KENALKAN: PEMERHATI JALANAN

Jumat 10 Februari yang lalu, saya mudik ke Ciamis. Seperti biasa, sore-sore pulang kerja, naik bus Budiman dari Cimahi menuju Tasik. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan saya selamat sampai tujuan. Keesokan paginya, saya melihat berita di tv. Di malam yang sama ketika saya mudik, bus Karunia Bakti jurusan Garut-Jakarta mengalami kecelakaan parah di Cisarua. Korban tewas mencapai 14 orang.

Dalam waktu 1-2 minggu setelahnya, kecelakaan lain terjadi dan kembali melibatkan bus. Ada bus Mira di Ngawi, bus Maju Jaya di Sumedang, dan terakhir saya dengar bus Primajasa juga mengalami kecelakaan di Purwakarta. Ada apa ini?

Bus Yang Kecelakaan Nii

Bus Yang Kecelakaan Nii

Terus terang, sebagai pengguna bus, saya miris. Konon katanya, hampir semua kecelakaan bus belakangan ini karena human error. Sopir dan kondektur lalai memperhatikan kondisi busnya, bahkan akhirnya ada yang ketahuan pake narkoba sebelum nyetir. Pemerintah sih katanya sudah mengambil tindakan tegas dengan mencabut izin beberapa PO yang bandel.

Menyaksikan maraknya kecelakaan yang melibatkan bus, semakin mengindikasikan sarana transportasi umum di Indonesia yang belum sepenuhnya mampu menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang. Kita para penumpang kan bayar ongkos supaya dilayani dengan baik dan diantarkan ke tempat tujuan dengan selamat. Kalau pengelola dan pengemudi angkutan umum tidak serius menjalankan tanggung jawabnya, mau bagaimana nasib kita?

Ingat angkutan umum, ingat macet. Bukan, bukan berarti angkutan umum itu penyebab macet. Konon, di Jakarta yang pusat kemacetan itu, porsi angkutan umum Cuma sekitar 2 %, sisanya kendaraan pribadi. Tahun 2011, jumlah kendaraan di Jakarta ada sekitar 7,34 juta unit. Dan setiap hari, ada 1.068 motor dan 216 mobil bertambah di Ibukota. (Ref: Jurnal Nasional)

Macet cet cet...

Nah… sekarang bisa ditebak kan kenapa coba bisa ada begitu banyak kendaraan pribadi? Karena eh karena angkutan umum di Indonesia dinilai kurang ok, kurang nyaman, kurang aman, dan serba kurang-kurang lainnya.

Memang, kadang saya juga kerap berpikir ideal. Coba Indonesia seperti negeri Singapura atau Korea, yang membatasi jumlah kendaraan pribadi sehingga bisa mengurangi kemacetan. Coba masyarakat Indonesia bisa sadar diri untuk tidak menjadikan kendaraan pribadi sebagai gaya hidup. Coba orang-orang Indonesia memilih sepeda atau otoped saja sebagai kendaraan pribadi (lucunya membayangkan jalanan penuh orang berotoped :-p).

Tetapi ya mau bagaimana, jadi ideal itu susah. Jumlah kendaraan pribadi bakalan susah ditekan selama bea masuk kendaraan bermotor import gak seketat di Singapura, misalnya. Mempunyai mobil atau motor pribadi kayaknya sekarang sudah jadi tradisi, obsesi, life style. Impian setiap keluarga baru rata-rata setelah punya rumah adalah punya mobil/motor. Hadiah utama beragam undian juga rata-rata mobil. Belum lagi kredit mobil/motor yang marak di mana-mana, semakin mempermudah orang mendapatkan kendaraan impiannya. Pokoknya punya kendaraan pribadi itu gaya, keren, di samping memang butuh tentunya.

Kadang saya sirik, melihat Kyoto di Jepang yang berhasil jadi kota sepeda. Hampir semua penduduk di sana memakai sepeda ke mana pun mereka pergi: ke sekolah, ke kantor, ke pasar. Jalanan di sana jadi jauuh dari yang namanya macet dan yang penting, bebas polusi ^_^. Ckck, orang Jepang itu sudah terkenal pinter, ulet, dan ternyata sehat lagi ya. Tappii… meski sekarang di Jakarta sedang digalakan Bike to Work, dan di beberapa kota besar di Indonesia sudah banyak disediakan area untuk bersepeda di jalan raya, teteeep kayaknya bakalan susah mewujudkan mimpi Jakarta/Bandung jadi Kyoto-nya Indonesia. Iklim Indonesia tuh tropis, panaaass… Gak semua orang mau mengayuh sepeda sepanjang berkilo-kilo meter di bawah sengatan matahari. Udah keringetan, gosong, dehidrasi, waa… Kecuali sepedanya dimodifikasi, jadi ada tudungnya (kayak tukang cilok atau es krim Walls), hehe…

Sepedaan di Kyoto

Lantas apa ada cara lain yang dinilai ampuh? Nah, berita terbaru, konon katanya pemerintah mau tuturut munding Singapura, yaitu menerapkan sistem ERP alias Electronic Road Pricing alias sistem jalan berbayar. Mirip-mirip tol tapi hanya diberlakukan di jalan-jalan yang rawan macet dan di jam-jam sibuk. Uniknya, cara bayarnya pake kartu prabayar (kayak pulsa hape aja) dan konon katanya mahal. Pokoke teknologinya keren, ada cctv yang bisa merekam plat no kendaraan, jadi bisa mendeteksi kendaraan mana saja yang taat aturan (sudah bayar maksudnya) atau yang main nyelonong saja. Sanksi bagi yang melanggar aturan ERP konon katanya juga berat di ongkos.

ERP di Singapura

Meski ide pemerintah itu sekilas terlihat “wow keren!”, banyak pengamat yang menilai cara itu nggak akan cukup efektif menekan angka kemacetan. ERP Cuma memberatkan masyarakat dan menguntungkan pemerintah. Banyak juga yang membandingkan kesiapan pemerintah Singapura dan Indonesia. Ya iyalah Singapura berani memasang sistem ERP, orang pengelolaan jalan raya mereka oke. Kalau kita? Ada juga jalan bolong-bolong atau proses betonisasi (istilah macam apa itu?!)-nya nggak rampung…:-/

Jadi, pendapat banyak kalangan lagi-lagi kembali ke sesuatu yang ideal. Kemacetan hanya bisa ditanggulangi dengan mengurangi jumlah kendaraan. Cara terbaik adalah dengan mengalihkan keinginan masyarakat untuk menggunakan/memiliki kendaraan pribadi melalui pelayanan yang memuaskan pada berbagai jenis media transportasi umum. Namun sayangnya, menilik berbagai kasus kecelakaan dan juga kejahatan yang melibatkan alat transportasi umum di Indonesia, hal itu masih jauh dari kenyataan. Wajar saja kalau akhirnya masyarakat kita akhirnya tetap lebih memilih memiliki kendaraan pribadi dibandingkan harus menumpang kendaraan umum yang tidak nyaman dan tidak aman. So, semuanya kembali ke pemerintah dan instansi terkait yang berwenang.

Kalau diibaratkan hukum kausatif jalanan itu begini:

Transportasi umum (fasilitas nggak ok, supir ugal-ugalan, pemerkosaan/pencopetan) –> kendaraan pribadi (ok, ber-ac) –> jumlah numpuk –> macet –> tua di jalan

Transportasi umum (fasilitas memuaskan, supir dan kondektur menerapkan 3 S: senyum, salam, sapa) –> kendaraan pribadi (nggak gitu perlu, yang sudah ada di rumah simpen di garasi saja dulu :-p) –> jumlah berkurang –> jalan lowong, lancar –> awet muda

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau pelayanan yang ok dari sarana transportasi umum itu diyakini sekali mampu menurunkan angka kemacetan. Bisa ditengok di negara lain yang bus, kereta, atau subway-nya oke, masyarakatnya banyak yang lebih nyaman naik kendaraan umum sekalipun misalnya mereka punya kendaraan pribadi. Dan sepertinya pemerintah kota Bandung sedang mencoba untuk me-renew sistem transportasi mereka menjadi lebih ok. Sejak 2011 lalu, sudah rame diberitakan rencana Bandung membangun stasiun kereta gantung dari Pasteur-PVJ-Sabuga. Konon teknologinya didatangkan dari Eropa. Diharapkan kereta gantung ini bisa sedikitnya menurunkan angka kemacetan di Pasteur yang memang lumayan tinggi, terutama di hari libur. Yah, mudah-mudahan terwujud ya. Kan lucu membayangkan ada kereta bergelantungan di langit Pasteur. Cara turunnya bebas, mau cara aman berhenti di stasiun kereta gantung berikutnya atau cara ekstrim dengan loncat pake parasut?
Silakan dipilih…^_^

Kereta gantung di Bandung, asyiiik

ATAS NAMA SEBUAH NAMA

Bismillah…

Sudah lama tidak menyentuh blog, rasanya gimanaaa gitu :-p

Dan kemunculan perdana di tahun yang baru ini, dibuka dengan tema yang unyu. The babies… And Their Name…

Saya jadi kebelet menulis ini gara-gara keponakan saya yang baru lahir 2 minggu yang lalu. Perempuan, ndut, lucu. Berhari-hari kemudian semenjak dia lahir, hampir setiap hari saya mengupdate kabar si kecil, terutama soal nama. Saya heran, kakak saya repot amat menyiapkan nama buat putrinya. Lamaaa… Butuh kontemplasi tingkat tinggi rupanya… Saya ingat pernah mengusulkan nama untuk anaknya yang pertama. Saya usul untuk memasukkan FABREGAS ke dalam nama putranya, soalnya kakak saya penggemar berat Arsenal dan Cesc Fabregas. Dan usul saya… ditolak,hix…T-T

Gambar

Kali ini untuk nama putrinya, saya tidak memberi masukan. Saya mau menghormati selera tiap orang saja. Kalau saya punya anak perempuan, saya cenderung menghindari nama yang terlalu cantik. Saya maunya nama yang anggun, elegan (kayak nama saya gitu, hoex…). Kalau kakak saya justru suka nama-nama yang manis. Jadi saya biarkan saja beliau berkreasi sendiri.

Saat tiba waktunya saya menjenguk keponakan saya, saya menemukan kakak saya rupanya banyak membaca buku yang berisi nama-nama bayi dan artinya untuk dijadikannya sumber inspirasi. Hoo, pantas lama… Saya sempat meminjam dan membaca buku tersebut. Dan… mata saya seperti baru terbuka… Apa karena saya belum punya anak, jadi selama ini menganggap enteng urusan memberi nama anak? Yang di pikiran saya selama ini, yang penting namanya keren. Arti nama itu nomor dua.

Saya kini sadar, bagi orang tua manapun, memberi nama anak itu seperti PR. Setiap orang pasti ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang baik. Maka memberi nama yang baik dan indah adalah PR yang menyenangkan sekaligus memusingkan. Orang tua yang bijak tahu bagaimana memberi nama yang baik tanpa membebani anaknya kelak. Bagaimanapun, nama adalah identitas yang akan dibawa seseorang di sepanjang hidupnya.

Gambar

Setiap orang tua punya gaya tersendiri dalam menamai anaknya. Ada yang mengunduh dari nama tokoh atau mencomot dari bahasa-bahasa di dunia. Saya punya rekan kerja bernama Megawati. Mungkin orang tuanya mendoakannya untuk menjadi orang besar seperti Megawati Soekarno Putri. Ada juga politikus Rieke Dyah Pitaloka yang menamai anaknya Sagara Kawani, yang berasal dari bahasa Sunda dan berarti lautan keberanian. Menurut penuturannya, nama anaknya diambil dari bahasa Sunda karena ia orang Sunda asli dan ingin anaknya selalu ingat tanah kelahirannya. Ckck, keren dan kreatiflah, mampu menghapus stigma penamaan Sunda yang selama ini dikenal mengulang-ulang penggalan nama pertama di akhir, ex. (punten) Adjat Sudradjat, Wawan Darmawan…:-p

Kalau ayah saya punya cara sendiri menamai anak-anaknya. Entah kenapa saya dan kedua kakak saya diberi nama dengan rumus yang sama: 19 huruf dan 9 suku kata. Tiap saya tanya alasannya kenapa, ayah saya tidak pernah memberi penjelasan yang komplit. Terawangan saya, ayah saya suka angka 9. Angka 9 adalah angka tertinggi dalam kelompok angka berdigit 1. Angka 9 dan 19 adalah angka ganjil. Angka 19 adalah bilangan prima…(loh)

Yang jelas, setelah membaca buku nama-nama bayi itu, saya merasa menemukan nama terbaik untuk keturunan kita kelak sangat mengasyikan. Dan akan sangat mendebarkan melihatnya tumbuh seiring namanya, memastikan nama yang kita berikan sesuai dengan karakternya saat itu. Saya punya teman bernama Luthfi, yang artinya lembut dalam bahasa Arab. Orang tuanya mungkin bisa berbangga hati, karena anaknya itu memang tumbuh menjadi gadis yang lembut dan baik hati. Raditya Dika, blogger/penulis terkenal itu, ternyata namanya berasal dari bahasa Jawa/Sansekerta yang artinya matahari. Orang tuanya juga mungkin sedang tersenyum bangga sekarang melihat putranya jadi sosok yang bersinar di bidangnya.

Hm, bagaimana dengan saya?

Nama tengah dan belakang saya mudah ditebak artinya. Nama depan saya ada kemungkinan diambil dari bahasa Spanyol (seriusan? Gaya pisan si papah…). Kalau digabung, dalam nama saya ada sepenggal doa yang mengharapkan saya jadi si bungsu yang bersinar dan bermanfaat. Have I been already yet? Hope so, at least for them (my parents)…;-)

Gambar

Kata pepatah, apalah arti sebuah nama. Tapi bagi setiap orang tua, memberi nama anak itu ibarat berdoa. Ketika dia dilahirkan, mungkin angan-angan setiap orang tua mulai berkecamuk. Mau jadi apa anak ini kelak? Akankah anak ini menjadi anak yang pintar, cantik, dan sukses? Begitu banyak yang diharapkan orang tua dari anaknya. Agar sang keturunan tumbuh sebagaimana yang diimpikannya, sepanjang hayatnya orang tua akan berdoa untuk anaknya. Dan sebaris nama adalah bentuk doa yang tidak terputus dari orang tua untuk anaknya.

Untuk my little niece Fauzia Alisha Anindita, kemenangan yang mulia dan sempurna, welcome to the world…:-*

Gambar

 

Your children are not your children

They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.

(Kahlil Gibran)

MENCARI ALASAN

Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima…

Yak, lima bulan sudah meninggalkan blog. Sibuk pasca mencicipi pahit manisnya dunia kerja (jiah, alasan). Tapi sekarang mencoba kembali. Menulis sedikit saja. Tangan udah kaku ni sebetulnya, harus dibiasakan lagi, he… (alasan lagi)

Ngomong-ngomong soal alasan, kadang terlintas di kepala saya, kenapa manusia senang sekali mencari alasan (kayak lagu jadulnya band Malaysia “Exist”: mencari sebab… serta mencari alasan…). Alasan sepertinya membuat manusia aman, lega, atau apapunlah itu namanya, apalagi kalau alasan itu jadi sebuah penyelamat, sebuah pengecualian. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah beralasan, tapi mungkin hanya segelintir yang bisa dijuluki “Master of Alasan” (niru kata Mario Teguh). Alasan yang logis, baik, mungkin itu biasa dan bisa diterima. Tapi alasan yang dekat dengan “bohong”, ini yang jadi masalah (kata orang, bohong itu beranak). Dalam keadaan panik atau stres, orang bahkan bisa menciptakan alasan yang mengada-ada.

Saya mengalaminya sendiri beberapa waktu lalu, saat hendak mudik ke Ciamis. Awalnya, saya berniat naik bus yang berangkat pukul 9 dari Cimahi. Saya sudah stay beberapa menit sebelumnya bersama sejumlah calon penumpang lain. Ternyata bis tidak juga datang sampai pukul 11an. Saya lalu mendapat kabar bahwa bus terjebak macet di daerah Gentong gara-gara ada truk tronton terguling. Alhasil bus baru datang jam 13.30. Total, saya terlunta-lunta menunggu > 4 jam, sendirian pula. Pas naik bus, penuh banget lagi. Dan sempat macet juga di jalan. Saya udah menduga pasti nyampenya malam. Saya jengkel, orang tua saya pasti menginterogasi saya, kenapa saya pulang telat. Dan akhirnya untuk menenangkan suasana hati, mulailah kepala saya yang mumet ini bekerja mencari alasan kenapa saya harus telat berangkat.

Alasan I
Bus ini telat gara-gara truk tronton itu terguling. Ngapain coba tuh truk harus keguling? Muatannya pasti over!

Alasan II
Truk tronton itu bikin macet karena dia terguling di daerah Gentong, daerah padat kendaraan yang lalu lalang dari dan ke arah Bandung. Coba kalau itu truk tronton ga usah lewat jalan Gentong, ga akan kayak gini kejadiannya!

Alasan III
Bus yang berangkat sebelumnya (jadwal jam 7) katanya gak telat berangkat meski tetep kejebak macet di jalan. Tapi setidaknya nyampenya gak akan kemalamanlah. Awalnya saya juga berniat berangkat pake bis jam 7, tapi ada teman yang mau ketemu di atas jam 7 jadi saya undur. Tuh kan, coba dia bisa ketemu saya sebelum jam 7, saya bisa berangkat lebih pagi dan gak harus nunggu luntang-lantung kayak gini, sampe berangkatnya kesianganlah, nyampe kamalamanlah.

Alasan IV
Sebetulnya teman saya minta ketemu di atas jam 7 karena dia abis lembur, jadi gak bisa disalahin juga. Yang rese tuh teman-teman semess saya yang nebeng nonton tv di kamar saya sampe saya gak bisa packing dan keburu ngantuk. Akhirnya baru bisa packing paginya. Tetep aja gak akan bisa ngejar bus yang jam7!

Another sample:

Find Out The Reason

Dan… begitulah. Kasus di atas mungkin sekedar contoh betapa senangnya orang mencari alasan, apalagi dalam keadaan terjepit. Alasan yang salah selalu identik dengan menyalahkan orang dan mengamankan posisi diri sendiri. Hoho…Kenapa ya…

Kayaknya obat buat nambal penyakit lagu Exist ini harus dateng dari lagu lagi. Lagu Beatles “Let It Be” mungkin… Atau jingle-nya Holcim, “Que Sera Sera, Whatever Will Be, Will Be…” Yang terjadi, biarlah terjadi. Nyari alasan cuma bikin capek sebenernya… Otak kanan dan kiri sama-sama diperas (karena memadukan bayangan pengalaman yang sudah dilewati plus reka-rekaan atau dramatisasi kreatif dari pengalaman itu). Efek positifnya ya mungkin orang yang pinter nyari alasan akan jadi manusia yang sangat kreatif :-p

Intinya sih, sebetulnya ga ada yang salah dengan yang namanya alasan kalau bisa diposisikan pada tempatnya yang benar dan wajar. Itu tergantung pilihan masing-masinglah. Tergantung situasi juga dan tergantung seberapa besar kita mau bertanggung jawab.ti
Baiklah, selamat mencari alasan!*)

*) Untuk pembaca, alasan untuk tidak membaca blog saya lagi
Untuk saya, alasan untuk menunda-nunda nulis blog lagi, haha…

GARA-GARA BOLA

Hari Minggu lalu, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke pasar pagi Gasibu. Niatnya cuma beli kerudung. Selain itu ya iseng saja, refreshing. Saya naik angkot Caheum-Ledeng. Di angkot ada banyak penumpang yang sama-sama mau ke Gasibu. Ketika tenda-tenda pedagang pasar Gasibu mulai kelihatan, salah seorang penumpang (ibu-ibu muda) berseru pada suaminya, “Pak, tuh ada kaos Timnas. Tapi no 9…” Sang suami yang duduk di sebelahnya sambil memangku putranya yang masih balita menjawab begini, “Ah, jangan Gonzales. Cari yang lain…”

Saya senyum-senyum sendiri melihatnya. Tidak heran sebetulnya karena pemandangan seperti itu sudah sering saya lihat di TV, di mana berita kaos Timnas sepakbola Indonesia laris manis dijual di berbagai daerah. Dan ketika saya menginjakkan kaki di pasar Gasibu, benar saja pedagang kaos Timnas di mana-mana dan tetap saja rame. Bukan itu saja, beberapa pengunjung juga terlihat dengan bangga berjalan-jalan di Gasibu memakai kaos atau jaket merah berlambang Garuda di dadaku itu. Saya ingat Minggu malam itu final piala AFF. Wah, pasti orang-orang sangat excited, makanya tambah rame saja yang mau beli kaos Timnas.

Penjual Kaos Timnas Di mana-mana (by: koranbola.info)

Fenomena seperti itu saya akui memang membanggakan. Sepakbola menjadi wabah. Bukan karena Piala Dunia, tapi Piala ASEAN. Bukan Timnas Brazil atau klub Barcelona, tapi Timnas Indonesia. Jadi tuan rumah di negeri sendiri memang indah. Saya sebagai penggemar bola sejak SD cuma suka MU. Saya bangga jadi fans MU… Tapi melihat Timnas sepakbola Indonesia dengan performa yang membaik seperti itu, kebanggaannya berlipat-lipat, hehe… Sebetulnya fenomena macam ini sudah sempat terjadi tahun 2007 waktu Indonesia jadi tuan rumah Piala Asia. Penampilan Timnas juga impresif waktu itu, dan sepakbola sempat mewabah di seantero Nusantara. Tapi waktu itu tidak seheboh sekarang lantaran Indonesia cepat tersingkir di babak penyisihan (maklum lawannya Korsel, Arab Saudi, getoo…).

Timnas Indonesia Nii...

Kalau sekarang, sudah 3 minggu penikmat bola dibuai penampilan Timnas yang ciamik dan terus-terusan menang. Akhirnya masyarakat dari segala lapisan mulai berduyun-duyun mencintai sepakbola, memuja Timnas. Sanjungan dari media menggila. Seperti muncul selebriti baru. Pagi-siang-sore-malam-pagi lagi-siang lagi di tv yang muncul yaa berita piala AFF, dari mulai suasana latihan, pemain Timnas yang diuber-uber fans, sampai kemenangan yang berkali-kali. Awalnya saya seneng-seneng saja, tapi lama-lama, jujur: bosan. Dan berlebihan. Dan mengkhawatirkan. Waktu saya tau Indonesia vs Malaysia di final, gak tau kenapa kok saya mendadak terlintas final PD 2010 antara Spanyol vs Belanda. Waktu itu, Spanyol kalah dulu di babak awal, tapi berhasil terus melaju sampai ke final. Sementara Belanda menang terus dari babak penyisihan, dan melenggang mulus hingga menantang Spanyol di final. Tapi ternyata konsistensi Belanda terhenti di final oleh Spanyol yang tidak sempurna. Saya sempat menerka-nerka, bisa saja Indonesia bernasib sama dengan Belanda. Antiklimaks…

Dan benar saja, malamnya semuanya terbukti…

Indonesia kalah 3-0 dari Malaysia. Saya saking gak tega nonton sampe matiin tv di tengah pertandingan lalu beralih dengar siaran pandangan mata di RRI (kata teman saya, saya kayak di masa penjajahan, haha… Tapi ini pengalaman pertama. Kalau nonton tv kan tegang, yang ini malah lucu. Penyiarnya semangat banget,“Yaa Ridwan menerima bola dengan kaki kanannya, menggocek bolanya dengan lincah, dan oohh…” Kita jadi sibuk membayangkan kejadian sebenarnya sekaligus geli mendengar penyiarnya yang seperti ngos-ngosan melaporkan jalannya pertandingan). Seusai pertandingan, ada sesi komentar dari penelepon. Saya asyik mendengarkan komentar yang beragam. Intinya banyak yang terus mendukung, banyak yang cari kambing hitam juga. Dari mulai laser, wasit yang berat sebelah, sampai politisasi Timnas yang berakibat persiapan Timnas terganggu. Terhitung sejak malam itu sampai hari berikutnya, saya mencatat “Hate Malaysia” dan “Love Indonesia” jadi salah dua dari 10 besar trending topic di twitter.

Setelah Malaysia Mencetak Gol (By: Vivanews)

Saya kemudian sempat chatting dengan teman saya yang bekerja di Malaysia yang kebetulan juga ikut nonton di Bukit Jalil. Katanya suporter Indonesia dan Malaysia sempat rusuh sebelum pertandingan gara-gara berebut tempat duduk. Saat itu terjadi adu mulut dan isi kebun binatang keluar semua katanya, haha… (saya sempat heran, memangnya orang Malay ngerti ya kalau kita bilang –maaf- anj***, mo****, dan sebagainya? Apa budaya menghujat dengan memakai nama hewan juga sudah diklaim mereka?Hehe, peace…). Teman saya juga bilang laser memang berasal dari pendukung Malaysia (walaupun kayaknya supporter kita ada juga yang pake di GBK, tapi kayak takut-takut makenya jadi ga mencolok dan frekuensinya ga separah waktu di Bukit Jalil). Teman saya lalu minta pendukung Indonesia bawa bom Molotov saja waktu nonton leg II di GBK, haha…

Yang membuat saya terharu, meski sudah kalah jauh di Leg I, masyarakat Indonesia masih optimis dan tetap mendukung penuh. Begitu juga ketika Timnas menang 2-1 di Leg II namun tetap gagal juara. Tidak ada yang rusuh, tidak ada yang menghujat Timnas. Yang ada meminta ketua PSSI mundur, mencaci politisi yang numpang tenar. Saya bersyukur, pecinta sepakbola tanah air sudah bisa bersikap dewasa dan cerdas. Bagi mereka, istilah “Juara tanpa mahkota” atau “Menang tapi tidak juara” masih membanggakan. Yang penting buat mereka tim kita sudah berjuang habis-habisan, bermain sebaik mungkin. Berbuat sesuatu dengan sungguh-sungguh tapi tidak sempurna lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali atau berbuat setengah-setengah. Teriakan para fans di muka stadion GBK saat bus Timnas lewat cukup menggambarkan hal itu, “Timnas! Menang kalah, kami tetap bangga!” Saya terharu melihatnya… 

Kesedihan Pasca Kekalahan. Ya Sudahlah... (by: republika)

Runner-up Pun Tak Mengapa (By: hariansumutpos)

Intinya, penghujung tahun ini diisi dengan fenomena “Gara-Gara Bola”. Gara-gara bola, perusahaan konveksi sibuk berat sampai pegawainya sering lembur untuk memenuhi pesanan kaos Timnas yang merajarela. Gara-gara bola, tukang kaos Timnas yang di emperan sampai di gerai resmi mereguk untung besar. Gara-gara bola, penjual stiker bendera Indonesia saja bisa dapat rezeki. Gara-gara bola, headline di siaran berita tv maupun media cetak diisi oleh berita Timnas, menggeser berita politik atau kriminal yang bikin puyeng. Gara-gara bola, infotainment jadi banyak membahas Irfan Bachdim atau Christian Gonzales ketimbang Julia Perez atau Pasha Ungu. Gara-gara bola, pemain sepakbola dunia sampai menyapa Indonesia dan mengucapkan selamat, dari mulai Ryan Babel, Rio Ferdinand, sampai Cesc Fabregas (meski setelah ditelaah, ketiga orang ini memang ada kaitannya dengan Indonesia. Babel temannya Irfan Bachdim waktu di Ajax, Rio bersama MU pernah hampir melawat ke Indonesia dan pernah jadi bintang iklan provider Indonesia pake baju batik, sedangkan Fabregas belakangan sering muncul di tv jadi bintang iklan biskuit dengan tagline “Semua Bisa Jadi Macan” yang menawarkan kesempatan bermain bersama Fabregas bagi anak-anak Indonesia ^_^. Tapi tentunya yang paling berpengaruh follower mereka yang banyak berasal dari Indonesia, hehe…). Yang terpenting, gara-gara bola, bangsa Indonesia bersatu. Presiden sampai tukang sapu, anak kecil sampai kakek-kakek renta, pendukung Persija sampai Persib. Gara-gara bola, carut marut bangsa ini sejenak dilupakan. Para korban letusan Merapi, gempa Mentawai, atau banjir Wasior mungkin sesaat bisa tersenyum. Semuanya karena satu hal: bangga.

Penonton Dari Berbagai Lapisan Menyatu. Indahnya...:-)

Kalau sepanjang gelaran piala AFF lagu “Garuda di Dadaku” dari Netral atau “Dari Mata Sang Garuda”-nya Peewee Gaskin rajin wara-wiri di layar kaca, setelah Indonesia gagal jadi juara lagu “Ya Sudahlah” dari Bondan feat. Fade 2 Black yang baru kadaluwarsa beberapa waktu lalu, mencuat lagi. Lagu itu seperti hendak menghibur Timnas yang sedang bersedih. Tapi memang benar, yang sudah lewat, ya sudahlah. Mungkin kita memang belum siap jadi juara. Mungkin Tuhan menilai kepala pemain Timnas bisa tambah berat dan besar kalau jadi juara. Makanya dibuat gagal dulu biar kepalanya menciut dan sadar ada banyak faktor X yang menentukan sebuah tim layak jadi pemenang. Mungkin ini juga hukuman bagi mereka “pihak-pihak nakal” yang doyan memanfaatkan sesuatu demi kepentingan pribadi.

Turnamen sepakbola itu ada banyak. Ada di Sea Games 2011, turnamen pra-olimpiade, lalu Piala AFF 2012, dan piala Asia 2013. Minimal Sea Games 2011 tahun depan di mana kita jadi tuan rumahnya, kita bisa juara. Bahkan kalau bisa, kita HARUS juara. Dan semoga euforia nasionalisme ini tidak hanya berhenti di Bulan Desember 2010 saja. Tahun depan dan seterusnya harus berlanjut.

Selamat datang dan semangat 2011 !!!!!

MINIMARKET : SWALAYAN MINI, EFEK MAXI

Beberapa hari lalu, saya yang kelaparan membeli nasi goreng di sebuah warung makan di Cisitu bawah. Sambil nunggu si emangnya masak, saya iseng-iseng baca tabloid yang tergeletak di atas meja makan. Ho, ternyata tabloid bisnis. Saya awalnya sempat gak berminat tapi headlinenya menarik mata saya: Menjamurnya Minimarket.

Intinya, tabloid itu mengupas minimarket (terutama minimarket jaringan/franchise) yang konon makin marak berdiri di mana-mana, bahkan hingga ke pelosok. Usaha minimarket jaringan memang selintas menggiurkan. Kalau pemilihan lokasinya tepat, modal awal sebesar 400-500 jutaan bisa kembali (BEP) dalam 3 tahun (tapi ini relatiflah). Lumayan cepat kan… Namun pertumbuhan minimarket yang luar biasa ini dikabarkan sudah menggerus “peluang hidup” warung-warung kecil. Masyarakat jadi lebih banyak yang memilih belanja di minimarket ketimbang di warung. Yang mencengangkan, keberadaan minimarket yang ada di mana-mana juga dicurigai bisa mengubah kecenderungan masyarakat yang biasa belanja di swalayan besar atau supermarket.

Minimarket Jaringan Ni

Minimarket Jaringan Yang Lain

Beberapa responden di tabloid itu menyebutkan bahwa mereka lebih memilih belanja di minimarket ketimbang di warung karena lebih nyaman, harga sudah jelas (gak perlu tawar menawar), bisa pilih-pilih, ketersediaan produknya cukup lengkap, dan bahkan kadang ada beberapa produk yang harganya lebih murah. Beberapa juga mengaku kini lebih memilih belanja di minimarket ketimbang di supermarket. Alasannya beragam, ada yang karena jaraknya dari rumah relatif lebih dekat (jadi hemat ongkos, cuma tinggal jalan kaki doank), tingkat kenyamanan yang cukup setara dengan supermarket, hingga ketidakharusan memakai baju bagus kalau ke minimarket (haha, setuju setuju… Pakai piyama dan sandal jepit juga pede ke minimarket mah :-p)

Isi Minimarket, rapiiih...

Seketika saya jadi teringat 5 tahun lalu, waktu saya masih jadi pendatang baru di Bandung. Waktu itu minimarket jaringan sudah mulai muncul di mana-mana tapi masih jarang-jarang. Paling minimarket seperti itu berdiri di tepi jalan yang ramai atau di tengah pemukiman padat penduduk, misal perumahan-perumahan. Fakta ini yang membuat saya heran melihat Cisitu yang konon salah satu basis kos-kosan mahasiswa ITB terbesar waktu itu belum ada minimarketnya. Yang ada paling toko atau warung-warung. Baru sekitar tahun 2007-2008 berdiri minimarket jaringan “I” di lokasi yang sangat strategis. Sasarannya pun tepat, mahasiswa atau anak muda yang cenderung lebih senang segala sesuatu yang nyaman dan simpel.

Menurut tabloid bisnis tadi, berdirinya 1 buah minimarket bisa menyisihkan 5-7 toko kecil sekaligus. Wow… Berdirinya minimarket “I” di Cisitu sudah membuktikannya. Dalam waktu 2-3 tahun ini minimarket “I” lebih ramai, lebih laris, dan lebih populer dibandingkan toko atau warung di sekitarnya yang sudah lebih dulu ada, termasuk toko “K” yang berdiri tepat di seberangnya. Adik kos saya yang anak teknik industri dulu sempat menganalisis hal ini. Dia pernah meminta saya mengisi kuesioner yang bertema: “Kenapa Warga Cisitu Lebih Memilih Belanja di Minimarket “I” daripada Toko “K”?” Hal ini dirasanya menarik karena sebelum minimarket “I” muncul, toko “K” termasuk yang paling laris di Cisitu.

Warung Kecil Yang Tersisih

Saya juga jadi ingat kampung halaman saya, Ciamis. Lima tahun lalu, yang namanya minimarket itu masih jarang sekali. Dalam setahun terakhir, beberapa minimarket sudah muncul di sekitar rumah saya. Kurang lebih 300 m dari rumah, ada minimarket “I”, < 50 m kemudian ada minimarket “M” (ini mah minimarket lokal), dan < 50 m kemudian ada minimarket “A”. Sekitar 2 km kemudian, berdiri juga 3 minimarket yang jarak satu dengan yang lainnya juga < 50 m. Malah di daerah Ciawi saya pernah melihat 3 minimarket berjejer bagai kembar dempet (haha, bikin bingung pengunjung aja). Ini adalah bukti bahwa minimarket sudah betul-betul merambah kota kecil. Tapi bukan berarti minimarket bebas berdiri di mana saja atau selalu disambut hangat oleh warga setempat. Teman saya yang orang Garut pernah bercerita beberapa waktu lalu di desanya sempat hendak didirikan minimarket. Tapi semua batal lantaran warga desa berdemo menolak berdirinya minimarket. Mereka lebih memilih belanja di pasar atau warung yang penjualnya sesama warga sendiri. Wow, keren juga ya… Bagi mereka, ekonomi mereka adalah dari, oleh, dan untuk mereka sendiri. Hehe…

Wajar memang, keberadaan minimarket mengundang pro dan kontra. Sekilas hal ini tampak seperti indikator pertumbuhan ekonomi yang baik, tapi ternyata banyak pihak yang merasa dirugikan, terutama para pemilik toko kecil/warung dan organisasi yang menukangi mereka. Mereka merasa pertumbuhan usaha mereka dimatikan lalu mengkritik pemerintah yang kurang concern terhadap hal ini. Harusnya pertumbuhan minimarket dibatasi dan waktu operasinya juga jangan 24 jam, begitu tuntut mereka. Yah, tapi gimana ya. Kalau bergantung terus sama pemerintah, entah kapan masalahnya selesai. Ada baiknya perubahan datang dari diri sendiri dulu. Misalnya toko “K”. Meskipun sekilas tampak tersisih oleh minimarket “I”, tapi masih tetap eksis dan masih tetap jadi pilihan sejumlah mahasiswa. Hal ini karena toko “K” berusaha untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Penataan barang sudah seperti minimarket, meski tanpa keterangan harga. Mekanisme pembayaran juga sudah seperti minimarket, ada kasir dengan pemindai harga elektronik. Ruangannya juga tak kalah nyaman. Harga sangat bersaing. Dan satu yang jadi nilai plus toko “K” dibandingkan minimarket “I”: bisa menjual eceran, hehe… Mana ada pengunjung beli 2 batang rokok, setablet obat, atau 1 sachet susu di minimarket? Rata-rata barang di minimarket sudah dipaket-paket. Jadi toko “K” adalah tujuan yang tepat bagi para mahasiswa yang sedang cekak dan ingin berhemat dengan membeli produk secuil-secuil ^_^

Intinya, kalau kata orang bijak rizki itu sudah dibagi-bagi termasuk antara minimarket dengan toko kecil atau minimarket dengan supermarket. Yakinlah sudah ada pelanggannya masing-masing. Saya juga kalau lagi butuh segera gak akan bela-belain jalan ke bawah buat beli sesuatu di minimarket “I”. Di belakang kos ada warung yang lumayan lengkap. Yah ke situ aja. Cukup banyak item yang ternyata lebih murah di sini kok dibandingkan dengan di minimarket. Tapi kalau mau lebih berkompetisi, tentunya harus ada inovasi tertentu dari segi harga atau pelayanan misalnya. Atau mungkin menyediakan item-item tertentu yang tidak mungkin dijual di minimarket. Kalau warung di belakang kos sih jual nasi kuning dan gorengan tiap pagi. Lumayan laku loh… Mana ada nasi kuning dan gorengan di minimarket, betul? Hehehe…

Sure we can do…^_^

PASAR SENI (PASAR SEhari Nyapein hatI) ITB 2010

Empat hari pasca pelantikan apoteker, ada even besar lain di (eks) kampus saya tersayang, ITB. Namanya Pasar Seni ITB 2010. Dilangsungkan pada tanggal 10 bulan 10 tahun (20)10 di jalan Ganesha 10 selama 10 jam (dan mungkin memberi efek 10 kali lipat meramaikan Bandung). Ini even cuma sehari tapi persiapannya ribet luar biasa. Sejak Jumat jalan Ganesha ditutup membuat rute angkot Sadang Serang-Caringin dan Panghegar-Dipati Ukur jadi harus memutar. Maklum even ini cuma ada 4 tahun sekali dan menyedot lokasi hampir di sepanjang jalan Ganesha dan separuh kampus ITB. Ini even super yang disponsori banyak perusahaan ternama seperti Pertamina hingga TVOne. Konon ini pasar seni terbesar se-Asia Tenggara.

Empat tahun lalu, saya sempat datang ke Pasar Seni ITB 2006. Waktu itu masih berstatus mahasiswi S1. Inget banget ramenya, desak-desakannya, tapi barang-barang seni yang dipajangnya sendiri gak inget, huhu… Sempat males datang lagi da tau pasti bakalan rame lagi. Tapi berhubung sekarang sudah berstatus lulusan baru yang masih menganggur (hehehe) dan masiih punya kesempatan untuk berada di Bandung, gapapalah datang lagi. Kapan lagi coba… Kalau nanti dapat kerja di luar Bandung mah pasti susah ikut even model begini.

Dan ternyata…
Eng ing eng…

Kemarin datang jam 9 aja udah rame luar biasa. Janjian sama temen eh dia bilang kejebak macet di Balubur. Gerbang belakang ditutup tapi akhirnya jebol juga setelah puluhan orang mendesak panitia dan satpam, hehehe. Setelah masuk kampus, wuiih lautan manusia ini mah (jadi inget hari itu Indra Bekti nikah. Tapi yakin tamu-tamunya gak sebanyak di sini). Ada banyak stand yang berjejer memajang benda-benda seni yang dijual dengan harga beragam. Khusus di sebelah Labtek informatika dan elektro, berjejer stand-stand makanan, dari mulai stand penjual hotdog, baso goreng, iga bakar, mi kocok, sampai sosis panggang. Jujur ngiler. Tapi penuh banget dan harganya banyak yang berlebihan, huhu (masa gorengan aja 5000-an per 2 biji. Emang berapa si ongkos bikin stand di sini?). Akhirnya karena haus dan kepanasan, beli minuman aja sementara teman saya beli setusuk sosis.

@ Gerbang Depan

Rameee...

Sebetulnya saya bawa kamera tapi ternyata baterainya tinggal dikit lagi dan cuma sempat foto-foto beberapa objek aja. Keburu mati… Ada beberapa stand atau objek yang menarik perhatian saya. Misalnya stand NATO ART yang menyajikan patung-patung yang terbuat dari kayu jati. Bagus bener… Di gerbang depan, ada patung gede yang lagi nungging, mengingatkan saya sama tokoh mainan anjing di Toy Story yang badannya terbelah dua dan terhubung dengan pegas. Ada juga sisa-sisa patung 3 Mojang yang dulu kokoh berdiri di Bekasi dan katanya dirobohkan secara paksa karena desakan sejumlah Ormas Islam. Kisahnya tergambar di 2 buah spanduk yang terpajang di dekatnya. Orang-orang di belakang saya banyak berkomentar, “Sayang banget sih padahal bagus patungnya. Kenapa sih harus dirobohkan? Gak adil…” Hm, kalau masalah bagusnya sih saya setuju. Dan memang agak sayang dirobohkan begitu saja. Tapi kalau boleh menebak, kayaknya masalah ada pada pakaian ketiga mojang yang cenderung seksi, model kemben gitu. Teman saya berkomentar, “Kalau patung 3 mojangnya pake kebaya, mungkin gak akan didemo…” (Hehe, sepakat)

Nato Art dari Kayu Jati, kereeeen!!

Spanduk Debus di Gerbang Depan

Di sisi lain, ada stand TVOne yang menarik perhatian banyak orang karena membuka tawaran jadi reporter dadakan untuk melaporkan situasi pasar seni. TVOne memang jadi salah satu sponsor, di samping beberapa media lain seperti radio Ardan dan Media Indonesia (akhirnya “TVOne” dan “Media Indonesia” akur di Pasar Seni. Peace…). Tapi emang dasar ini acara gede-gedean. Yang meliput tuh dari berbagai media. Sempat lihat dari RCTI sama Trans (ada mbak-mbak wartawan Trans yang kerja sambil bawa-bawa anaknya. Maksudnya mungkin biar sekalian jalan-jalan. Tapi kayaknya anaknya bête tuh. Capek dan pusing kali liat lautan manusia, hehe).

Intinya, pasar seni ini memang mengagumkan. Tapi efeknya itu loh: nyapeiN hatI alias bikin cape hate. Pengunjung membludak dan kita harus jalan dengan langkah pendek-pendek saking padatnya. Jalanan macet parah dari mulai Tamansari Unisba sampai Sumur Bandung. Saya ngalamin sendiri karena sehabis dari pasar seni saya ke pasar baru dan jalan pulang harus lewat Tamansari. Selain itu, selama di pasar seni sinyal hp untuk operator tertentu nyaris tidak ada. Sms atau telepon gak bisa atau gak terkirim. Janjian sama teman saja susah. Saya sempet berpikir jangan-jangan lantaran terlalu banyak orang jadi pesan yang dikirim susah sampai. Halangan steriknya besar jadi nyangkut di mana-mana, hahaha (konyol). Tapi isu yang beredar, sinyal hp sengaja ditiadakan supaya pengunjung pasar seni fokus menikmati pasar seni (??). Ah masa iyah sih…

Efek yang mencengangkan lainnya, saya yang kemarin juga sempat ke Ciwalk melihat Ciwalk dan daerah Cihampelas sekitarnya yang biasanya rame ketika weekend jadi cenderung lebih lengang. Jadi curiga orang-orang Jakarta yang biasanya ke Cihampelas pindah haluan sementara ke Pasar Seni. Wuih…

Tapi dari hati yang paling dalam, saya selaku alumni ITB mengaku bangga (eks) kampus saya itu mampu mengadakan acara semacam ini. Acara besar yang mampu menyedot ribuan pasang mata untuk datang menyaksikan keindahan yang disajikan. Salut!!

Semoga 4 tahun ke depan, Pasar Seni ITB 2014 akan lebih baik, lebih meriah, dan lebih tertib lagi…^_^

FINISH…

It’s a long long journey
Till I know where I’m supposed to be
It’s a long long journey
And I don’t know if I can believe
When shadows fall and block my eyes
I am lost and know that I must hide
It’s a long long journey
Till I find my way home to you
(Angela Zhang-Journey)

Akhirnya…
Alhamdulillah…
SELESAIIII!!!

Satu bukit terjal sudah terlalui. Momen yang konon paling mengerikan yang pernah terbayangkan sudah lewat. Finish…

Hm, benar kata orang bijak. Kalau kita ingin melihat pelangi, kita harus sabar menunggu hujan reda, sederas apapun itu. Dan salah satu hujan paling deras yang pernah saya lihat sepanjang hidup yah ujian apoteker ini. Gila-gilaan, kata The Changcuters. Saking derasnya, beberapa teman saya ada yang seperti kena hujan batu, lalu terjungkal (semangat teman!!). Saya sendiri mesti bersyukur karena masih merasakan hujan air, meski sudah sangat basah kuyup. Gara-gara ini juga jadi absen bikin blog sampai berbulan-bulan. Oh, tidak…

Stress!!!

Tapi sekarang legaaaa… Plooong…
Saya sudah kering sekarang. Karena matahari muncul lagi. Karena pelangi sudah melengkung dengan indahnya. Tahun ini menjadi salah satu Ramadhan terindah. Dan pastinya Lebaran terwaaah…

Yeach!!!

Tanpa mengurangi rasa syukur karena sudah berhasil menambah panjang nama (Cuma 3 huruf doang juga), berbagai permenungan berkecamuk. Betapa sulit saya menjadi apoteker. Akankah saya mendapat hal yang setimpal dengan apa yang saya perjuangkan?

Gerbang sekolah formal sudah tertutup, entah selamanya atau sementara. Namun sekolah kehidupan selalu terbuka, dan itu tempat saya belajar nanti. Semoga segera cepat dapat kerja, gak enak juga berstatus pengangguran meski baru sekejap ^_^

Seperti kata Angela Zhang, ini adalah perjalanan yang sangat panjang. Lima tahun di ITB tidak mudah. Susah dan senang seperti sedang main petak umpet dengan kita. Kadang mereka ketemu kadang enggak. Kadang kita tiba-tiba merasa tersesat, kadang kita merasa putus asa dan tidak percaya dengan diri sendiri.

Tapi sekarang semua sudah selesai dan saatnya menata diri untuk menghadapi tantangan yang lebih hebat ke depannya. Jika kita sudah pernah merasakan ujian hidup yang membabi buta seperti ini, ujian hidup sejenis atau lebih hebat lagi mestinya sudah siap. Betul?

Setelah Pelantikan Bersama Keluarga. What's next?

Whoa, mendadak jadi bijak begini. Imbas dari penindasan yang tak henti-henti selama 3 tahap itu. Pfiuh…

Finish…
Bye, The Incredible School of Pharmacy ITB…
And welcome, The Everlasting School of Life… ^_^

  • Luciana Tri Handayani, S.Si., Apt.
  • SENANG-SENANG SESAAT

    Huff, KP di BBPOM selesai juga…
    Alhamdulillah…
    Tapi…
    Astaghfirullah…
    Ujian sebentar lagi. wuaa!!

    Tapi sudahlah. Mari rehat sejenak dengan melihat betapa banyak penemuan di dunia yang luar biasa hebat. Teknologi sudah semakin canggih, manusia sudah semakin kreatif. Ini buktinya…

    Rumah Toilet

    Komputer Transparan

    hands-free-phone

    ATM Yummy

    Sepatu Serba Guna

    Kloset Gembira

    Manusia semakin cerdas, semakin unik, dan semakin menipu…

    SO (K) SIBUK…

    Berminggu-minggu gak ngisi blog. Hh… Ternyata KP di BBPOM lumayan bikin capek. Dan memang kebetulan ditempatkan di bidang yang membuat kehadiran kami para mahasiswa PKL disambut dengan gegap gempita disertai setumpuk pekerjaan yang sebetulnya menyenangkan tapi kadang menguras energi juga. Pergi pagi pulang sore, dan malamnya biasanya sulit menahan diri untuk terlelap cepat. Hanya weekend yang bisa dijadikan waktu untuk persiapan ujian paling horor sejagad Agustus nanti. Tapi itu pun kadang tidak maksimal. Maunya istirahat, senang-senang, mumpung liburan. Hh, Tuhan…

    Ada benarnya juga kata Lenka. Yang namanya masalah itu bagian dari diri kita. Masalah adalah teman kita karena kadang dalam diri kita sendirilah sumber masalah itu.

    Semangat, bagi siapapun yang akan menghadapi kesukaran jenis apapun, termasuk saya, hix…

    more about "Trouble Is A Friend", posted with vodpod

    MELEPAS THOMAS DAN MENGUBER UBER

    Badminton di mana-mana…
    Di kota jeung di desa…

    Begitu bunyi lagu yang kerap berkumandang tiap kali ada perhelatan bulutangkis yang melibatkan atlet negeri ini. Lagu yang menggambarkan penghargaan kepada cabang olahraga yang memang bisa dikatakan salah satu yang paling digemari di negeri ini. Orang kota suka, orang desa juga. Beda tipis sama sepakbolalah… Dan beda jauh sama golf atau balap mobil misalnya…

    Nah, lagu itu terdengar lagi pekan lalu saat ajang Thomas dan Uber Cup digelar di Malaysia. Saya yang termasuk penggemar bulutangkis pastinya menyambut dengan hati berbunga-bunga (jiah…). Maklum, pertandingan bulutangkis kan jarang disiarkan di TV (kecuali untuk TV kabel, mungkin). Dan lagi ini perhelatan tertinggi bulutangkis beregu. Pasti seru…

    Jadi ingat 2 tahun lalu, saat Thomas dan Uber Cup digelar di Jakarta. Tim Uber kita lolos ke final meski kalah oleh Cina, dan tim Thomas malah gagal di babak semifinal lantaran tersingkir oleh Korea. Saya sempat berharap ada perbaikan tahun ini. Meski kalah lagi, setidaknya jangan kalah telak, harus ada perlawanan. Ternyata… Hasilnya sama saja. Tim Uber Indonesia kalah di babak semifinal oleh CIna, dan Tim Thomas Indonesia yang di atas kertas kalah kelas sedikit dibanding Cina malah kalah telak 3-0 di babak final. Hh…:-(

    Tim Thomas gagal maning gagal maning...

    Greysia, ya sudahlah...

    Kecewa? Iyalah… Tapi bagaimanapun perjuangan mereka harus tetap dihargai. Hanya saja ini artinya PR buat PBSI. Kok prestasinya begini-begini saja sih? Dan tadi pagi, masalah ini kembali dibahas di editorial Metro TV. Sebetulnya membahas olahraga secara umum, tapi semua berangkat dari hasil Thomas dan Uber Cup yang mengecewakan. Kinerja Menpora disinggung-singgung. Meski belum lama menjabat, tetap saja dikritik karena dinilai belum menghasilkan apa-apa. Beberapa pemirsa memberikan opininya sebagai berikut:

    Atlet Indonesia kalah sih sudah biasa, kalau MENANG BARU LUAR BIASA…

    Olahraga di Indonesia kurang pembinaan, terutama di daerah-daerah. Tapi regenerasi jangan cuma buat atlet, tapi juga buat pelatih. Pelatih lama yang sudah tidak berkompeten tidak perlu dipertahankan…

    MENPORA yang sekarang gak fokus kerjanya, malah sibuk kampanye…

    Kalau ada pertandingan negara terkorup, Indonesia baru juara!

    Hehehe, lucu juga ya opini orang-orang. Opini pertama, relatiflah. Opini kedua, sepakat banget. Kemarin di Thomas Cup sempat rada aneh lihat Taufik Hidayat masih ada. Bukannya dia sudah keluar dari Pelatnas ya? Mungkin diminta masuk lagi demi membela Indonesia di Thomas Cup kali ya. Dan alasan yang paling benar, mungkin karena belum ada lagi atlet bulutangkis Indonesia yang sebaik dia. Dengan kata lain, regenerasi di bulutangkis memang tersendat. Masih ingat tahun 1999, waktu Taufik pertama kali muncul di final All England. Waktu itu seluruh dunia terhenyak. Ada seorang pebulutangkis 17 tahun yang mendadak muncul ke permukaan. Nyatanya, dia memang tumbuh jadi salah seorang atlet bulutangkis pria yang sangat hebat (sensasinya juga gak kalah hebat, hehe). Dan sekarang sudah 11 tahun berlalu, Taufik masih eksis namun tak bisa mengingkari usia. Stamina tidak sefit dulu, meski teknik masih sangat baik. Dan yang menyedihkan, penerusnya masih yang itu-itu saja.

    Taufik Hidayat, takkan terganti??

    Opini ketiga, waah ini mah gimana ya. Mungkin ada yang berpendapat demikian karena kegagalan di Thomas dan Uber Cup kemarin berdekatan dengan kongres partai Demokrat tak lama lagi di Bandung. Soal kampanye jor-joran, setujulah. Spanduk, baligo, hingga mobile dukungan buat Pak AM memang menguasai Bandung banget, dibandingkan Pak AU. Malah di tepi jalan yang melingkari kampus ITB, parah banget banyaknya. Wuih…

    Bang AM hebring pisaaan!!!

    Opini keempat, ini juga rada-rada setuju. Pas banget, semalam nonton di Metro 10, Indonesia jadi urutan pertama negara terkorup se-Asia. Di sini, Cina dan Korea yang kerap menyisihkan Indonesia di arena bulutangkis juga kalah, hehe… Bangga? Hh, yang ada juga malu…

    Jadi begitulah, olahraga di Indonesia, dalam hal ini bulutangkis semakin dipertanyakan. Bisakah bertahan jadi salah satu olahraga yang mampu mengangkat nama bangsa? Seperti kata seorang pengamat, melalui olahraga, bendera Indonesia bisa berkibar di negara orang dan lagu Indonesia Raya bisa bergema di penjuru dunia. Hanya saja, kadang pemerintah kurang memberi perhatian. Ada asumsi para atlet malas berprestasi karena merasa kurang dihargai. Dulu memang sempat ada wacana, setiap atlet yang berprestasi akan diangkat menjadi PNS selepas dia pensiun. Tapi entah itu terealisasi atau tidak. Jadi ingat salah seorang pebulutangkis kita yang rela mengorbankan dirinya untuk hanya lulus SD karena ingin fokus di bulutangkis. Nyatanya dia memang jadi salah satu atlet bulutangkis yang sukses mengharumkan nama bangsa. Tapi apa yang akan ia lakukan selepas dia pensiun? Mungkin jadi pelatih. Selain itu, jika ia tak mampu lagi? Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan…

    Bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, semoga ke depannya dunia olahraga di Indonesia juga bisa bangkit lagi, sehingga Piala Thomas tidak akan terlepas lagi dan Piala Uber tidak perlu kita uber-uber lagi…^_^

    Bangkiiiiit...!!!