Funny Cats

Funny… funny…

Vodpod videos no longer available.

more about "Funny Cats", posted with vodpod

Iklan

SANG PEMIMPI DI RUMAH SAKIT HANDAP SASAK

Ehm, Sang Pemimpi…

Sampai postingan terakhir ini, film satu ini sudah diputar di seluruh bioskop Indonesia lebih dari 3 pekan. Hingga 5 Januari, Sang Pemimpi disebut-sebut sudah ditonton oleh 1,8 juta penonton. Dan saya termasuk di antaranya, hehe…

Sang Pemimpi

Hm, udah cukup lama juga sih nontonnya. Tapi masih terbayang sosok Arai. Keren banget sih tu orang. Kata Andrea Hirata, maksud Sang Pemimpi di sini pun sebenarnya merujuk pada tokoh Arai. Berani bermimpi dan berani bertindak untuk mewujudkan mimpinya itu. Arai mungkin sama luar biasanya dengan Lintang di Laskar Pelangi, tapi “happy ending” yang dibawanya membuat dia jadi sosok yang sangat inspiring.

Jujur, di antara tetralogi Laskar Pelangi, saya paling suka buku Sang Pemimpi (Maryamah Karpov blom selesai sih, hehe). Di sini kombinasi seru, sedih, dan romantisnya paaas banget. Jadi rada kecewa waktu ada beberapa adegan yang difilmkan dibuat kurang greget. Contohnya adegan Arai membawa kuda untuk Jimbron. Di buku digambarkan Jimbron yang maniak kuda begitu bahagianya hingga ia langsung membawa kudanya berlari menerobos pasar untuk menemui Nurmi (bener ga sih namanya? lupa, he…). Di depan Nurmi, ia menarik tali kekang kudanya hingga kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Itulah momen yang membuat Nurmi tersenyum dan menunjukkan betapa berpengaruhnya seorang Arai.

Si Arai Cengos

Tapi gapapa, secara keseluruhan film Sang Pemimpi tetap oke, dibanding film lain. Dan pemeran Arai kecil dan remaja cuocoook banget. Buat Rendy Ahmad, teope begete sangatlah kau boi, hehehe… Karakter kuat Arai bisa dibawakan dengan ciamik hingga sosok Arai di buku maupun di film jadi sama mengagumkannya. Tapi buat sosok Arai dewasa, ehm maaf ya, agak kurang cocok eum. Entah karena pemerannya terlalu terkenal jadi karakternya tumpang tindih atau memang kurang menjiwai peran Arai, rasa-rasanya aneh aja, hehe… Tapi itu subjektiflah. Penonton lain ada juga yang menilai bagus-bagus aja.

Ada satu statement dari Arai yang jadi simbol baik di buku maupun di film: “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Sebuah statement yang menusuk-nusuk relung tapi tidak terkesan menggurui. Dan memang harus seperti itu, apapun keadaan kita, kita tetap punya hak untuk bermimpi. Termasuk bagi mereka yang sedang sakit.

Begitulah, esensi Sang Pemimpi bisa saya lihat waktu sedang kerja praktek profesi apoteker. Tempatnya ya di situ, RSHS a.k.a Rumah Sakit Hasan Sadikin a.k.a rumah sakit handap sasak, hehe… Disebut demikian karena rumah sakit ini ada di bawah jembatan layang terpanjang di Bandung a.ka. Pasopati. Letaknya tepat di sebelah Biofarma. Buat orang Bandung atau Jabar mah, pasti hafallah.

Rumah Sakit Handap Sasak, hihiy...

Kata orang bijak, bertemu orang baru dan pelesir ke tempat baru bisa membuka wawasan. Banyak hal di luar sana yang mungkin tidak kita tahu sebelumnya. Nah itu juga yang saya rasakan waktu pertama kali bekerja di RSHS. Biarpun baru seminggu, udah lumayan banyak yang bisa dipelajari. Yang paling menarik itu waktu transit di depo klinik Teratai yang menangani pasien pengidap HIV-AIDS. Di sinilah saya melihat para pemimpi itu.

Bagi sebagian orang, penyakit HIV-AIDS mungkin masih dianggap penyakit tabu, lantaran penularannya disebabkan oleh hal-hal yang menyimpang seperti pemakaian jarum suntik secara bergantian (biasanya dilakukan pecandu narkoba) dan berganti-ganti pasangan (biasanya dilakukan oleh penyuka seks bebas). Katanya sih di daerah-daerah pedalaman gitu, kadang ada yang tidak mau menyolatkan jenazah penderita HIV-AIDS. Naudzubillah…

Di klinik Teratai itu, saya bisa melihat banyak pasien HIV-AIDS. Kalau menurut petugas di sana, RSHS sudah merawat sekitar 2000 pasien. Di antara pasien-pasien yang mau mengambil obat itu, ada yang waria, mantan pecandu, mahasiswa, suami istri, hingga pekerja kantoran. Meski beragam latar belakang, tapi satu kesan yang didapat: mereka semua terlihat sehat. Yap, penderita HIV-AIDS yang rutin minum obat memang tidak terlihat sakit meski dalam tubuh mereka bersarang virus berbahaya. Sebaliknya, bagi penderita HIV-AIDS yang tidak patuh minum obat, mereka sudah memperburuk kondisi tubuh mereka sendiri karena sistem imun mereka yang melemah memungkinkan mereka terkena infeksi opportunis.

Say no to AIDS, not to the Patient

Lalu di mana letak esensi Sang Pemimpi?

HIV-AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem imun tubuh. Di lab klinik, marker yang digunakan untuk mendeteksi HIV-AIDS adalah jumlah CD4+. Virus yang menyebabkan penyakit ini tidak bisa dibunuh, hanya bisa dihambat replikasinya dengan obat antiretroviral. Di RSHS, obat-obat antiretroviral merupakan sumbangan dari pemerintah dan diberikan gratis kepada pasien HIV-AIDS. Namun, obat-obat ini harus diminum setiap hari seumur hidup. Jika lalai minum obat, efeknya
bisa fatal. Virus-virus itu bisa kembali “aktif” dan melemahkan sistem imun tubuh.

Tapi seperti yang dipaparkan di atas, pasien HIV-AIDS yang patuh minum obat akan tampak sehat dan tetap bisa beraktivitas normal. Dan resep di balik semua itu adalah satu: mimpi. Meski tau tak akan pernah bisa menyingkirkan virus itu dari tubuhnya, mereka bermimpi untuk bisa sembuh, bisa tetap bekerja dan menafkahi keluarga, bisa bergaul dengan masyarakat. Dan karena itulah mereka disiplin minum obat, meski sesungguhnya tidak mudah minum obat setiap hari dan seumur hidup, terlebih bagi mereka yang masih muda. Tapi seperti kata Arai, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Mereka yang punya mimpi untuk hidup lebih baik di tengah kondisi mereka yang terpuruk pasti akan diberi jalan oleh Tuhan. Mereka, pasien HIV-AIDS itu, masih bisa hidup berdampingan dengan orang lain dan menjadikan diri mereka berharga karena mereka sendiri yang memupuk harapan itu.

Yah…
Begitulah…
Hh, kenapa jadi serius begini 😀

KP di RSHS masih ada 6 minggu lagi. Pastinya akan ada banyak pembelajaran yang didapat. Tapi badan kudu fit biar otak bisa tetep on. Nosokomial, jauh-jauh, hus hus…!!

Para sahabat, ayo kita tetap bermimpi…!!!
Yeach!!!

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu ^_^