodpod videos no longer available.

One Voice For Kids

Miris lihat nasib anak-anak yang digambarkan di TV belakangan ini. Ada yang kena penyakit langka atrisia billier, ada yang suka melukai diri sendiri sampai harus dipasung, bahkan ada yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Beberapa waktu lalu ada anak kecil yang seperti harus menanggalkan identitas bocahnya dan banting tulang mengurus ibunya yang lumpuh. Yang paling naas, ada anak jalanan yang dimutilasi sama bapak asuhnya sendiri. Ckckck…

Jika merunut ke masa lalu, mungkin sebagian dari kita jauh lebih beruntung dari mereka, bocah-bocah yang harus menderita di usia mereka yang masih dini. Kita sehat, ceria, bisa sekolah, bisa bergaul, dan bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang normal.

Bersyukur, bersyukur, bersyukur…

Hh, gak bisa ngomong apa-apa lagi. Cuma jadi ingat sebuah lagu anak-anak yang sering diputar di acara Tralala Trilili dulu. One Voice dari Billy Gilman… Hm, mungkin banyak yang sudah lupa karena itu lagu di akhir tahun 90-an, pas saya masih kanak-kanak (kalau sekarang mah kekanak-kanakan, hahaha). Yang jelas isinya meaning banget. Curhatan anak kecil. Bahwa memang tidak semua anak bisa beruntung, dan di situlah letak esensi doa dan mimpi.

Enjoy the song and hope the unlucky kids will get better life, soon…

Vodpod videos no longer available.

more about "Billy Gilman- One Voice", posted with vodpod